Keita memandangi Saiki yang tidur. Dia bernafas lembut dan teratur. Ini hari kesembilan Saiki koma. Rasanya seperti berabad-abad. Keita tidak percaya Saiki tidur sudah selama ini. Dan tidak ada tanda-tanda dia akan bangun. Setiap malam Keita tidak bisa tidur dan terus mengecek Saiki. Takut ketika dia tidur, ternyata Saiki sudah pergi. Tidak akan terbangun lagi.
"Saiki... bangunlah... apa kamu tidak ingin bicara denganku? Aku rindu sekali Saiki. Aku ingin mendengar suaramu dan tawamu. Kamu boleh marah padaku. Memukulku karena aku pergi tanpa persetujuanmu. Membuat kamu menjadi kepikiran dan sedih karenaku. Tapi kamu harus bangun..." Keita mengguncang pelan tubuh Saiki dengan suara gemetar. Saiki tidak mendengarnya dan tetap seperti pangeran tidur.
"Saiki... sepi sekali rasanya..." bisik Keita menutup mata sambil mendekatkan wajahnya ke jemari kanan Saiki.
Dan jemari itu bergerak sedikit.
Keita membelalak dan langsung berdiri menatap Saiki. "Saiki?? Saiki!!" Seru Keita mengguncang tubuh Saiki. Tapi Saiki tidak bergerak.
Keita kemudian berlari keluar menuju ruangan Haru yang agak jauh dari sana. Dan Keita masuk dengan suara heboh membuat yang di dalam ruangan itu kaget.
"Sensei! Jari Saiki, tadi bergerak!" Seru Keita membuat Haru langsung berdiri dan berjalan cepat keluar ruangan.
Keita berlari lagi mendahului Haru dan membuka pintu dengan keras dan langsung berhenti membeku ketika melihat Saiki yang duduk sambil memperhatikan jemarinya yang diinfus menoleh kaget pada Keita.
"SAIKI!!" teriak Keita berlari ke arah Saiki dan memeluknya dengan erat.
Saiki kaget lagi ketika Keita memeluknya. Keita menangis terisak memeluk Saiki dengan erat.
"Akhirnya kamu bangun Saiki... ternyata kamu mendengarku. Terima kasih Saiki... Saiki..." kata Keita sambil mengusap-usap kepala Saiki dengan lembut.
Saiki terdiam dengan bingung tapi membiarkan Keita memeluknya. Kemudian menoleh pada beberapa orang berjas putih yang masuk ke ruangan.
Keita melepas pelukan Saiki dan mundur karena Haru datang. Saiki memandangi Keita dan juga Haru dan semua orang di sana dengan bingung.
"Saiki-san, kamu bisa dengar aku?" Tanya Haru. Saiki menatap Haru bingung dan mengangguk.
Keita menatap Saiki tak percaya. Saiki menatapnya seakan Keita orang lain yang tidak dia kenal. Wajar kalau pada Haru dan yang lainnya. Tapi kenapa Saiki tak membalas pelukannya? Menatapnya dengan pandangan bingung padanya?
"Kamu bisa katakan 'Saiki'?" Tanya Haru sambil menatap Saiki yang masih menatapnya bingung.
"Ssssaa..." Saiki menggeleng pelan dan mengigit bibirnya. Dia kembali menggeleng sambil mengayunkan tangannya.
Haru bernafas tertahan. "Coba kamu gerakkan kakimu."
Saiki menatap kakinya yang ditutup selimut. Kakinya tidak bergerak sedikit pun. Saiki bingung karena tidak tau cara menggerakkannya. Haru membuka bagian bawah kaki Saiki dan menggores telapak kaki Saiki dengan kukunya, telapak kakinya bergerak sedikit.
Haru menatap Keita yang membeku dan juga Masaki yang tidak lepas menatap Saiki.
"Kamu ingat namamu?" Tanya Haru pelan.
Saiki menggeleng dan mengangkat tangannya. Mengayunkan sambil mencoba bicara tapi suaranya yang terdengar hanya "Aa..." saja.
Saiki menunjuk Keita dan mengembangkan kedua tangannya. Wajahnya sangat bingung. Dia menunjuk ruangan itu dan dirinya beberapa kali. Saiki bahkan tidak menoleh pada Masaki.
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Two of Us (Yaoi) [Completed]
RomanceSaiki dan Keita mulai tinggal bersama di apartemen yang Saiki tempati. Saiki sering mencandai Keita kapan menikah sejak mendapat kabar Reishi dan Louis yang sudah menikah di Amerika. Kehidupan mereka berjalan dengan baik dan bahagia. Namun semuanya...
![Just Two of Us (Yaoi) [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/162625778-64-k560833.jpg)