Sorry for typo
And happy Reading
"Gimana keadaan Dya, Xel?" Sesampainya di rumah sakit Devon langsung menanyai Axel dengan tak sabaran
"Tadi dokternya udah keluar, katanya Dya nggak papa cuma luka tusuknya lumayan lebar tapi nggak nyampe lukain organ dalemnya" Papar Axel menjelaskan
"Jadi sekarang dia gimana?" Tanya Devon lagi
"Lagi istirahat. Kata dokter kita nunggu obat biusnya habis dulu baru kita bisa jenguk"
Devon mendesah lega. Ia sangat takut jika terjadi sesuatu pada gadis itu
"Syukur deh"
Devon merosot, langsung duduk disamping Acha dan Caramel.
"Lo semua balik aja, thanks udah bantuin gue sampe sejauh ini"
"Its ok Von, lo itu sahabat kita" Balas Martjn
"Yaudah deh, kita balik duluan ya Von. Kalo ada apa-apa telfon aja" Jaka undur diri diikuti oleh Yang lainnya dibelakang.
"Bentar lagi ortu Dya bakal dateng kok"
Devon mengangguk, membiarkan Axel serta yang lainnya pergi meninggalkan dia sendiri.
"DIMANA DYA??"
Kedua orang tua serta Yuda abang dari sang gadis datang tergesa-gesa langsung menghampiri Devon
"Tante tenang aja,Dya baik-baik aja kok" Balas Devon berusaha menenangkan
"Haaaa syukur deh" Luna menghembuskan nafas lega
"Kenapa ini bisa terjadi??"
Devon menelan ludahnya gugup. Tatapan datar dari Rafi papanya Dya membuat nyali Devon ciut seketika.
"I-ini semua salah saya om. Gara-gara saya wanita itu berbuat nekat dan nyakitin Dya" Balas Devon gugup
"Haaaa, saya pengen marahin kamu tapi bagaimana lagi, semua sudah terjadi"
Diam-diam Devon menghembuskan nafas lega tak diamuk pria paruh baya itu.
"Permisi, keluarga pasien" seorang suster tiba-tiba keluar dari ruang inap Dya
"Iya suster"
"Pasien sudah sadar, dan boleh dijenguk"
Devon mendesah lega.
Segera mereka masuk kedalam ruangan Dya.
"Ya ampun sayang, kok bisa gini sih? Siapa yang ngelakuin ini? Siapa? Ayo ngomong sama mama, biar mama hajar tuh orang" Luna berujar menggebu-gebu seakan benar-benar marah
"Nggak papa kok ma, aku juga udah baik-baik aja" Balas Dya lemah
"Kamu sih dek, udah dibilangin nggak usah temenan sama sembarangan orang. Kan jadi gini jadinya" Yuda berujar seraya melirik Devon tajam
"Apa sih kak, bukan salahnya Devon juga"
Devon tersenyum dalam hati. Perasaannya menghangat saat gadis itu membelanya seperti ini.
"Oh iya ma pa kak aku pengen bicara sama Devon dulu"
"gak boleh, ntar kamu kenapa-napa lagi"
"Tenang aja kak, gue nggak bakal nyakitin Dya kok"
"Udah-udah, Yuda kamu apaan sih. Biarin aja lah. Yok pa kita keluar. Kamu juga bang"
Yuda ingin protes. Bagaimana mungkin mamanya itu mengijinkan Dya berduaan dengan cowok seperti itu.
"Tapi ma...."
"Udah lah bang"
Rafi menepuk pelan bahu Yuda lalu berjalan mengikuti istrinya keluar.
Dengan lemas Yuda mengikuti mereka. Namun matanya tetap melirik tajam pada Devon.
"Awas lo ngapa-ngapain Dya lagi" ancamnya menunjuk Devon
"I-iya bang"
Devon mendekat. Kali ini berdiri tepat di samping brankar Dya.
"Gimana keadaan lo?" Tanya nya pelan
"Gue nggak papa"
Devon mengangguk.
"Gimana Jennie?"
Devon menghela nafas. Sudah menduga gadis itu akan menanyakan hal itu.
"Dia..... Bukan Jennie"
Dya mengerutkan kening tak mengerti. Bagaiamana mungkin dia salah mengenali adiknya sendiri.
"Maksud lo?"
"Dia itu Riana yang nyamar jadi Jennie"
"Riana siapa?"
Devon mendesah. Cowok itu bingung sendiri harus menjelaskan dari mana.
"Jadi gini, dulu gue pernah bantuin cewek. Dia dulu dibully sama kakak-kakak kelasnya dan gue tolongin. Gue pikir pertemuan itu cukup sampai disitu. Tapi ternyata dia suka sama gue. Dia mulai ngelakuin hal-hal yang ngebuat biar kita putus"
Devon menarik nafas. Sementara Dya masih mendengarkan seksama.
"Sampai dia nyamar jadi Jennie dan ngancem Keyla buat bikin kita putus. Dia berhasil, tapi belum sempat dia tunjukin dirinya yang asli gue keburu tamat dari SMP dan pindah keluar negeri. Sampai akhirnya dia tau gue udah balik dan dia kembali ngelanjutin rencananya. Tapi saat dia tau kalo gue dan lo masih berhubungan dia kembali ngelakuin berbagai cara buat kita jauh. Dia pura-pura jadi Jennie lagi dan berniat ngebunuh lo dan Jennie yang akan dituduh. Setelah itu dia bakal balik lagi buat deketin gue sebagai Jessica"
Dya speechless. Bagaimana mungkin ada cewek se cerdik itu sampai-sampai ia sendiri bisa dikelabui.
"Lo tau darimana?"
"Dari awal gue udah curiga ngeliat sikap Jennie yang kadang berubah-ubah kayak Jennie ada dua. Dan setelah gue selidiki ternyata bener"
Devon maju lalu menggengam erat tangan gadis itu.
"Sorry, ini semua salah gue. Gara-gara gue lo jadi terluka gini. Gara-gara gue hampir aja Jennie jadi tersangka"
Cowok itu menatap Dya sayu. Ia benar-benar merasa bersalah.
"Ini bukan salah lo. Mungkin jalan pikirannya aja yang terlalu sempit" Balas Dya menenangkan.
"Ya.... Tapi ini salah gue juga, andai gue nggak bantuin itu cewek"
"Husss gak boleh gitu. Bantuin orang harus ikhlas"
Devon terkekeh. Tanpa sadar tangannya terjulur dan mengusap puncak kepala gadis itu lembut, membuat si empunya terdiam tak berkutik.
"Lo selalu aja ngegemesin"
Pipi Dya memanas. Entah karena ucapan cowok itu atau kepalanya yang masih saja diusap lembut.
"Sorry ya"
"Ck iya iya udah gue maafin lepasin dong"
Dengan tak rela Devon menarik kembali tangannya.
"Dy, balikan yuk"
Dya mengerjap. Ia merasa syok atas pernyataan santai cowok itu. Maksudnya di rumah sakit? Nggak romantis banget.
"Yakin lo?"
Devon mengambil tangan Dya lalu kembali menggenggamnya erat.
"Pokoknya lagu Twice ya"
"Apa?"
"Yes or Yes?"
Yes bang
TBC
