Keempat belas

314 75 356
                                        

Akhirnya sampai juga, batin Kanya lega.

Kanya memarkirkan motornya sembarangan. Dengan tergesa, ia melepas helm, dan melangkah masuk ke dalam.

Asap rokok yang awalnya tidak tercium, kini sangat menyengat di indra penciumannya. Kanya menutup hidungnya dengan lengan baju yang ia kenakan sembari mempercepat langkahnya.

Tongkrongan ini memiliki dua sekat. Yang satu, khusus untuk orang yang ingin merokok. Dan yang kedua, khusus untuk mereka yang hanya ingin memesan kopi dan sebagainya. Unik memang.

Jika Adit tidak ada disekat kesatu, maka kemungkinan dia berada disekat kedua. Kakinya terus berjalan melewati meja satu dan meja lainnya.

"Kanya?"

Kanya memberhentikan langkahnya, menatap teman tunangannya—yang namanya saja ia lupakan.

"Gue Febri," kata Febri saat melihat raut bingung terpatri di wajah Kanya.
Kanya ber-oh-ria, "Sendiri, Feb?"

"Enggak, tadi gue ke sini sama Dawin." Febri tertawa kecil. "Lo mau kemana?"

"Mau nyari Adit," jawabnya singkat.

Febri menyugar rambutnya sembari berdeham pelan, "Adit udah balik dari tadi."

"Oh, ya?" tanya Kanya.

"Lo nggak percaya?" Febri berdecak. "Sana, cek sendiri. Ini aja gue mau balik."

"Yaudah," kata Kanya lalu melanjutkan langkahnya.

Febri yang melihat itu langsung menarik tangan Kanya, menuntunnya keluar dari tempat tongkrongan.

"Sakit, anjir!"

Kanya menyentak tangan Febri dengan keras. Ia menatap pergelangan tangannya yang memerah.

"Gue tau Adit di mana," gumam Febri pelan tapi masih bisa didengar oleh Kanya.

Kanya mengangkat satu alisnya, "Di mana?"

"Ikut gue," perintah Febri, berjalan melewati Kanya.

"Gue bawa motor!"

Febri menoleh kebelakang, "Mana kuncinya? Biar temen gue aja yang bawa."

Kanya memicingkan matanya pada Febri. Curiga.

"Ck! Temen gue kaya, nggak bakal nyolong motor butut lo!"

Kanya berjalan menuju Febri, "Nih!" katanya, mendorong kunci motornya di dada Feby hingga jatuh.

"Dasar, untung aja tunangan Adit! Kalau nggak, udah gue bacok!" umpat Febri sembari menunduk untuk mengambil kunci motor tersebut.

***

Febri : anjing lo ngamuk grgr gue bawa keliling

Adit tersenyum melihat pesan temannya yang baru masuk, kemudian dia membalas.

besok gue traktir, di starbucks

Febri : mantap!

"Maksud lo apa?!"

Adit menatap datar seseorang di hadapannya. "Apa?" tanya Adit balik.

"Lo udah nggak sayang lagi sama Kanya? Mending lo putusin, dari pada diem-diem lo selingkuhin dia!"

"Tau apa lo tentang gue, Arjuna?"

Arjuna menatap tajam ke arah Adit, "Gue tau segalanya, Dit. Jangan lo pikir, lo bisa bodohi gue!"

Adit tersenyum miring, "Oh, lo diem-diem nguntit gue?"

Tangan Arjuna yang sedang mematikan bara api di rokoknya terhenti, ia tertawa kecil. "Bego."

"Lo tau, Jun. Ketika Kanya tau kalau lo nyimpen perasaan sama dia, apa yang lo harepin dari sikap Kanya? Bakal jadi suka sama lo? Nggak sama sekali. Yang ada lo malah di jauhin," ujar Adit, memperingati.

"Emang gue ngarepin Kanya suka balik sama gue?" sudut bibir Arjuna terangkat. "Ngaco!"

Adit terkekeh. "Mulut sama hati emang beda." Adit duduk tegak, menggenggam kedua tangannya di meja. "Mending urusin dulu hati lo, baru ngurusin hubungan gue sama Kanya."

Arjuna mengambil ponsel di saku kemejanya, membuka aplikasi video lalu dia perlihatkan pada Adit. Arjuna tersenyum miring, merasa senang saat melihat perubahan ekspresi pada raut wajah Adit.

Videonya yang berciuman.

Adit berdiri lalu mencengkram kuat kerah baju yang di kenakan oleh Arjuna. "Cara lo banci, anjing!"

"Kalah lo?" Arjuna tersenyum remeh, dia menatap tajam bola mata Adit lalu berbisik, "Tinggal gue kirim ke Kanya, dan... lo hancur. Sehancur-hancurnya." Arjuna menepis tangan Adit dengan keras.

Adit mengepalkan kedua tangannya, rahangnya mengeras dan raut wajahnya sudah memerah, karena amarah. "Banci!"

Arjuna memasukan kembali ponselnya ke dalam saku. Dia tatap Adit remeh, kemudian meludah sembarangan. "Yang banci itu elo, bangsat!"

Tanpa aba-aba, Adit memberi sebuah pukulan keras pada perut Arjuna. "Lo tau, lo itu pecundang!" Pukulan terus Adit berikan pada tubuh Arjuna, hingga Arjuna mundur beberapa langkah dari meja.

"Bangsat! Pencundang lo jadi cowok!" Adit mencengkram rahang Arjuna dengan keras, kemudian Adit berbisik, "Lo kirim video itu sama Kanya, bakal gue bales yang lebih dari ini!" Adit menepuk pipi Arjuna, lalu menghempaskan ke samping.

Arjuna menyeka darah yang menetes disudut bibirnya. Dan menatap Adit sengit, "Lo pikir gue takut?" Kemudian tertawa kecil, "Mimpi!"

Arjuna berjalan tertatih mendekati meja, mencengkram tasnya dengan kuat lalu berjalan menuju Adit. "Gue tunggu rencana lo, bro!" Arjuna menepuk bahu Adit, dan melenggang pergi tanpa menoleh.

"Bangsat!" umpat Adit, mengacak rambutnya.

***

"Lo ngerjain gue, ya?!" tuduh Kanya pada Febri.

"Ngapain gue ngerjain elo, nggak dapet gaji malah dapet cacian!" tukas Febri sembari membelokkan stir mobilnya.

"Lo pikir gue bego?! Lo dari tadi muterin jalan yang sama!" caci Kanya, napasnya mulai memburu.
Febri meringis, namun dengan cepat menutupinya dengan tertawa. "Biar lo inget, Nya. Jangan nethink mulu sama gue."

"Bawa gue pulang!" titah Kanya, menendang kaki Febri.

"Iya! Iya! Santai dong!" Febri mengusap kakinya yang ditendang oleh Kanya.

Barbar banget jadi cewek. Batin Febri, melirik kearah Kanya.

Febri memelankan mobilnya ketika sampai di rumah ber-cat biru muda itu. Setelah mobil berhenti, Kanya langsung turun dan menutup pintu mobil dengan keras.

"Anjir!" Febri melotot sembari mengelus dadanya. "Pantesan Adit rada takut sama dia, ternyata selama ini sikapnya kayak gitu, ckck." Febri menyalakan mesin mobilnya, lalu memencet klakson dan berlalu.

**

Koreksinya yaaa^^ 

Merci BeaucoupTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang