___
"Ulang, Bram. Lo bilang apa tadi?" tanya Kyna.
Abram mengulangi ucapannya dengan hati-hati—perlahan, "Nggak guna masuk Forbes kalau gue nggak berharga di mata lo —di depan orang yang gue sayang."
Oke sayang as a sister and brother. It's totally bullshit, Abram. What on earth is going on?
"Oh... sayang? Gue kira kata itu nggak ada dalam kamus seorang Abram Tehandradja."
"Gue nggak boleh sayang sama lo?" Abram bertanya.
"I have no idea, Abram. Sepertinya obrolan kita sudah terlalu jauh. Gue mau balik ke ruangan gue," Kyna berdiri dari duduknya, namun Abram menahan tangan wanita itu.
"Can we just talk?"
Kyna mendengus, "Gue nggak ada waktu untuk bicarain hal-hal di luar pekerjaan, Abram."
"Na... gue nggak pernah nggak serius saat gue mengatakan—"
"Stop! Gue nggak mau dengar apapun dari lo, Abram," Kyna memotong ucapan Abram. "bisa kan lo berhenti untuk mengucapkan kata-kata yang sebenarnya nggak pernah tulus dari hati lo?" menatap Abram dengan serius, "Gue muak, Tehandradja. Stop this. Nggak guna," jelasnya.
Abram menegakkan tubuhnya. "Yang harus lo tahu, gue nggak pernah bercanda dengan ucapan gue. Sekali gue bilang sayang, gue bakal sayang," melepas cekalan tangannya pada tangan Kyna. "If you wanna go, just go, Na. Gue nggak akan mencegah lo untuk pergi kemanapun ya lo mau. Lo berhak. Lo manusia bebas. Lo anak seorang Hardjanto Damara. Lo punya segalanya. Tapi, jangan pernah cegah gue untuk sayang sama lo. Nggak masalah kalau lo nggak mau mengerti itu —gue sayang sama lo. Sayang adalah bentuk care gue ke lo."
Kyna meghela nafas lalu menghembuskannya, "Alright, bentuk care lo, kan? Ya sudah, nggak perlu diperpanjang. Apapun yang mau lo lakukin, just do, Abram. Gue nggak melarang. Sebagai seorang manusia, lo juga berhak buat menyayangi dan disayangi. Lo berhak memberikan sayang lo ke semua orang, termasuk sama Gika —mantan lo yang mau lo ajak reunite; sayang sama gue —like you already said; sayang sama bokap-nyokap gue; dan sayang ke semua orang. Sayang artinya universal. Jadi, nggak ada yang spesial..."
...
...
Abram terdiam mendengar penjelasan Kyna. Bukan itu yang gue maksud, Kyna...
"Better I leave. Gue udah kenyang. Terima kasih buat makan siangnya," Kyna memberikan senyum kecil, "Gue jadi hutang makan siang kan sama lo..."
"Bukan hutang, jadi nggak ada kewajiban untuk diganti," sahut Abram. Ia dengan cepat memfokuskan pikirannya pada Kyna yang akan segera meninggalkan ruangannya.
"Oke..." balas Kyna singkat. "Gue balik ke ruangan gue. Selamat siang Tehandradja."
*
Jam menunjukkan pukul 5 sore. Beberapa karyawan EBI terlihat merapikan barang-barangnya. Beberapa lagi masih sibuk dengan pekerjaannya —lembur. Sementara itu Abram sudah siap dengan leather briefcase-nya.
"Saya pulang dulu," Abram berbicara pada beberapa karyawan EBI yang masih berkutat dengan pekerjaan mereka.
"Hati-hati, Pak Abram," ujar mereka yang terdiri dari tiga orang tersebut. Abram pun hanya memberikan senyum ramah dan berlalu.
Abram berjalan dengan gagahnya —mengenakan setelan berwarna biru dongker, kemeja putih, dan loafer berwarna senada dengan briefcase-nya yaitu cokelat kayu. Ia terus tersenyum seperti yang biasa ia lakukan setiap kali berada di tempat umum. Pria itu hampir tidak pernah memperlihatkan wajah suntuknya di depan orang lain. Paling mentok pada Kyna. Itu pun karena wanita itu suka memancing masalah dan hobi membuatnya kesal.
Tiba di depan lift khusus petinggi perusahan —menunggu pintu lift terbuka—, Kyna tiba-tiba muncul dan berdiri di sebelahnya. Wanita itu tidak mengatakan apapun dan memilih memainkan ponselnya. Abram yang paham hanya bisa memperhatikannya —tanpa berniat untuk mengajak bicara. Ia tahu kalau Kyna akan merasa terganggu ketika ia melakukan hal impulsif seperti itu.
Mereka berdua kemudian masuk ke dalam lift. Saat berada di dalam lift, Kyna tidak memainkan ponselnya lagi, ia pun akhirnya mengajak Abram berbicara, "Lo diundang ke acara birthday party-nya Dave nggak?"
"Dave siapa?"
"Dave —David Ardian, temen kuliah pas di US," Kyna menjelaskan.
"Oh David. Iya, diundang, acaranya besok, kan?" Abram bertanya.
"Malam ini, seven sharp," jawab Kyna.
Abram menyatukan alisnya, "Serius?" Kyna mengangguk. "Dua jam lagi dong?"
"Emang...."
"Yah... pasti nggak keburu kalau pulang dulu," keluhnya.
"Lo gimana sih kok nggak cek jadwal. Emang sekretaris lo nggak ingetin?"
Abram mengembuskan nafas. "Gimana mau ingetin. Nggak gue kabarin. Lagipula David kasih kabar via WhatsApp. Kalau gini ceritanya mah gue ke acaranya David pakai baju kerja," katanya dengan pasrah. Kyna kemudian menggelengkan kepala sambil tertawa kecil. "Kalau lo gimana? Bawa ganti nggak?" tanyanya.
"Bawa. Tadi abis makan siang minta tolong Pak Sadi ambilin di rumah. Ini gue ke lobby buat ambil sekalian ganti di restroom bawah."
"Lah... lo kok nggak bilang?" timpal Abram sambil mempersilakan Kyna keluar lebih dulu dari lift.
"Ya kan gue nggak kepikiran, Bram. Gue baru nyadar pas reminder handphone gue bunyi," Kyna menjawab Abram sambil berjalan menuju resepsionis. "Dani, titipan baju saya dari Pak Sadi, ada?" tanya Kyna pada resepsionis.
"Ada, Bu. Sebentar saya ambilkan," ujar Dani.
Sementara menunggu Dani mengambilkan pakaian untuk Kyna, Abram terus berbicara, "Yah... lo kan tahu kalau kita berangkat bareng dan gue nggak bawa ganti..."
"Tapi gue nggak noticed, Abram. Udah deh, lo katanya nggak masalah pakai baju kerja. Ya pakai aja. Nggak jelek kok."
"Huft!" Abram mengeluh.
"Ini bajunya, Bu Kyna," Dani menyerahkan titipan dari Pak Sadi untuk Kyna.
"Thanks, Dan," balas Kyna sambil berjalan menuju executive restroom dan Abram terus mengikutinya.
"Na..."
"Apasih, Tehandradja? Kayaknya dari tadi lo nggak kelar-kelar mau ngomong sama gue," Kyna mendesah, "lo nggak mungkin ikutin gue sampai dalam, kan?"
Abram mengangkat kedua tangannya dengan salah satu tangan memegang briefcase. "Of course not."
"Yaudah. Gue mau ganti. Lo berangkat duluan aja. Gue sama Arga," terang Kyna.
Abram mengerutkan dahinya, "Arga? Arga siapa?"
"Bukan urusan lo. Udah deh, buruan balik badan, Abram. Gue capek ngomong sama lo. Bye!" ucap Kyna dan segera menutup pintu.
**
Dua puluh menit berlalu, Kyna keluar dari restroom dengan menggunakan satin cocktail dress berwarna maroon. Abram yang duduk di salah satu sudut ruangan pun hanya bisa terkesima memandang kecantikan wanita itu.
Damn! She's always beautiful. Mau pakai kaos kek, dress kek. Kayaknya nggak pernah failed. Selalu cantik. Ya ampun, mata gue...
Abram beranjak dari duduknya dan menghampiri Kyna, "Na..." sapanya pelan.
Kyna yang mendengar Abram membalik badannya dan berkata, "Lo ngapain masih di sini?"
"Nungguin lo..." jawabnya polos.
Bodoh banget sih. Kyna membatin. "Gue kan udah bilang kalau gue ke acaranya Dave bareng Arga. Ngapain lo tunggu? Lo bisa kan pergi sendiri? Ajak siapa kek, Gika mungkin?"
"Dia nggak kenal David, Na," timpal Abram.
"Urusan lo kalau begitu," jawab Kyna ketus. Gue mau keluar. Arga sudah nungguin gue. See ya!" katanya sambil berlalu.
Abram mematung melihat kepergian Kyna —tanpa ada keinginan untuk mengambil mobilnya.
Lo kapan sadarnya sih, Na? Pikirnya.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
When Women Commanded (On Going)
ChickLitKyna Damara adalah anak perempuan satu-satunya Hardjanto Damara, seorang pengusaha Indonesia yang bisnisnya bergerak di bidang energi dan pertambangan. Pada mulanya, kehidupan keluarga Kyna baik-baik saja hingga ia merasa kalau kehadiran Abram Tehan...
