Sorry for typo and happy reading
Terkadang Dya berpikir, pilihannya untuk menjadikan Devon sebagai Teman adalah suatu kesalahan besar. Karena saat ini gadis itu merasa menyesal berkata pada Devon jika tentang pilihan yang ia maksud adalah dengan tetap menjadikan Devon sebagai teman, tidak lebih.
Mungkin perkataan Jennie beberapa waktu lalu ada benarnya tak mungkin jika suatu saat nanti Devon akan kembali menyakiti nya, tapi Dya kembali merasa jika sudah saatnya ia berdamai dengan masa lalu dan sepertinya mencari kekasih baru ada baiknya.
Tapi sebelum niat itu Dya laksanakan Devon malah terus-menerus menempel padanya seperti lintah yang tak bisa lepas. Cowok itu selalu mengikutinya kemana-mana selama disekolah layaknya seperti ekor.
Sudah dua hari Devon pindah tempat duduk disamping Dya dengan alasan ingin dekat dengan Caramel agar bisa mengerjakan tugas biologi karena mereka memang satu kelompok. Tapi kalau cuma ingin biar dekat dengan Caramel kenapa tidak duduk langsung disamping nya, tapi lagi-lagi Devon menyanggah dengan mengatakan tak ingin membuat skandal dengan Rafa.
Ditambah lagi Elisa yang teman sebangku nya sejak awal malah menurut saja disuruh pindah saat diiming-imingi novel terbaru.
Hari ketiga, dan Devon masih tak bergeming meski sudah gadis itu usir berkali-kali. Tetap saja mengekor kemana gadis itu pergi bahkan rela menungguinya didepan pintu toilet perempuan.
Seperti saat ini, Dya harus lagi-lagi menahan kekesalannya karena Devon yang masih mengikutinya sampai ke perpustakaan.
"Lo pacaran ya sama Devon?"
Dya menghela nafas, itu Sudah pertanyaan ke seribu yang siswa-siswi lain lontarkan. Dan untuk kesekian kali ia juga akan menjawab
"Nggak!! Pacar gue cuma Kim woobin seorang!!"
Dya hampir akan maju dan menjambak rambut Lia yang baru saja bertanya jika tidak ditahan Elisa dan Rian
"Kalem Dy!! Ya Allah, istighfar Dy istighfar. Inget jambak rambut orang itu dosa"
Elisa mendengus, bukannya menenangkan situasi Rian malah menambah keributan
"He kecebong, balik gih ke ragunan. Gak guna lo disini"
Rian berengut kesal dengan bibir yang mengerucut. Tak ada kesan kalemnya sama sekali.
"Salah gue apa sih? Gue kan cuma nanya. Kalo nggak yaudah nggak usah ngegas"
Lia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan membuat Dya kembali gatal ingin menjambak rambut hitam panjang itu.
"Li kalo gue bilangin mending lo balik aja, Dya lagi dalam mode Macan pms kalo ntar dia ngamuk rambut indah lo itu bakal botak. Emang lo mau?"
Rian berbisik pelan, terang-terangan ingin mengusir
"Yaudah deh gue balik, gak guna juga"
Lia berbalik dan pergi meninggalkan Dya yang masih mengatur emosinya.
Gadis itu benar-benar marah dan muak tapi tak tau harus berbuat apa lagi. Ia melihat ke belakang dimana Devon dengan santai bersandar di dinding koridor kelas sepuluh. Senyum kecil bisa Dya lihat dari bibir penuh cowok jangkung itu.
"Ke kelas yok Dy"
Dya kembali menatap Elisa dan Rian. Lalu berjalan duluan meninggalkan Elisa. Begitu juga Devon yang mulai ikut beranjak
"Gue tau apa yang lo rencanain"
Devon terhenti, cowok dengan seragam acak-acakan itu menatap datar Elisa
"Lo nggak mau cewek itu gangguin Dya kan?"
Elisa menembak telak membuat Devon menipiskan bibir
"Lo.... Tau?"
"Nggak, tapi gue bisa tarik benang merah dari semua yang terjadi antara lo, Dya, Keyla dan orang itu"
Rian yang ada disamping Elisa hanya bisa diam tak mengerti arah pembicaraan dua orang itu
"Kalau lo tau, lo harus bantuin gue"
"Lo pikir kenapa gue beberapa hari ini selalu sama Dya?"
Devon mengangguk mengerti. Ia bisa mengerti dengan jelas maksud gadis itu.
"Lo berdua ngomong apaan sih?"
Tak tahan terus menjadi pot bunga diujung ruangan yang tak bernyawa, Rian akhirnya buka suara
"Nggak, cuma masalah kecil"
Elisa menarik lengan Rian dan membawa nya pergi menuju kelas. Rian kembali diam tertarik pasrah begitu saja oleh cewek mungil itu.
🌻🌻🌻
Kehadiran Devon sebagai siswa baru yang memiliki wajah tampan, badan tegap dan proporsional membuatnya terkenal begitu saja. Ditambah ia yang berteman dengan Axel si boyfriend material dan Rafa Sevtian si Casanova Starlight membuatnya banyak dikenal anak-anak kelas sebelas maupun sepuluh atau dua belas. Dari degem sampai kakak kelas eksis.
Maka tak heran jika keberadaan Devon kerap mengundang perhatian dari penghuni sekolah. Dan saat kabar Devon dan Dya tengah terlibat hubungan berhembus kencang tak pelak membuat banyak orang gempar.
Apalagi jika kabar tersebut mengatakan jika Devon yang mengejar-ngejar Dya,membuat para fans Devon seakan mencibir gadis itu yang terlihat seperti sok jual mahal.
Dan kabar itu cukup membuat Dya risih, ingin mengkonfirmasi semua rasanya percuma. Lagipula siapa yang tak salah tanggap jika melihat kelakuan Devon yang sudah seperti lintah menjijikkan yang menempel padanya setiap hari.
Mencoba merilekskan pikirannya Dya mencoba menutup matanya dengan tangan terlipat diatas meja sebagai bantal.
Menghiraukan suasana kelas yang tak bisa diam. Kertas-kertas berserakan disegala tempat karena Martin dan Johnny yang sedang lomba membuat pesawat terbang dari kertas dan menerbangkannya, anak-anak lain yang ikut meramaikan membuat kelas kian tidak terkontrol.
Menghela nafas lelah Dya mulai memejamkan mata. Nafasnya mengalun teratur.
Dya masih terpejam sampai tak menyadari seseorang duduk di sampingnya dan ikut menempelkan pipinya di atas meja, mulai memandangi wajah Damai gadis itu.
Hatinya menghangat seiring dengan desiran darahnya yang mengalir deras menjalar hingga ke pipi membuat pipinya merona.
Tangannya terangkat dan dengan lembut menyingkirkan anak rambut yang berjatuhan di kening gadis itu.
Senyumnya kembali merekah, betapa ia sangat menikmati momen ini. Momen yang sangat ia rindukan selama dua tahun ini.
"Gue kangen"
TBC
