Gadis itu menutup mata selama si laki-laki membasahi rambutnya dan memastikan tidak akan ada bekas tepung terigu dan bau telur tertinggal di sana. Sebenarnya, si gadis masih bingung harus bereaksi seperti apa terhadap perlakuan laki-laki itu. Mau bagaimana lagi, dia, Afandi, tiba-tiba membawanya ke rumah miliknya (tanpa meminta persetujuan sama sekali), dan kini sedang melakukan perawatan (melakukan keramas) pada rambutnya dengan sangat ahli.
Sekarang, Fira ingat sesuatu yang berhubungan dengan tempat dengan banyak alat seperti ruang depan rumah Afandi ini. Salon. Tempat ini seperti salon yang dulu pernah Fira datangi bersama Fara setelah dipaksa berulang kali. Dulu, dia hanya mengamati sesaat tempat-tempat yanh didatanginya secara paksa, hingga ingatannya agak buram. Namun, setelah menelusuri lagi ingatannya, Fira yakin pekerjaan ini biasa dilakukan oleh perempuan. Namun, mengapa Afandi melakukannya sebaik ini? Lalu, bersamaan dengan pertanyaan lain yang saling sahut menyahut di dalam kepala--Fira mulai merasa, Afandi semakin Fira mengenal Afandi, semakin misterius pula laki-laki itu.
Fira baru membuka mata saat Afandi menegakkan kepalanya. Dari refleksi kaca, ia bisa melihat Afandi sedang mengeringkan rambutnya dengan sebuah handuk putih. Aroma harum menguar dari rambutnya yang kini sangat pendek. Padahal, sebelumnya rambut itu benar-benar berbau amis. Afandi melakukan perawatan pada rambutnya dengan sangat baik. Fira hampir tidak menyangka hal itu hingga tanpa sadar ia terus memperhatikan wajah serius Afandi dari kaca. Mungkin, hal itulah yang membuat Afandi merasa tidak nyaman dan akhirnya mendongak hingga menatap lurus ke kaca, untuk melihat wajah Fira.
"Ada apa? Ada yang ingin kamu katakan?"
Fira sedikit memiringkan kepala. Tangan laki-laki itu tidak berhenti melakukan pekerjaannya. Rambutnya diusak secara perlahan dan sangat hati-hati, hingga Fira berpikir kalau tangan Afandi itu memiliki sangat banyak bakat--dan agaknya, ia jadi sedikit iri. Fira menutup mata perlahan, lamat-lamat berbicara, "Lebih tepatnya, ada banyak pertanyaan tentangmu di kepalaku. Ada banyak hal yang masih belum bisa kupahami." Saat Fira membuka mata, ia memilih mendongak tinggi-tinggi hingga wajah laki-laki itu bisa ia lihat dengan jelas. "Bisakah aku menanyakannya? Entah kenapa, aku jadi penasaran tentangmu."
Afandi membulatkan mata mendengar perkataan Fira itu. Dia segera memutus entitas pandang keduanya, lalu memaksa Fira kembali menghadap ke arah cermin. Matanya mengerjap beberapa kali sebelum melanjutkan kegiatannya mengeringkan rambut-berusaha bersikap sangat biasa, tapi Fira bisa merasa kalau gerakan tangannya jadi sedikit lebih kaku. Ada apa? Apa mungkin dia tidak ingin ditanyai? Fira langsung berwajah masam. Bibirnya turun membentuk sebuah cemberut. Namun, sebelum protes benar-benar keluar dari mulut Fira, ia bisa mendengar Afandi menjawab singkat, "Menanyakan apa? Kehidupanku terlalu biasa, tidak ada hal yang pantas dikisahkan."
Afandi bergerak untuk mengambil alat pengering rambut lalu mengarahkan alat itu ke rambutnya yang masih tidak beraturan panjang pendeknya. Fira hanya menggeleng sedikit-karena tidak ingin mengganggu pekerjaan Afandi. Namun, matanya kini menatap lurus refleksi Afandi. "Kehidupan memang bukan tentang siapa yang akan terkesan mendengar kisahnya."
Fira menjatuhkan pandangan ke meja. Lambat laun, ia sekarang mulai mengerti. Setiap orang punya kisah-tidak peduli apa yang terjadi pada orang lain, setiap orang punya kisahnya masing-masing. Setiap orang juga, memiliki masalah yang harus dihadapi dalam kehidupannya. Bukan hanya Fira yang sedang berjuang melawan ketakutan, dan rasa kecewa. Bukan hanya dia yang kadang terjebak dalam masalah rumit dan mungkin menyerah sesekali. Semua manusia begitu. Bahkan juga Afandi.
Hal yang terpikirkan di kepala Fira adalah, (entah mengapa), dia ingin mendengar masalah Afandi, dan mungkin membantu laki-laki itu menyelesaikannya. Mungkin saja, sebagai balas budi dari apa yang telah dilakukannya akhir-akhir ini. Selain hal itu, Fira tidak tahu mengapa dirinya jadi begitu ingin ikut campur pada urusan orang lain. Seperti bukan dirinya saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
When Love Calls [END]
Fiksi RemajaFira tahu, membuat relasi dengan orang lain hanya akan membuat luka lamanya kembali bangkit, hingga ia menarik diri dari orang lain. Meski begitu, beberapa orang keras kepala berhasil menerobos masuk ke dalam hatinya-menghancurkan pagar pembatas dan...
![When Love Calls [END]](https://img.wattpad.com/cover/170573370-64-k569975.jpg)