Bab 16 : Ketika Bobby beraksi

841 46 0
                                        

Sorry for typo and happy Reading guys

Bobby meringis menatap seorang cowok yang masih saja memukuli samsak nya seperti orang kesetanan. Keringat bercucuran di kulit putih bersih nya karena ia yang tidak memakai baju alias shirtless.

Sementara Joshua hanya santai seraya memakan chiki nya tanpa beban disamping Abri yang sibuk dengan ponsel.

"Gue udah bilang, cinta itu nggak baik. Ya gimana baik orang kalo udah putus bikin orang sakit jiwa gini" Gumam Bobby entah pada siapa

"Apa lagi sih masalahnya?" Tanya Abri terus mengunyah

Bobby menaikkan bahu tak tau menahu. Kembali memperhatikan sahabat nya itu

"Kayaknya gue nggak boleh diam lagi. Gue nggak mau kalo Devon sampe jadi kayak dulu lagi"

Abri mengangguk sependapat dengan cowok bergigi kelinci itu.

"Tapi gimana? Apa yang boleh gue bantu?"

Bobby terdiam. Berpikir. Diikuti Jinwoo yang juga menghentikan kunyahan nya dan ikut berpikir.

Angin yang berhembus dari gazebo belakang rumah Bobby tak membuat pikiran mereka bekerja. Masih belum menemukan solusi yang harus diambil.

Joshua melirik, sebenarnya diam-diam mendengarkan perkataan kedua sahabat itu.

"Gimana kalo dimulai dari ngebuat Dya percaya kalo adeknya itu bukan orang baik?"

Bobby tersentak begitu juga Abri yang menatap Joshua berbinar.

"Gue setuju, gue harus bisa ngebuka mata Dya kalo orang yang dia liat baik itu belum tentu baik dan yang terlihat jahat itu bukan berarti bukan orang baik"

"Apaan sih, muter-muter lo Bob"

Abri melempar chiki nya kearah Bobby, Lama-lama tak tahan melihat tingkah absurd sahabatnya itu.

Mereka kembali diam dan balik memandang Devon yang mulai melemah kelelahan.

"Udah capek lo?"

Devon tak menjawab, cowok itu meminum rakus jus jeruk didepan Joshua.

"Lo kenapa nggak jelasin semuanya aja sih? Daripada gini, Dya makin jauh dan lo makin gila"

Abri mengumpat jadi merasa kesal sendiri padahal ucapan itu bukan untuknya.

"Lo Bob, ngomong bok yo di filter dulu. Ini ngerocos aja"

Bobby cemberut, memakan Chiki nya dengan kasar.

"Tapi yang kata Bobby bener juga sih, kenapa lo nggak coba bilang semuanya sama Dya?"

"Dan dia bakal tambah benci gue?"

Joshua terdiam, mengiyakan perkataan Devon. Jelas gadis itu tidak akan percaya dan malah semakin membenci Devon.

Bobby diam-diam berpikir. Meski petakilan dan tak pernah serius tapi Bobby punya sisi yang tak banyak orang tau. Rasa solidaritas persahabatan nya sangat kuat. Apapun akan ia lakukan jika itu menyangkut tentang sahabat-sahabat apalagi ini Devon, sahabatnya sejak 6 tahun terakhir. Sudah mengenal sejak Masih kelas satu SMP.

Dan ia sudah memikirkan, ia harus melakukan sesuatu.

🌻🌻🌻

Bobby berjalan riang sedikit melompat-lompat kecil. Entah kenapa merasa senang saat akan bertemu dengan gadis itu.

"Pagi Anandya!!!"

Dya menoleh, sedikit mengernyit tumben cowok bergigi kelinci datang menemuinya.

"Kenapa?"

Bobby meringis beralih memandangi ketiga sahabat gadis itu yang ikut menatapinya penasaran.

"Boleh ngomong berdua nggak??"

Dya menipiskan bibirnya, entah kenapa merasa gelisah ketika cowok itu tiba-tiba berubah serius.

