WWC - 3

3.3K 396 8
                                        

Kyna baru saja akan masuk ke dalam kamar. Saat ia akan menutup pintu, tiba-tiba Abram datang dan menahannya. "We need to talk," kata pria itu.

"Gue capek. Besok aja," sahut Kyna.

"Please..." mohon Abram.

Kyna menghela nafas. "Oke. To the point, lo mau apa?"

Abram melangkahkan kaki ke dalam kamar Kyna dan duduk di pinggir tempat tidur wanita itu. "Duduk," perintahnya.

"Yang punya kamar siapa, yang merintah-merintah siapa. Heran gue," gerutu Kyna.

"Udah duduk aja. Rileks. Mukanya bisa kan yang ramah. Nggak jutek begitu . Entar cepet tua lho," kata Abram.

Kyna memelototi Abram. "Not your damn business, Tehandradja!"

"Ya udah," Abram membaringkan tubuh di atas kasur Kyna.

"Abram! Lo ngapain tidur di bed gue? Bangun nggak!" Abram mengidahkan ucapan Kyna. "Abram!" geram Kyna. Namun Abram tidak peduli dengan ucapan wanita itu.

Kyna pun mendekat dan coba menyeret Abram. Sayangnya, tubuh pria itu terlalu besar. "Abram! Jangan tidur di kasur gue. Lo punya kamar sendiri. Gue nggak suka ada aroma parfum laki-laki di tempat tidur gue!"

Abram tertawa kecil. "Parfum gue Versace ya."

Kyna membalas, "Nggak peduli! Bangun, nggak?! Gue lapor Papa kalau lo masih gangguin gue. Biar lo diusir dari rumah ini. Dasar nggak tau di-"

Belum sempat Kyna melanjutkan kata-katanya, Abram membungkam mulut wanita itu dengan tangan kanan lalu menegakkan tubuhnya. "Bisa nggak sih lo nggak usir gue, hina gue dan pakai tameng 'lapor Papa' segala?"

Kyna menahan tangis juga amarahnya. Ingin rasanya ia melawan Abram, namun tenaganya tidak besar. Ia sudah berusaha melepas tangan pria itu dari mulutnya, tapi tidak berhasil.

"Lo kalau nggak berhenti jahat dan ngatain gue. Nggak bakal gue lepasin," ancam Abram dengan seringai tajam. Kyna menutup mata dan menghela nafas panjang. Dua jarinya -telunjuk dan jari tengah diacungkan tanda damai. Abram yang mengerti dengan maksud Kyna pun menarik tangannya perlahan dan tersenyum puas.

"Lo jahat banget, serius!" keluh Kyna.

"If you didn't start a war, I wouldn't do that," Abram menanggapi Kyna santai.

"Whatever lah. Apa mau lo? Cepet ngomong! Gue mau tidur."

Abram berkata, "Tutup pintu dulu dong. Ini privat."

Kyna mengernyitkan dahi. "What?! Udah gila ya lo!"

"Gila apa sih. Minta tolong tutup pintu doang. Gue nggak ngapa-ngapain lo kali. Takut banget."

"Takutlah, bego! Gimanapun juga lo laki gue perempuan."

"Astaga. Nggak gue apa-apain. Serius. Lagipula lo bisa teriak kalau gue sampai berani lecehin lo."

Kyna mendengus dan menutup pintu. "Udah. Cepet ngomong!" Menyilangkan kedua tangan di dada.

"Duduk samping gue lah. Masa jauh-jauhan," goda Abram. Pria itu menyeringai tajam.

Kyna menghentakkan kaki dan berjalan menuju Abram. "Lo laki-laki paling rempong dan bawel sedunia. Heran gue, bokap nemu anak kayak lo dimana deh."

Abram mengangkat bahu. "Have no idea. You can ask your father though."

"Sucks!"

"I bet and assume, lo sebenarnya suka sama gue meski gue nyebelin."

"Pede!"

When Women Commanded (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang