WWC - 5

3K 343 16
                                        

Dalam perjalanan pulang dari kantor, Kyna bertanya pada Abram, "Lo nggak bosen jadi supir gue tiap hari?"

Abram menjawab, "Nggak, kan searah. Biasanya juga gue nyetir sendiri. Kalau ada lo kan malah enak, ada yang nemenin. Jadi, nggak sepi."

Kyna mengecilkan suara audio mobil dengan berkata, "Kalau gue jadi lo pasti bakal protes sama Papa."

"Protes? Kenapa?"

"Capek Tehandradja. Ya masa gue terus yang nyetir. Sesekali gue mau dong jadi penumpang biar bisa tidur," jelas Kyna.

Abram menimpali, "Kalau gue satu mobil sama laki-laki mah gue mungkin bakal switch position. Tapi ini masalahnya gue sama perempuan. Masa iya gue tega? Lagipula, namanya laki-laki harus bertanggung jawab sama perempuan. Kalau masalah sepele kayak gini aja ngeluh dan protes, nggak usah jadi laki."

"Hmm..." Kyna bergumam.

"Kenapa?" tanya Abram.

Kyna memperbaiki duduknya dan berkata, "Nggak apa-apa. Apa yang lo utarakan tadi terkesan sexist nggak sih? Atau gimana?"

"Nope. Itu nggak sexist sama sekali. Menurut gue, itu berhubungan dengan peran dan tanggung jawab aja. Sebagai laki-laki, gue sadar kalau tugas gue itu lebih kompleks. Gue harus mengayomi dan melindungi perempuan. Malah, kalau gue nggak melakukan itu, sepertinya harga diri gue terinjak-injak. Kayak nggak becus aja jadi laki."

"Berarti nilai-nilai seperti itu penting menurut lo?" Kyna bertanya untuk memastikan.

"Penting dong. Apalagi gue udah didik bertanggung jawab dari kecil."

"Didikan bokap gue?" tanya Kyna lagi.

"Yap!" jawab Abram bersemangat. "Pak Hardjanto selalu bilang ke gue kalau laki-laki itu harus berada di garis depan, harus bertanggung jawab dengan apa yang diucapkan dan dilakukan, harus menepati janji yang telah ia buat, dan yang terpenting adalah harus menghargai perempuan."

"I just knew... He taught us in a different way. I mean, my father."

"He's a good man. I'm so lucky to call him 'dad'." Melirik Kyna. "Sorry, bukan maksud gue-"

Kyna minimpali dan bertanya, "Okay, nevermind. Anyway, Don't you miss your parents?"

Abram menjawab, "I always miss them. Every single day. Tapi, semua hal yang terjadi di hidup gue sudah takdir Tuhan. So, it's okay. Lagipula, gue sudah punya keluarga baru yang sayang sama gue. Untuk sekarang, hal itu lebih dari cukup." Tersenyum. "As a family, I'm curious as well, do you still hate me?" Abram menanyakan hal yang sebaliknya.

Kyna tertawa renyah dan menjawab, "Masih dong. Enak aja. Gue ajak lo ngobrol gini nggak ada sangkut pautnya dengan gue benci lo apa nggak."

"Oooh... gitu. Thank you ya. Akhirnya gue punya hater yang terang-terangan benci gue," balas Abram sambil tertawa.

Kyna memincingkan mata. Wanita itu menatap Abram tajam sambil berkata, "Merasa punya banyak pecinta rupanya."

"Gue nggak bilang seperti itu," sahut Abram. "Tapi tunggu, sebelumnya kita akur-akur aja, kan? Maksud gue, kita mulai nggak akur semenjak gue jadian sama Gika."

"Sotoy?!"

"Gue bukannya sok tau. Gue ngomong apa adanya dan itu bener, kan? Soalnya itu yang gue rasain. Ya kalau semisal apa yang gue ungkapkan keliru, coba deh lo kasih tau salah gue dimana? Karena sepertinya problem kita ini sudah bertahun-tahun. Gue cuma merasa kalau kondisi seperti ini nggak nyaman buat kita. Apalagi kita tinggal serumah."

When Women Commanded (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang