Keita memasuki kamar dan memperhatikan Saiki yang berbaring miring di ranjang. Keita tersenyum dan melompat pelan ke ranjang. Saiki terlihat kaget dan menoleh ke belakang.
"Aku mengagetkanmu ya?" Keita tersenyum sambil mengusap kepala Saiki yang juga tersenyum menatapnya.
"Lumayan..." jawab Saiki dan merebahkan kepalanya di punggung Keita yang berbaring tengkurap.
"Sepertinya kamu memikirkan sesuatu." kata Keita sambil memainkan jemari kanan Saiki.
"Soal, Natsume..."
Keita ingat ketika di awal mereka bersama, Saiki juga pernah begini karena Natsume. Bagaimana pun juga, karena hatinya yang sangat baik itu pasti akan membuat Saiki kepikiran. Ditambah Saiki dulu pernah menyukainya. Dan saat itu Keita mengatakan hal yang egois padanya. Sekarang Keita tidak bisa berkata seperti itu lagi mengingat bagaimana tersiksanya Natsume tadi karena perasaannya pada Saiki.
"Natsume bilang jangan khawatir kan?"
"Ya, tapi, aku, kasihan, sekali, padanya."
"Aku juga, Saiki. Tapi aku tidak tau ingin melakukan apa... karena ini masalah hati. Dia tidak bisa melupakanmu."
Saiki menatap langit-langit kamar dan menghela nafas. "Aku, sekarang, hanya, berharap, dia, bisa, menemukan, yang, lebih, baik, untuknya. Kalau, dia, bilang, aku, baik... kalau, membuatnya, terluka, seperti, itu. Aku, tidak, sebaik, itu."
"Tidak, Saiki... semuanya sudah diatur. Waktu yang menentukan. Kalau misalnya dia lebih dulu maju dibanding aku, mungkin sekarang kamu tidak akan bersamaku. Kamu mempunyai kekasih yang sangat baik dan juga sangat cantik."
Saiki duduk dengan tiba-tiba dan meremas pelan bahu Keita. "Jangan, bicara, begitu..."
Keita berbalik dan menatap Saiki dengan lembut. "Itu kan misalnya..."
"Aku, tidak, mau, memikirkan, diriku, bersama orang, lain, selain, dirimu..." Mata Saiki berkaca-kaca sambil menggeleng.
"Aku rasa dia jadi lebih sensitif dari biasanya..." batin Keita dan meraih tangan Saiki dan menariknya pelan membuat Saiki mendekat dan dahi mereka beradu.
"Aku juga begitu, aku tau walau kamu pernah menyukainya, namun kamu hanya jatuh cinta padaku kan?"
Saiki mengangguk dan mengecup dahi Keita. "Mungkin, saja, jauh, di dalam, hatiku, tanpa, kusadari, aku, juga, menyukaimu. Sebelum, kamu, menciumku, dan menyatakan, perasaanmu."
Keita tersenyum dan bertanya jahil. "Kamu masih ingat kejadian di loker?"
"Tentu, saja." Saiki merona dan mengecup bibir Keita. "Coba, pikirkan... harusnya, aku, marah, tapi, aku, malah, ingin, lebih, banyak, disentuh, olehmu."
"Aku juga berpikir begitu pertamanya, kalau kamu akan marah dan membenciku. Apalagi besoknya kamu lari saat melihatku." Keita menelusuri wajah Saiki dengan bibirnya. Tangannya merengkuh lembut tubuh Saiki yang agak kurus.
"Aku, tidak, mau, menciummu, di kampus, kalau, aku, melihatmu." jawab Saiki pelan dan memainkan rambut gelap Keita yang lembut.
"Kalau itu terjadi pasti bahaya ya?" tanya Keita dan tertawa ketika Saiki menatapnya sebal dan malu.
"Kenapa kamu semakin manis saja..." bisik Keita dan mengecupi dagu Saiki dan beralih ke bibirnya.
"Manis?" tanya Saiki sambil membalas kecupan Keita.
"Ya..."
"Aku, tidak, manis..."
"Lalu..."
"Aku... menawan..."
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Two of Us (Yaoi) [Completed]
RomanceSaiki dan Keita mulai tinggal bersama di apartemen yang Saiki tempati. Saiki sering mencandai Keita kapan menikah sejak mendapat kabar Reishi dan Louis yang sudah menikah di Amerika. Kehidupan mereka berjalan dengan baik dan bahagia. Namun semuanya...
![Just Two of Us (Yaoi) [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/162625778-64-k560833.jpg)