Snow,Ramiel dan Al berjalan mengelilingi desa. Beberapa orang menyapa mereka bahkan ada yang berbaik hati memberikan mereka makanan.
Snow dan Ramiel terlihat sangat menikmati perjalanan mereka mengelilingi desa ini sedangkan Al berjalan dengan hati yang gelisah.
"Kalian berdua bisa berhenti sebentar aku ingin berbicara" Kata Al yang membuat Snow dan Ramiel berhenti dan langsung mendekati Al.
"Ada apa Aldian?" Tanya Ramiel sambil memakan apel yang di berikan oleh salah satu warga.
"Apa kalian tidak merasa aneh dari desa ini?" Tanya Al dengan nada serius.
"Ya memang ada yang aneh. Mereka dengan sukarela memberikan kita beberapa apel. Jarang ada yang mau memberikan sesuatu secara gratis" Kata Ramiel dengan nada bercanda.
"Aku serius!" Al berkata dengan nada yang marah. "Apa kalian dari tadi tidak merasakan aura gelap di sekitar sini! Aku juga merasakan bahwa dari tadi ada seseorang yang memperhatikan kita!" Kata Al sedikit berteriak.
"Al jangan berteriak nanti ada yang mendengar kita" Kata Snow lembut kepada Al.
"Aldian apa maksudmu dengan aura gelap? Aku dari tadi tidak merasakan apa-pun di sekitar desa ini" Kata Ramiel tenang.
"Ram bagaimana bisa kau yang seorang Kebajikan tidak merasakannya. Semenjak kita datang aku sudah merasakan aura yang pekat di sini!" Al semakin marah.
"Kenapa kau jadi marah seperti itu. Bukan salahku jika aku tidak merasakannya!" Ramiel perlahan juga ikutan marah.
'Yah mereka jadi bertengkar. Baru kali ini aku mendengar Al semarah itu. Dan...Rani malah ikutan marah-marah. Ya...walaupun hatinya penuh kebaikan pastinya tetap ada rasa amarah di hatinya' Kata Snow dalam hati.
Ketika Snow berbalik dia melihat ada seorang anak kecil berdiri di belakangnya. Anak kecil itu menarik-narik bajunya dan menunjuk ke suatu tempat. Anak kecil itu menarik tangan Snow ke suatu tempat dan meninggalkan Al dan Ramiel yang sedang bertengkar.
"Hei...kau ingin membawaku kemana?" Tanya Snow pada anak kecil yang menarik tangannya itu.
Anak kecil itu tidak menjawab sama sekali dia hanya terus berjalan sambil menggenggam tangan Snow.
Snow tidak berpikiran buruk yang dia pikirkan hanyalah bahwa anak ini hanya ingin di ajak bermain. Namun pikiran Snow berubah ketika tau anak itu membawanya ke mana. Mereka berdua berada di pintu keluar desa itu dan pintu keluar itu langsung menuju ke arah hutan.
"Dik sebenarnya kau ingin pergi ke mana?" Snow sedikit ketakutan. Anak itu tidak menjawab apa-apa namun terlihat tubuhnya bergetar seperti menahan rasa sakit.
Snow berjalan mundur perlahan-lahan menjauhi anak itu namun beberapa meter dia bergerak Snow menabrak seseorang berbadan besar.
Snow menoleh ke arah orang itu dan melihat seorang pria berbadan besar dan di wajahnya terdapat banyak luka. Tapi anehnya wajah orang itu tidak menunjukan ekspresi apa-pun seolah-olah tidak ada kehidupan di dalam tubuh orang itu.
"Kau ikutlah dengan kami! Kami akan membawamu kepada yang mulia!" Kata seorang laki-laki yang berada di samping pria berbadan besar itu. Sama dengan pria di sampingnya laki-laki itu tidak menunjukan ekspresi apa-pun.
Tiba-tiba pria berbadan besar mengangkat Snow dan berjalan keluar dari desa dan menuju ke arah dalam hutan.
Snow memukul-mukul badan pria itu namun tidak ada reaksi apapun.
"Turunkan aku!!!" Snow terus memukul pria itu agar dia mau menurunkannya.
'Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Apa aku sebaiknya menyerangnya dengan es tapi...aku tidak tau cara mengeluarkannya. Dimana Al dan Ramiel ketika aku membutuhkannya?'
KAMU SEDANG MEMBACA
The Chosen One
FantasíaSemenjak kejadian itu Snow harus menjalani kehidupannya sehari-harinya berbeda dengan kehidupan sebelumnya. Bersama dengan Al, Snow berkeliling di dunia yang berbeda mencari orang yang mau membantunya mengalahkan Ratu Kegelapan. Di dalam perjalanny...
