Sorry for typo and happy Reading guys
Gadis berambut sebahu itu menggenggam erat buku ditangannya. Rencana nya ia akan pergi ke perpustakaan sebentar sebelum pulang kerumah.
Ketiga sahabatnya sudah duluan pulang jadilah Dya sendirian sekarang. Jika bukan karena ingin mengembalikan buku yang minggu lalu ia pinjam, mungkin gadis itu sudah berada dirumah sekarang.
Ia melewati koridor-koridor yang sudah mulai sepi, hanya beberapa murid yang terlihat sedang melaksanakan piket.
"Siang bu" Sapa Dya pada bu Yuni yang bertugas menjaga perpustakaan. Bu Yuni akan pulang setelah seluruh siswa pulang.
"Siang, mau ngembaliin buku?"
"Iya bu"
Dya menyerahkan buku yang dipegangnya.
"Ini, kamu kembalikan ketempat semula"
"Iya bu"
Gadis itu menyusuri rak-rak yang berisi buku untuk mengembalikan kembali buku yang dipinjamnya.
"Ini bu bukunya" Suara seorang laki-laki terdengar membuat Dya mengintip dari celah-celah buku didepannya
"Makasih ya Devon" Ujar bu Yuni mengambil buku panjang itu
"Sama-sama Bu, kalau begitu saya pulang dulu bu"
"Iya, silahkan"
Entah apa yang tapi sekarang ia malah mengikuti diam-diam Devon yang menuju parkiran.
Ia hanya merasa Devon akan melakukan sesuatu karena biasanya ia akan pulang bersama dengan saha Dya pikirkan, bat-sahabat nya, tapi setelah sampai di parkiran pun sahabat-sahabat nya tidak terlihat.
Devon terlihat menelfon seseorang, dari jarak yang sedikit jauh tentu Dya tak bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Tapi sepertinya Devon terlihat marah terlihat dari rahangnya yang mengeras dan matanya menyorot tajam.
Rasa penasaran Dya kian tinggi. Kenapa Devon sangat marah? Siapa yang menelfon? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala gadis itu.
Devon menaiki motornya dan mulai menjalankan pergi. Dya tak bisa tinggal diam, ia langsung berlari mencari kendaraan dan untunglah ada segerombol tukang ojek sedang berkumpul.
Ia menghampiri salah seorang tukang ojek dan langsung mengambil helm.
"Bang cepet bang ikutin motor ninja hitam itu"
"Baik mbak"
Tukang ojek itu pun mengikuti motor Devon yang kian menjauh, tapi untunglah bisa dengan cepat dikejar.
Dya mengerutkan keningnya bingung saat Devon berhenti di pinggir jalan, cowok itu lalu berlari ke kesebuah taman.
Tak menunggu waktu lama, Dya segera mengikuti cowok itu setelah membayar ongkos ojek nya.
🌻🌻🌻
Devon terus berlari, ia begitu khawatir saat Keyla tiba-tiba menelfon dan mengatakan gadis itu tengah bersama dia.
Setelah melacak GPS ponsel Keyla ia bisa tau jika Keyla dan dia berada di sebuah taman yang Devon tau.
Dan benar saja, disana ia bisa melihat dia sedang mencengkram rambut Keyla kuat.
Devon mendesis, sudah muak melihat kelakuan gadis gila itu.
"Lepasin Keyla!!"
Gadis itu tersentak, lalu menatap kaget ke arah Devon
"K-kak Devon? Kakak ngapain disini??" Ujarnya gugup seraya melepaskan cengkraman nya di rambut Keyla.
"Lo yang ngapain? Ngapain lo ngejambak rambutnya Keyla?"
"Ng-nggak gitu kak, ini nggak seperti yang kakak liat"
"Lo pikir gue gak tau? Gue tau semua yang udah lo lakuin. Gue gak nyangka lo bisa sekejam ini, gue pikir lo gadis polos. Tapi apa?"
Gadis itu menggeleng takut, terlalu terlalu terkejut dengan kehadiran cowok itu yang tiba-tiba.
"Gue udah muak ngeliat lo yang selalu buat masalah"
Devon maju dan tiba-tiba langsung menampar keras pipi gadis itu. Membuat gadis itu sedikit terhuyung.
"DEVON!!!"
Devon tersentak, ia melihat kebelakang dan terkejut ketika melihat keberadaan Dya
"Dya? Lo ngapain disini??"
Dya maju dan langsung menampar balik pipi cowok itu membuat Yeri refleks terkaget
"LO NGAPAIN NAMPAR ADIK GUE HA??"
Devon mengerjap, menatap tak mengerti ke arah gadis itu
"Maksud lo?? Lo.... Liat?"
"Iya, gue liat. Ngapain lo nyakitin adik gue?"
Devon mulai mengerti, pasti gadis itu salah paham.
"Nggak Dy, semuanya nggak kayak yang lo pikirin. Gue nggak....oke gue nampar adik lo, tapi lo harus tau dia itu uler. Dia nggak se polos yang lo liat"
Dya menatap tak mengerti pada Devon, jelas dia bingung bagaimana bisa Devon terlihat begitu tau tentang Jennie.
"Bukannya lo nggak kenal jennie? Kenapa sekarang seakan lo tau segalanya tentang dia?"
Devon terdiam, seakan tertembak tepat. Ia tak bisa menjawab.
Jennie maju memegang lembut bahu Dya dengan senyum polos andalannya.
"Nggak papa kak, gue biasa aja kok. Gue tuh tadi ngajak kak keyla jumpa cuma untuk nyuruh dia biar jauh-jauh dari kakak. Tapi kak Yeri nelpon kak Devon dateng, jadi deh kak Devon salah paham, dia mikirnya gue nyakitin kak keyla"
Keyla mendesis, jelas perkataan gadis itu seakan menyalahkannya.
"Nggak Dy, lo nggak boleh percaya. Dia itu nggak baik, dia nggak sebaik itu. Gue-"
"Jadi gue harus percaya sama lo? Yang Jelas-jelas temen yang udah ngecewain gue?"
Keyla terdiam, merasa tersindir meski ia punya alasan kenapa melakukannya.
"Nggak kayak gitu Dy" Gadis itu mendesah lelah
"Jadi gimana? Apa yang bisa lo jelasin tentang ini semua?"
Devon hanya diam, takut salah mengucap dan membuat gadis itu semakin menyalahkannya
"Oke, gue anggap ini semua nggak pernah terjadi. Tapi gue harap lo jangan pernah ganggu gue atau adik gue lagi. Cukup selama ini gue muak liat muka lo berdua"
Gadis berusaha menahan tangisnya, mersa dejavu saat Devon juga melakukan hal yang sama padanya dulu. Kembali melukai hatinya
Dya menarik lengan Jennie menjauh. Sementara Keyla dan Devon hanya diam tak ingin menahan gadis itu. Meski mereka bisa melihat senyum kemenangan dari Jennie.
"Selesaiin semuanya" Desis Devon penuh tekanan membuat Keyla entah kenapa tiba-tiba merinding. Aura Devon sangat kuat seakan sedang menunjukkan taringnya.
TBC
