This chapter is the ending
Author POV
Aleandra langsung saja turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah sakit.
"Awas mobil Ale!" Teriak Alex yang masih ada di dalam mobil saat melihat Aleandra hampir saja tertabrak mobil.
Aleandra berhenti dengan mata membelalak kaget. Setelah itu Aleandra menyatukan kedua tangannya ke arah mobil yang hampir menabraknya, menandakan bahwa dirinya meminta maaf. Setelah itu Aleandra langsung melanjutkan aksi buru burunya. Bahkan wanita itu meninggalkan Alex yang masih belum mematikan mesin mobilnya.
Nafas Aleandra memburu saat sudah berada di depan ruangan Nathan. Tangannya bergetar hebat saat ingin membuka kenop pintu.
Kriet
Suara pintu yang terbuka membuat semua orang yang berada di ruangan itu menatap ke arah Aleandra. Begitu juga seorang pria yang masih terbaring lemah di brankarnya.
"Nathan." Lirih Aleandra dengan senyum lebarnya. Wanita itu merasa ia tengah bermimpi saat matanya melihat mata hitam milik Nathan yang saatini menatapnya sambil tersenyum.
"Sang pujaan hati telah datang." Cibir Vito saat menyadari bahwa dua sejoli itu saling menatap dengan pandangan yang, uhh. Vito malas menjelaskannya.
"Vito." Rania menyikut perut Vito hingga pria itu meringis. Menurutnya aksi tatap menatap yang dilakukan Aleandra dan Nathan tadi sangat manis, namun Vito menghancurkannya.
"Eh, umm, maaf." Aleandra mengusap leher belakangnya gugup. Dengan perlahan ia menghampiri brankar Nathan.
"Ehem, sepertinya kita harus membiarkan Aleandra dan Nathan saling melepas rindu berdua." Ucap Lian yang membuat Aleandra malu sekali.
Lian pernah muda. Dia tahu bagaimana rasa canggung yang Aleandra dan Nathan alami karena keberadaannya, Rania, dan juga Vito. Dengan segera Lian menarik tangan Vito dan Rania untuk keluar dari ruangan Nathan. Biarlah Vito kembali bekerja, dan biarkan ia dan istrinya menghabiskan waktu berdua sambil mencari makan di luar.
Dan tinggal lah Aleandra dan Nathan yang masih terlihat saling tatap menatap.
"Hei." Lirih Aleandra sambil tersenyum. Mata biru cerahnya berkaca kaca saat melihat Nathan yang telah berhasil melewati masa komanya.
"Ale, pegang tangan ku." Pinta Nathan tiba tiba.
"Hah?"
"Pegang tangan ku, Aleandra." Ulang Nathan sambil tertawa pelan saat melihat wajah bingung Aleandra. Dengan kaku, Aleandra menyentuh tangan Nathan yang terbebas dari infus. Tangan Nathan entah kenapa masih terasa dingin.
"Aku rindu tangan hangat mu, Ale." Nathan memejamkan matanya sambil mengarahkan tangan hangat Aleandra ke pipinya. Hati Aleandra menghangat saat Nathan terlihat menikmati sentuhan tangan hangatnya. Astaga, Aleandra bahagia sekali sekarang. Itu semua karena Nathan.
"Terima kasih Nat. Kamu menyelamatkan nyawa ku, dengan mengorbankan nyawa mu sendiri. Kamu tahu? Aku begitu takut kamu meninggalkan aku saat tahu kamu sedang koma. Aku takut kamu pergi meninggalkan aku seperti Aurel." Jelas Aleandra dengan mata berkaca kaca.
"Aku takut Nat. Aku kira kamu akan benar benar pergi. Jika saja kamu tidak selamat, maka aku akan menyalahkan diri ku setiap saat Nat. Karena yang seharusnya celaka itu aku kan? Bukan kamu? Aku--"
"Yang penting aku selamat, Aleandra. Aku di sini, sudah berhasil melewati masa koma ku. Jangan terus terusan menyalahkan diri mu oke?" Aleandra hanya mengangguk mengiyakan ucapan Aleandra.
KAMU SEDANG MEMBACA
Her Old Pain (COMPLETED)
Romance(SEQUEL MY ICE HEART, BISA DIBACA TERPISAH) Dia adalah Aleandra Rose Seorang designer terkenal di New York yang menjadi incaran para pria. Rambut pirangnya yang bergelombang, tubuh tingginya yang ideal, dan wajahnya yang terpahat sempurna membuatnya...