"Kenapa harus berdua?" Celetuk Caramel dibalas senggolan tak santai dari Acha

"Hmmm boleh"

"Dy, lo  yakin? Tampangnya nggak ngenyakinin gitu" Bisik Caramel

"Tenang aja, dia gak gigit kok"

Caramel mengerucutkan bibirnya, sedikit kesal merasa tak didengarkan.

Dya bangkit dan berjalan duluan diekori Bobby dibelakang.

Sesampainya di perpustakaan, Dya kembali menatap Bobby.

"Apa?"

Bobby membasahi bibirnya gelisah, tak tau harus memulai dari mana.

"Jadi gini, gue tau hubungan lo sama Devon lagi nggak baik. Gue ngerti kenapa lo bisa mikir gitu, gue juga mungkin bakal mikir sama seandainya di situasi itu. Tapi Dy, lo nggak bisa gitu liat dari sisi pandang nya Devon??"

"Devon?? Maksud lo?"

"Ya.... Gini lo, lo pernah nggak cerita sama Jennie kalo keyla ada ngapa-ngapain lo?"

Dya terdiam, baru tersadar. Ia tidak pernah menceritakan secara rinci bahwa Keyla menyakitinya. Hanya bercerita tentang ia yang kecewa dihianati.

"Nggak pernah kan? Jadi menurut lo kenapa Jennie tiba-tiba datengin Keyla dengan dalih pengen nyuruh dia jauh-jauh dari lo karena dia udah nyakitin lo?"

"Lo ngerasa aneh nggak sih sama hubungan Devon sama Keyla?"

"Aneh kenapa?"

"Sebelum atau sesudah kejadian itu, lo pernah nggak ngeliat Devon dan Keyla lagi jalan sama atau gimana?? Atau lo pernah liat mereka romantis-romantisan gitu?"

Dya baru teringat, sejak saat itu Devon tak pernah terlihat bersama Kea meski ia menjauhi cowok itu tapi ia yakin kedekatan Devon dan Keyla tak pernah kelewat biasa dan masih terbilang normal.

"Lo nggak bisa mikir gitu, kenapa Devon dan Keyla ngelakuin itu? Dan kenapa lo nggak coba dengerin penjelasan Devon atau Keyla?. Tentang Devon yang nampar Jennie, oke gue akui Devon sedikit kelewatan. Tapi lo tau kan Devon nggak mudah kepancing emosi, dia cenderung bodo amat dan tetep diam. Tapi kenapa dia sampai bisa main tangan sama Jennie itu pasti ada alasan nya"

Bobby menarik nafas, lalu kembali melanjutkan ucapannya

"Menurut lo kenapa Devon bisa sampe ngelakuin itu? Pasti ada sesuatu yang udah Jennie lakuin dan itu udah kelewatan di mata Devon. Gue sebenarnya tau, tapi itu bukan kewajiban gue untuk bilang. Gue saranin lo coba dengerin penjelasan Devon. Daripada nanti lo nyesel udah mihak orang yang salah"

Dya mengerjap, masih mencoba mencerna ucapan panjang cowok itu.

"Lo ngomong gini disuru Devon?"

"Nggak, ini murni inisiatif gue sendiri. Bahkan Devon nggak tau"

"Kenapa? Kenapa lo sampe ngomong gini?"

"Gue capek ngeliat Devon yang terus ngamuk dan nyakitin dirinya sendiri"

Dya tertegun, merasa kaget mendengar fakta itu. Sejak kapan Devon suka menyakiti dirinya sendiri?

Bobby menepuk pelan bahu gadis itu lalu beranjak saat bel masuk sudah berbunyi.

Namun, tiba-tiba berhenti

"Devon ada dibelakang kantin kalo lo pengen ketemu"

Lalu kembali melanjutkan langkahnya. Merasa tugasnya sudah selesai, sekarang tinggal gadis itu yang mengambil keputusan sendiri.

TBC

EX✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang