WWC - 8

2.8K 339 28
                                        


K

yna berjalan sambil mengeluh, "Capek... Abram gue mau istirahat please..."

Abram yang masih semangat hanya membalas keluhan Kyna, "Katanya mau jadi VP, kalau begini doang ngeluh, gimana mau handle anak perusahaan segitu banyak?"

Kyna menjawab Abram dengan berteriak karena jarak mereka yang cukup jauh, "Gue gini karena lo eksis di keluarga gue. Coba lo nggak jadi anak emas Papa, ya gue nggak bakal capek-capek kayak gini."

Abram menghentikan langkah dan berbalik badan. "Hard work is paid off. Lo pernah denger kata-kata itu sebelumnya?" tanya Abram.

Kyna mengangkat wajah dan melihat keseriusan ucapan Abram. Ia lalu menjawab, "Gue terlalu peduli dengan kata-kata itu makanya sekarang gue ada di sini, Zachary Tehandradja."

"Ya sudah, lo stop mengeluh. Finish what you have started it. Clear."

"Bedakan mengeluh dan kelelahan, bego!" kata Kyna dengan sinis.

"Nggak ada bedanya, bego," balas Abram tak kalah sinis.

Kyna merutuki dirinya karena Abram rupanya berani melawannya kali ini. Sial! Dia berani ngejawab gue sekarang.

"Kenapa tatapan lo buram begitu sama gue?" Abram bertanya karena Kyna menatapnya seolah-olah ikan yang siap disantap.

Kyna menjawab, "Lo tanya aja sama diri lo sendiri!" Menabrakkan lengannya pada tubuh Abram dan menyindir, "Minggir lo! Gue mau cari minuman dingin. Mau mendinginkan hati gue yang super panas siang hari ini..."

Abram menahan tubuh —perut Kyna dengan tangan kanannya. "You're not going anywhere unless you're with me. I'm not allowing you!"

"Lo siapa berani-beraninya merintah gue?!" Kyna bertanya dengan berani.

Abram memindahkan tubuh Kyna dan mensejajarkan dengan tubuhnya. Mereka saling berhadap-hadapan sekarang. Selanjutnya pria itu berkata dengan serius, "Gue ke sini sama lo and of course gue yang bertanggung jawab sama lo. Plus bokap lo sudah meng-a-ma-nat-kan lo ke gue. Sesimpel itu peran gue. So, jangan mengkhayal yang terlalu jauh lo mau melakukan abcd sampai z. We're in the middle of nowhere. Lo ikut apa kata gue dan stop mencari cara untuk membantah gue. Paham?"

Kyna menyipitkan matanya lalu mendebat Abram, "Lo lagi berusaha take responsibility sama gue? Iya?" menaikkan sebelah alisnya, "Cause if it's true, lo salah orang. Gue kenal bokap gue. Dan dia nggak mungkin tiba-tiba minta lo tanggung jawab sama gue," tertawa renyah, "It's impossible, boy."

"Kalau lo nggak percaya, lo telepon Pak Damara sekarang."

"Kalau gue nggak mau?" Kyna berkata dengan nada mengejek.

"Then I'll do it," Abram mengeluarkan telepon seluluernya dan mulai mencari nama Hardjanto Damara. Pria itu akan menghubungi orang tua angkatnya tersebut.

Kyna yang mengetahui hal tesebut dengan spontan mencoba merebut telepon seluler yang sedang Abram pegang. "Lo apaan sih! Tehandradja, stop it! You're too childish."

"Lo yang kekanak-kanakan," sahut Abram sambil menghindari tangan Kyna. Ia coba menyembunyikan telepon seluler yang ia pegang di balik punggungnya. "Lo nggak bakal bisa ambil handphone gue. Tenaga lo terlalu kecil," ejek Abram.

Kyna yang kesal pun tidal kehabisan akal. Ia kemudian mendorong tubuh Abram sekuat tenaga hingga telepon seluler pria itu terlempar. Tidak hanya itu, akibat tingkah konyol dan beraninya, ia membuat Abram tersungkur ke tanah. Namun sialnya, tarikan tangan Abram justru membuatnya jatuh ke tubuh pria itu. Sial! Bodoh banget sih lo, Kyna! Rutuknya.

When Women Commanded (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang