Saiki menatap langit-langit kamar dengan gugup. Ini pertama kalinya dia satu ranjang dengan Keita. Dan dia benar-benar gugup. Ingatan tentang dia tidur seranjang bersama Keita belum pulih. Saiki jadi tidak bisa tidur.
Dia menoleh pada Keita yang ternyata juga belum tidur. Keita memandanginya dengan lembut dan sesekali mengusap rambutnya.
"Kamu tidak bisa tidur ya?" Tanya Keita.
Saiki mengangguk. "Aku, gugup."
Keita tertawa pelan. "Dulu juga begitu, saat pertama kali kita tidur seranjang. Waktu itu di apartemenku, setelah saat pertama kita."
"Saat, pertama?"
Keita menyengir. Dia seperti bicara dengan anak kecil. "Iya, aku rasa kamu belum ingat."
"Apa, itu? Pasti, itu, sangat, penting, ya?" Saiki memiringkan tubuhnya menghadap Keita yang tak lepas menatap matanya.
"Ya... pertama kalinya kita melakukan ikatan intim. Seks."
"Seks?"
"Iya... setidaknya kamu tau segitu saja dulu, hehehe. Ayo tidur. Kamu harus istirahat."
"Bagaimana, seks, itu? Saat, pertama, kita, bagaimana? Aku, ingin, mengingatnya."
Wajah Keita merona. Mana mungkin dia menceritakan dengan detail. Keita menarik Saiki mendekat dan memeluk Saiki dengan lembut.
"Nanti... pelan-pelan aku akan tunjukkan padamu... jangan sekarang..."
Saiki menghirup aroma Keita dan mendekatkan bibirnya di leher Keita. "Sayang, sekali... aku, benar,benar, ingin, tau..."
Keita merasakan tubuhnya berdesir karena sentuhan bibir Saiki di lehernya. Andai saja Saiki tidak kehilangan ingatannya, Keita pasti akan melakukan apa yang sudah dia tahan selama ini. Dia tidak tau bagaimana dia bisa berhasil menahannya sampai sekarang. Padahal Saiki berada di pelukannya dan menggodanya.
"Aku akan mulai dari sini..." bisik Keita menatap Saiki dan mengecup bibir Saiki dengan lembut. Saiki membalas kecupan ringan itu sambil menyentuh pipi Keita yang dingin dan lembut.
Keita menjilati bibir Saiki membujuk bibir Saiki membuka. Saiki membuka mata menatap Keita agak kaget dan saat dia membuka bibirnya, Keita semakin memperdalam ciumannya, Saiki bisa merasakan lidah Keita memainkan lidahnya sendiri dengan lembut sekali. Membuat darah Saiki berdesir dan tangannya mulai gemetaran. Keita terus menciumi Saiki dan gairah mulai menguasainya.
"Umh..." Saiki mengerang pelan sambil mencengkeram bahu Keita. Tangan Keita menelusuri tubuh Saiki di balik piyamanya. Merasakan kulit lembut namun kencang. Keita sudah lama sekali tidak menyentuhnya.
"Saiki..." bisik Keita menyatukan dahi mereka. Saiki menatap Keita yang bernafas mulai tidak teratur. Namun dia sendiri juga terengah dan jantungnya berdetak sangat kencang.
"Apa yang kamu rasakan?" Tanya Keita berbisik sambil menjilat pipi Saiki.
"Jantungku... kencang, sekali... tubuhku, rasanya, panas, dan... di bawah... aneh..." jawab Saiki bingung.
Keita mengecup leher Saiki dan menjilatinya dengan lembut.
"Ah..." Saiki mengerang pelan sambil menarik piyama Keita.
"Sssh..." Keita menutup mulut Saiki dan tersenyum.
"Ayah kita akan mendengarnya."
Saiki menatap Keita dengan sayu. Ada rasa aneh yang membuat dia ingin terus disentuh seperti itu oleh Keita. Rasanya seperti di tempat yang sangat indah saat Keita mencium dan menyentuhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Two of Us (Yaoi) [Completed]
RomantikSaiki dan Keita mulai tinggal bersama di apartemen yang Saiki tempati. Saiki sering mencandai Keita kapan menikah sejak mendapat kabar Reishi dan Louis yang sudah menikah di Amerika. Kehidupan mereka berjalan dengan baik dan bahagia. Namun semuanya...
![Just Two of Us (Yaoi) [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/162625778-64-k560833.jpg)