Aku merasa lega ketika melihat Dia, berdiri di sana dan meminta maaf dengan cara yang begitu manis.
^.^
Terhitung dua hari sudah Ravi mendiamkanku sejak pertengkaran kami tempo hari. Tak ada komunikasi berarti antara aku dan Ravi selama dua hari ini, bahkan di kantor pun dia enggan bertegur sapa denganku. Jangankan berbicara padaku, melirik pun sepertinya enggan dia lakukan.
Ingin rasanya aku menghubungi Ravi dan meminta maaf untuk ucapan ataupun sikapku yang mungkin membuatnya merasa marah. Tapi aku tak berani melakukan hal itu, aku takut jika Ravi akan mengabaikanku dan tak ingin memaafkanku. Dan kemungkinan Ravi marah padaku sangatlah besar, karena hari ini Ravi tak mengajakku untuk menghabiskan sabtu malam di Café Ours dan di sinilah aku berada, duduk di depan jendela kamar sambil menatap ke luar jendela.
Banyak hal yang aku pikirkan dan salah satunya perubahan sikap Ravi selama dua hari ini. Dia benar – benar mengabaikanku lalu sekalinya dia bicara kata – kata pedas yang dia keluarkan untukku. Hatiku merasa sakit tapi aku tak bisa berhenti memikirkan lelaki itu.
Lalu sosok yang tengah aku pikirkan itu ada di sana. Ravi berdiri di depan gerbang rumahku dan menatap ke arah jendela kamarku. Mungkin karena aku terlalu banyak memikirkan Ravi hingga sosok itu berubah menjadi seakan nyata. Ravi menatapku dan tersenyum tipis, aku terdiam. Menatap sosok itu dengan tatapan datarku karena aku tahu dia hanyalah khayalanku saja. Mana mungkin Ravi ada di sini sedangkan tadi siang aku mendengar dirinya akan pergi bersama Danela.
aku melihat sosok Ravi mengambil ponselnya dan menempelkannya ke telinga kirinya. Lalu tak lama kemudian ponsel yang ku letakkan di atas kasur berdering dengan nyaringnya. Dengan segera aku menyambar ponsel itu dan mengangkat telpon itu.
"Assalamualaikum.." Sapa Ravi.
"Waalaikumsalam.." Jawabku lemah dan kembali menatap keluar jendela. Menatap Ravi yang ternyata bukan Khayalanku.
"Bisa ke bawah sebentar?" Tanya Ravi dengan nada lembut, bukan nada sarkas yang dua hari ini selalu aku dengar.
"Hmm." Jawabku singkat dan langsung turun untuk menemui Ravi.
Tak butuh waktu lama aku sudah berada di depan gerbang, membukanya dan mempersilahkan Ravi masuk. Namun Ravi bergeming, masih berdiri di depan gerbang yang sudah terbuka. Kemudian apa yang dilakukan Ravi selanjutnya membuatku tak bisa untuk tidak terharu. Dia memegang notebook di depan dadanya yang terdapat tulisan
MAAF, ARA..
Aku tersenyum ketika melihat tulisan itu. Lalu Ravi membuka lembaran selanjutnya.
AKU SALAH, KARENA SUDAH MENGABAIKANMU SELAMA SEMINGGU KEMARIN
Ravi membuka lembaran selanjutnya lagi.
DAN UNTUK MENGABAIKANMU SELAMA DUA HARI KEMARIN JUGA KATA – KATA PEDASKU.
Ravi membuka lagi lembaran selanjutnya.
ARA SAYANG, MAAFKAN AKU YA.
Dan kata – kata terakhirnya membuat jantungku berdetak tak karuan. Memang bukan sekali atau dua kali Ravi mengucapkan panggilan sayang padaku, tapi satu kata itu masih memiliki efek yang sama bagi jantungku.
Lalu Ravi menutup notebooknya dan menatap mataku dalam membuat detak jantungku yang belum bisa aku kendalikan menjadi lebih tak terkendali.
"Jadi, apa jawaban kamu?" Tanya Ravi.
KAMU SEDANG MEMBACA
BELIEVE ME
RomanceMemendam perasaan selama bertahun - tahun pada orang yang mengenal kamu dan benar - benar mengerti dirimu atau bisa di katakan 'you know me so well' itu bener - bener nggak mudah. Apalagi orang itu bersikap biasa dan selalu membuat baper. Itu yang...
