Dengan gesit Snow menangkis setiap serangan yang diberikan oleh Amon.
'Pedang ini sangat ringan...' batin Snow yang merasakan pedang Element yang terasa sangat ringan di genggaman tangannya.
Snow berusaha menyerang Amon dengan pedang Element. Dia mengayunkan pedangnya ke arah Amon namun berhasil di tangkis dengan mudah olehnya.
"Hah...gerakan apa itu barusan? Gerakanmu sangat mudah untuk di tebak. Apa ini pertama kalinya kau memegang sebuah pedang?" Ledek Amon dengan senyuman meremehkan tepat di depan wajah Snow.
Snow merasa terhina dengan kata-kata Amon barusan. Dia segera mendorong pedangnya ke arah Amon membuatnya terdorong beberapa meter darinya.
Snow merasa kesal dengan hinaan Amon. Tapi apa yang dikatakannya memang benar ini pertama kalinya Snow memegang sebuah pedang asli jadi wajar saja kalau pergerakan tangannya sangat kaku.
Walau dia tidak memiliki pengalaman dengan pedang Snow berusaha untuk bertarung menggunakan pedang. Snow sudah banyak melihat bagaimana teman-temannya bertarung menggunakan pedang dan Snow bisa menggunakan teknik cara bertarung mereka.
Snow mengangkat pedangnya ke depan bersiap menerima serangan dari Amon.
"Ada apa kenapa kau berhenti? Kalau kau seperti itu aku yang akan menyerangmu duluan!" Amon memutar pedangnya ke depan secara perlahan. Pedang itu berputar perlahan membuat sebuah bayangan yang mengikuti putaran pedang itu.
Aura di sekitar mereka mendadak berubah dan Snow merasa sangat tidak enak dengan keadaan ini.
"Akhh..." Mendadak tubuh Snow terjatuh kebawah, kaki sebelah kanan dan pedangnya menahan tubuh Snow agar tubuhnya tidak jatuh ke tanah.
'Ada apa ini? Tubuhku terasa sangat berat dan rasanya tubuhku seperti ditarik ke bawah' Snow berusaha untuk berdiri namun percuma tubuhnya benar-benar terasa sangat berat bahkan dia tidak bisa menyeimbangkan posisinya sekarang.
Snow menatap ke depan melihat kearah tempat berdirinya Amon. Namun orang yang dicarinya ternyata menghilang tanpa jejak.
'Kemana perginya dia?...sial aku tidak bisa bergerak sama sekali' keluh Snow tetap mempertahankan posisinya sekarang.
Snow sekarang tidak bisa melihat apa-apa,penglihatannya terbatas dikarenakan kabut putih tebal yang menghalangi pandangannya. Namun penglihatannya terbatas dia bisa mendengar suara berisik dari luar kabut.
SHRINGG
Sebuah pisau tajam melesat tepat menuju ke arah kepala Snow. Snow segera menghindari pisau itu dengan memerengkan kepalanya ke kanan.
"Ukhh..." Snow merasakan nyeri di bagian pipi kirinya yang ternyata tergores oleh pisau tadi.
Luka di bagian pipi kiri Snow membuat tubuh Snow mendadak menjadi sangat sakit dan bahkan dia mulai kehilangan kesadarannya.
'Ukh...racun...' Snow tetap mempertahankan dirinya untuk tetap sadar. Snow tersenyum menahan rasa sakit yang mulai menjadi-jadi.
'Apa aku akan mati disini?...Sudah dua kali aku terkena racun...apa aku akan mati?' Snow mulai merasa pasrah. Berada di tengah kabut putih dan tidak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali.
'Aku merasa sesak disini...maaf kakak aku tidak bisa hidup lama sesuai janjiku padamu' Snow perlahan memejamkan matanya merelakan nasibnya sekarang.
****
"Kakak!" Teriak seorang gadis kecil dengan rambut berwarna putih salju berlari sambil memeluk orang yang dipanggilnya kakak itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Chosen One
FantasySemenjak kejadian itu Snow harus menjalani kehidupannya sehari-harinya berbeda dengan kehidupan sebelumnya. Bersama dengan Al, Snow berkeliling di dunia yang berbeda mencari orang yang mau membantunya mengalahkan Ratu Kegelapan. Di dalam perjalanny...
