11.|8

126 25 0
                                    

Start

"Maaf"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Maaf"


Hyena mengangkat pelan kepalanya, menghadap seseorang yang berada dihadapannya sedang menjulurkan tangan dengan senyum yang senantiasa bersamanya. Ia mengernyit heran, lalu duduk tegak memperbaiki posisinya.

"Untuk apa ?" Yohan berjalan kebelakang, membuat Hyena terus memandangnya.

"Karena pertayaan semalam. Maaf kalau itu buat kamu sedih. Maaf kalau itu yang bikin mata kamu bengkak sekarang"

Hyena masih senantiasa memandang Yohan hingga ia merunduk. Lalu kembali dengan senyuman lebar. Dan entah mengapa, ia memilih mengusap pelan rambut Yohan menyisakan bekas senyum diwajahnya.

"Aku nggak sedih karena pertayaan itu. Lagian aneh juga kalau aku nangis gara-gara pertayaan tentang Yeri. Jadi, kamu gak usah khawatir" serunya sambil menepuk pelan bahu Yohan dan berputar balik kebentuk posisi sebelumnya. Tersenyum gentir lalu setelahnya kembali menunduk. Menenggelamkan wajahnya, memastikan ini akan berjalan baik kedepannya.

Yohan mematung, ada sensasi gila setelah Hyena mengusap pelan rambutnya. Ia cepat-cepat menggelengkan kepalanya, lalu memilih mengambil kursi untuk duduk disamping Hyena.

"Kamu sakit ? Chayani mana ? Belum datang ?" ucapannya kembali membuat Hyena mengangkat kepalanya.

"Aku sehat. Mustahil Chayani datang jam segini, masih pagi juga. Lagian kamu kok sendiri. Handika mana ?"

"Handika kan hiperaktif. Lagi kenalan sama abang kelas 11 deh, tadi kayaknya"

Hyena tersenyum lalu memilih diam. Memilih menenggelamkan kepalanya tanpa besuara sedikitpun. Gerakannya membuat Yohan menghela nafas dan ikut terbaring disamping kepala Hyena. Memandang gadis itu dan tersenyum.

Masih memandang gadis itu, hingga suatu kertas menarik atensinya. Kertas yang tertulis ratusan kata dengan nama yang sama. Tunggu, Fanesa Auristela ?. Yohan mengeryitkan dahinya dan secara tiba-tiba kertas itu terbang kearah samping Hyena yang membuat Yohan dengan segera mengambilnya.

"Ett dah.. Yohan ngapain lo ?"

Suara itu, suara Handika. Membuat Hyena mengangkat kepalanya dan tanpa sengaja kepala Hyena bertabrakan dengan Yohan yang sedang diatasnya mengambil kertas itu. Mereka sama-sama meringis pelan dan dengan segera Yohan memilih menyembunyikan kertas yang tadi didapatinya.

"Maaf Hyewon, tadi saya mau lihat sesuatu dikepala kamu. Maaf ya" katanya lalu berjalan pelan kearah bangku yang ia tempati.

"Ett dah Yo.. Lo mah kurang kerjaan. Mau mastiin ada atau nggak kutu dikepala Hyewon ya ?" tanya Handika, membuat Yohan menatap jengkel padanya. Oke, dia tahu ini saatnya mendengarkan celotehan aneh sepupunya itu.

"Lo tau gak Hye, si Yohan dulu suka nyari kutu dirambut gue tau. Aneh tu anak emang" katanya sambil duduk didepan Hyena yang sedang tertawa pelan.

"Emang iya, Yo ?. Kurang kerjaan banget kamu"

"Kamu percaya sama dia ? Ngada-ngada dia"

Mereka masih tertawa, membuat kebisingan dikelas mereka yang dengan beberapa menit. Terisi oleh beberapa siswa. Kehadiran Lucas dan Chayani membuat bahan tertawa mereka semakin besar. Berbeda dengan Hyena yang hanya tertawa pelan, membuat Yohan keheranan sendiri.

Hingga ia tersadar, Hyena berhenti tertawa dan memandang lurus kearah depan. Memandang Yeri dengan intens dan memilih pamit pergi dengan Chayani.

"Ohh iya Yo,Cas. Gue mau jumpain woojin nii. Katanya tadi ada beberapa kertas yang mau dikasih. Gue gatau kertas apaan. Mau ikut, gak ?" seru Handika membuat Yohan melepaskan pandanganya pada Yeri.

"Gue ikut dah" kata Lucas ikut memandang pada Yohan.

"Saya disini aja"

Mereka berdua mengganguk dan dengan segera Yohan membuka  kertas yang dia ambil tadi. Tertulis nama 'fanesa auristela' dan satu catatan kecil. Catatan kecil yang benar-benar sulit untuk dibaca. Yohan memicingkan matanya, hingga ia mengerti. 'Aku nggak benci Yeri demi fanesa, bukan karena keinginanku'.

"Selamat pagi, Yohan" Yohan terkejut dan dengan segera menyembunyikan kertas itu dibalik bukunya. Tersenyum canggung pada Yeri yang sedang tersenyum padanya.

"Selamat pagi juga Yeri"

"Kamu mau kawanin saya gak, ke perpustakaan. Mau ngambil beberapa buku, kayaknya masih 15 menit lagi masuk"

"Mau, yaudah ayo"

Mereka berdua berjalan, menelusuri lorong-lorong kelas. Berbincang dikit lalu dalam beberapa detik. Pintu perpustakaan sudah ada didepan mereka. Memang jarak antara perpustakaan dengan kelas mereka hanya berbeda beberapa meter. Jadi tak heran, mereka sampai dalam beberapa detik.

"Mau cari buku apa, Yeri ?"

"Reverensi buku biologi. Mau baca-baca aja, rencana sih aku mau masuk herbarium"

"Ohh"

Gumam Yohan. Lalu kembali berjalan, memilih mengambil buku tebal yang entah apa isinya. Ia masih sibuk mencari, hingga ia terdiam. Mendengar suara Hyena dan Chayani yang melewati jendela perpustakaan. Percakapan sekilas yang membuatnya makin bingung.

"Udahlah Hye, lagian Yeri kayaknya gak tau kalau lo kakaknya Fanesa" seru Chayani

Yohan bergerak mendekat kearah Yeri. Di meja perpustakaan sedang sibuk membolak-balikan buku. Ia duduk lalu membuka bukunya. Enggan bersuara, hanya ada suara kertas yang dibolak-balikan. Lalu Yeri kembali membuka percakapan.

"Tadi kayaknya kamu baca surat, kok waktu datang aku langsung disembunyiin ?" tanya Yeri, membuat Yohan berpikir sebentar lalu menatapnya.

"Cuman tulisan nama, kalau gak salah. Nama adiknya Hyewon"

"Emang nama adek Hyewon siapa ?" Yohan terpaku lalu dengan segera mengucapkannya

"Fanesa Auristela" dan secara tiba-tiba Yeri mematung. Terpaku oleh nama itu dan memilih memalingkan wajahnya.

Hening

Yohan berdehem kecil, lalu memegang bahu Yeri," Kamu kenapa ?"

"Gpp" ucapnya sambil berusaha mengelak.

"Gpp" ucapnya sambil berusaha mengelak

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Next ...

Jangan lupa vommentnya !!

Have fun !!

hi again ! | Yohan × Hyewon Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang