Heejin mendengus menatap kedua bola mata pria yang dijulukinya si pengecut, merupakan pria yang sesuai dengan tebakannya. Namun saat itu ia tidak ingin terlalu terburu-buru dan menggebu-gebu karena takut terkaannya akan salah seperti sebelumnya.
Tapi ketika akhirnya tahu siapa orangnya, Heejin jadi makin tidak bersemangat
"Kau masih memikirkan Mark, benar?" tanya Jaemin, si pengecut.
Heejin menundukkan kepala, menyembunyikan air matanya yang bisa terjatuh kapan saja.
"Apa detensimu sangat sulit?" tanya Heejin, tidak membalas pertanyaan Jaemin.
Jaemin tidak membalas, ia hanya memandangi Heejin dengan pandangan yang sulit diartikan. Jaemin memang terkena detensi dari Professor Flitwick terkait pertengkarannya dengan Mark. Tapi ayolah, Jaemin mau mengajak Heejin bicara serius, tapi kenapa perempuan itu malah membahas hal yang lain?
"Aku minta maaf, kau jadi harus menjalani detensi" kata Heejin, masih terus menghindari pandangan Jaemin.
"Bukan detensi pertamaku, jangan dipikirkan" kata Jaemin dengan suara yang begitu rendah.
Jaemin jadi bingung sendiri bagaimana memulainya, karena ia tidak ingin menyakiti Heejin. Gowon sudah bercerita padanya terkait yang dialami Mark terhadap Heejin, dan terkaannya serupa dengan yang didengarnya kemarin -- saat Mark dan Heejin bertengkar didepan rumah sakit.
"Pertanyaanku di rumah sakit sudah terjawab berarti" kata Heejin tiba-tiba, padahal Jaemin kira gadis itu akan diam terus.
Pertanyaan di rumah sakit?
"Kau ada di sana malam itu untuk mengawasiku menaruh surat di belakang lukisan kan? terimakasih sudah mau menolong dan mengantarkanku, kalau tidak ada kau mungkin aku sudah ditangkat Filch dan mendapat hukuman" jelas Heejin, panjang lebar.
Jaemin masih diam, mengamati setiap inci wajah Heejin yang lelah, matanya yang sembab dan bengkak serta hidungnya yang memerah. Membuat Jaemin yakin bahwa gadis itu menangis sepanjang hari semenjak pertengkarannya dengan Mark.
"Aku tidak akan bertanya jubah apa yang kau gunakan, itu privasimu. Dan aku tidak akan bilang pada siapapun" tambah Heejin, lagi.
"Sebegitu sukanya kau pada Mark Lee sampai terus menangisinya seperti ini?" akhirnya Jaemin berujar meskipun tidak nyambung dengan ucapan Heejin sebelumnya. Hal itu membuat Heejin mendongak dan memperlihatkan mata indahnya yang berkaca-kaca.
Heejin terdiam tidak berucap, dan Jaemin mendapatkan jawabannya.
Atau setidaknya Jaemin mengira itu jawabannya.
"Aku akan bicara pada Mark" kata Jaemin, tiba-tiba. Kemudian beranjak pergi.
Heejin terkejut, "Tidak! Jaemin-ah!" panggilnya, membuat langkahan kaki Jaemin berhenti. "Dia sudah membenciku, kau tidak akan mengerti"
KAMU SEDANG MEMBACA
Book I : Love and Hate - NCT LOONA Hogwarts Series
FanfictionNow--Book I : Love and Hate [END] Book II : Light and Dark [END] Book III : Mortal or Immortal [END] Book IV : Ethereal [ONGOING] Banyak hal yang perlu Mark ketahui di Sekolah Sihir Hogwarts. Bukan hanya soal Quidditch. Tapi soal ... "Siapa Jeon H...
