Bab 18 : Planning

905 45 0
                                        

Sorry for typo

Dya mendesah lelah. Sudah pukul 4 sore dan belum juga ada bus yang lewat. Supir keluarganya tak bisa menjemput Karena harus mengantarkan orang tuanya ke luar kota. Dan jadilah gadis itu menunggu dengan bosan bus yang tak kunjung datang.

"KAK DYA!!!"

Dya menoleh dan menemukan Jennie adiknya yang melambaikan tangan dari jendela mobil merah yang entah milik siapa.

"Jennie? Ini mobil siapa?"

"Mobil temen kak"

Dya mengangguk percaya. Jennie punya teman-teman yang dari kalangan atas semua, sehingga mungkin meminjamkan mobil mereka bukanlah hal yang sulit.

"Jadi mau ngapain kesini?"

"Jemput kakak lah. Nggak mungkin kan aku biarin kakak pulang sendiri naik bus"

"Ohh makasih ya"

Gadis dengan rambut sebahu itu membuka pintu disamping kemudi mobil dan memasukinya. Ia duduk disamping adiknya yang masih mengenakan seragam sekolahnya itu.

"Kenapa nggak ganti baju dulu sih"

"Sekalian kak" Balas Jennie cengengesan

Dya hanya menggelengkan kepalanya merasa tak mengerti dengan sifat adik satu-satunya itu.

Mobil mulai berjalan membelah jalan raya yang masih terlihat ramai. Tak ada yang membuka suara diantara mereka sampai Dya mengernyit menyadari jika arah yang Jennie tuju bukanlah arah ke rumah mereka.

"Jen, kita mau kemana? Ini kan bukan jalan pulang"

"Kita kerumah temen aku bentar kak, pengen jemput dia. Katanya mau main ke rumah"

Dya mengangguk mengerti dan tak merasa curiga. Meski diam-diam Jennie tersenyum miring yang tak disadari gadis itu.

🌻🌻🌻

Gadis berseragam abu-abu itu mengernyitkan dahinya heran. Rumah di depannya terlihat asing dan menyeramkan

"Kamu yakin ini rumah temanmu itu?" Tanya Dya menatap tak enak rumah itu

"Tentu saja, aku sering datang kesini untuk bermain dengan temanku"

Jennie menarik lengan Dya semangat dan memasuki rumah tersebut.

Perasaan Dya kian tidak enak. Rumah itu sangat mewah dengan dua lantai dan banyaknya barang-barang antik didalamnya.

"Kakak tunggu disini sebentar, aku mau ke kamarnya dulu"

"Tapi...." Dya menahan lengan Jennie memintanya untuk tinggal

"Kakak tenang aja, gak bakal terjadi apa-apa kok. Dibelakang banyak pelayan jadi tidak ada yang akan melukai kakak"

Jennie meninggalkan Dya sendiri yang berada di tengah ruangan sepertinya itu ruang tamu.

Dengan takut-takut, Dya menduduki sofa panjang dibelakangnya.

Jennie menatapnya dari atas, senyum miring nya mengembang. Netranya Menatap puas wajah takut-takut gadis dibawah sana.

Sementara itu Dya bergerak gelisah ditempat duduknya. Entah kenapa hatinya berkata tempat itu bukanlah tempat yang aman. Ada sesuatu  di rumah tersebut.

"Jennie!!!" Karena tak tahan gadis itu akhirnya berteriak memanggil nama sang adik

"Jen!!!" Hening, tak ada yang menyahut membuat Dya semakin takut.

Ia kemudian beranjak menaiki tangga untuk melihat keberadaan adiknya itu, karena sungguh ia tidak tahan berada lama-lama didalam rumah itu.

"Jen!!!" Dya kembali berteriak. Namun sama seperti sebelumnya, tak ada seorang pun yang menyahut. Setidaknya jika benar ada orang lain disitu pasti mereka akan keluar saat mendengar suara orang asing.

Dya menatap ruangan didepannya. Di pintu tertulis 'Alia'

"Ini mungkin kamarnya" Gumam gadis itu dan segera memasuki kamar tersebut.

Namun tak ada siapapun didalam. Ruangan tersebut kosong, baik Jennie ataupun temannya itu tak ada disana.

Dya semakin panik, tak mungkin Jennie meninggalkannya sendirian dirumah itu.

"Mungkin salah kamar" Pikir gadis itu berusaha berpikir positif

Ia kembali beranjak akan keluar dari kamar tersebut sampai ia menyadari jika pintu kamar itu terkunci.

"Buka!! Siapa diluar!! Tolong buka!!"

Gadis itu menggedor-gedor pintu kamar tersebut namun tak juga terbuka.

"Jen!!! Tolongin kakak!!!"

Air mata gadis itu mulai keluar. Perasaannya semakin tak tenang. Bagaimana jika pemilik rumah itu sebenarnya adalah seorang penculik dan mereka sudah menculik Jennie dan dirinya.

"Tolong buka!!! Siapapun diluar!!!"

Dya semakin panik. Pikiran-pikiran buruk semakin memenuhi kepalanya.

"Oke Dy tenang, tenang. Gue harus cari pertolongan"

Gadis itu teringat, lalu merogoh tasnya untuk mencari ponsel.

"Please please"

Ponselnya menyala meski baterai nya tinggal 5 persen lagi. Dya mencari kontak Jennie dan buru-buru menelfonnya.

Panggilan pertama tak diangkat, dan Dya mencoba panggilan yang kedua yang akhirnya tersambung.

"Halo Jen!! Kamu dimana? Tolongin kakak, kakak kekunci nih"

Tak ada sahutan, gadis itu memastikan dan telfon masih tersambung.

"Jen. Hallo!!!"

"Jennie!!!"

"Good luck kakak ku"

Sambungan terputus. Gadis itu terpaku menatap tak percaya ponselnya yang sudah nonaktif karena baterainya yang sudah habis.

Jelas itu suara Jennie. Namun entah kenapa nada bicara Jennie berbeda.

Tanpa diperintah pikirannya melayang pada omongan-omongan Devon beberapa waktu.

"Lo harus hati-hati sama Jennie"

"Jennie bukan orang baik"

"Dia lagi ngerencanain sesuatu buat lo"

"Gue cuma gak mau lo kenapa-kenapa"

"Jangan percaya sama Jennie"

Dya menunduk. Air matanya kembali meluruh. Hatinya sesak. Kenyataan yang baru ia Terima sungguh sulit untuk diterima.

Tak mungkin, semuanya benar. Tak mungkin Jennie seperti itu. Jennie adiknya. Adik kecilnya yang selalu mengikutinya waktu kecil. Adiknya yang selalu ada disaat dia sedih.

"Devon"

TBC

EX✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang