Bilang ya kalau ada typo, 👻
--
Pusing dan kesal, itulah yang Abell rasakan saat ini. Setelah dia sadar dari pingsan, hal pertama yang dia malah sosok hantu kayang yang sedang merayap-merayap di langit-langit UKS dengan mata hitam dan setitik putih yang melotot lebar kearahnya dan mulut yang sepanjang lima belas centi.
Awalnya Abell terkejut bukan main, tapi dia mencoba bersikap santai dan membaca istighfar agar hantu itu pergi.
Abell melirik sekitar, dia seorang diri karena kalian tau kan Abell tidak punya teman di sekolah ini? Miris sekali.
Apa ada orang yang mau berteman dengan anak aneh sepertinya? Tentu saja tidak ada, dan Abell benci dengan mereka semua. Karena mereka hanya bisa menjudge tanpa tau apa yang dirasakan Abell.
Tak mau semakin terbawa perasaan, Abell bangkit dan berjalan pergi tanpa berkata apapun kepada dua gadis penjaga UKS. Ah, maksudnya tiga gadis, dua manusia dan yang satu lagi arwah gentayangan yang duduk kaku di tengah-tengah dua gadis itu. Mereka tengah asik menggosip, membuat hantu itu meras senang dan mengeluarkan aura negatif.
Abell menyeret kakinya dengan malas menuju kelas. Dia bertanya-tanya jam berapa sekarang ini. Tapi tiba-tiba ada sebuah suara lirih dan dingin yang menjawab dari belakang telinganya.
Jam setengah sepuluh, waktunya istirahat.
Membuat Abell langsung merinding, dengan cepat Abell melangkahkan kakinya karena tidak mau tertempel makhluk halus lagi. Dia juga tidak mau mengetahui siapa yang memberitahunya.
Saat melewati taman sekolah, disana ada sebuah seorang wanita dengan pakaian putih yang lusuh sedang duduk di dahan pohon. Rambutnya lebat, hingga selutut dan entah sedang memandang apa karena matanya tampak putih semua dengan beberapa belatung yang menggeliat di wajahnya.
Sosok itu adalah salah satu penunggu pohon tersebut. Dan tak lama sosok wanita itu terbang pergi dengan cepat entah kemana?
Mungkin ke rumah kalian dan sekarang sedang menatap kalian di pojokan. Diam dan semakin lama semakin tersenyum lebar hingga telinga dan menampakkan gigi-gigi hitam yang runcing dan penuh darah. Terbuka lebar dan.. AKHHHH ARGHT 😈
Abell memalingkan wajahnya dan menutup mata sejenak. Dia merasa lapar, tapi dia terlalu malas untuk pergi ke kantin.
Akhirnya gadis berwajah pucat itu lebih memilih untuk ke kelas langsung. Tidur di kelas lebih tepatnya.
Saat memasuki kelas, ternyata kelas sepi dan hanya ada Regan yang sedang duduk anteng di bangkunya sambil memainkan ponselnya.
Mendengus sebal, dia lupa jika ada sosok menyebalkan yang duduk sebangku dengannya sejak kemarin.
Saat akan duduk, alis Abell terangkat sebelah karena melihat ada dua roti rasa coklat dan strawberry dan juga satu kotak susu coklat dan teh kotak.
Dari siapa?
Mata Abell sempat melirik ke Regan sebelum meraih sebuah kertas kecil berwarna pink.
Dear Abell ❤
From Adell yang manis (:
Dimakan ya roti sama tehnya,
Aku tau kamu pasti ga ke kantin, kan?
Hm, dasar! Maaf aku gak bisa nungguin kamu di UKS dan kasih langsung karena aku ada rapat OSIS di luar.
Get well soon, my Twins ❤😋
Sebuah senyuman manis terbit di bibir Abell setelah membaca pesan tersebut. Ternyata Adell yang memberikan ini, tapi.. adiknya itu hanya memberinya roti dan teh bukan? Terus susu kotak ini dari siapa?
Abell mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas, tak ada siapa-siapa kecuali dirinya dan Regan seorang.
Apa Regan yang memberikannya ini? Tapi ini sangat mustahil! Secara ini seorang Regan yang cuek dan dingin loh, bagaimana mungkin?
Abell tersadar saat Regan berdiri hingga menimbulkan suara decitan kursi. Tanpa berkata apapun pemuda itu berjalan pergi.
Abell mengedikkan bahu acuh dan mulai minum susu kotak lalu makan roti coklatnya. Saat sedang enak mengunyah Regan kembali duduk masih dengan raut wajah datar dan auranya yang tajam.
Ingin sekali Abell menendang Regan agar pergi jauh dari sebelahnya. Tapi, Abell malas melakukan itu dan lebih memilih mengisi perutnya hingga kenyang.
Saat mata bulatnya menatap ke luar jendela, di bisa melihat seorang pemuda yang sedang berjalan lambat dan tangannya sesekali memukuli punggungnya.
Mungkin pemuda itu merasakan sakit pada punggungnya dan untuk mengurangi rasa sakit di punggungnya dia memukul pelan punggungnya.
Tapi, berbeda jika di pengelihatan Abell. Karena seorang pemuda itu sedang ketempelan sosok hantu perempuan. Mungkin hantu itu menyukai pemuda itu hingga menempel, atau bisa jadi pemuda itu pernah punya salah yang fatal pada hantu tersebut.
Kasihan sekali, pasti terasa pegal. Tapi Abell tak perduli!
Abell mengalihkan pandangannya, menggigit roti dan memperhatikan sekitar. Tumben sekali tidak ada hantu yang berkeliaran di kelasnya. Biasanya juga ada berbagai makhluk yang berkeliaran di kelasnya ini.
Paling banyak sih hantu anak kecil berkepala botak dan berpempes. Siapa lagi kalau bukan tuyul!
Ah, mungkin karena aura misterius Regan? Entah ilmu apa yang dipakai pemuda itu, Abell tidak tahu dan tidak berniat mencari tahu. Terlalu malas jika sudah berurusan dengan Regan.
Abell melirik datar ke arah Regan. Pemuda itu masih sama, sedang bermain ponselnya. Saat akan mengalihkan wajahnya, tak sengaja Abell melihat hantu pemuda tadi pagi yang mengganggunya.
Sedang bersembunyi di balik pintu, menatapnya datar dengan wajah yang pucat dan kedua lingkar mata yang menghitam.
Menyeramkan!
Abell pun kembali membuang pandangannya, seolah-olah tak menyadari keberadaan hantu tersebut.
Lagian, kenapa juga hantu itu terus mengikutinya dan bersembunyi di sana?
Abell rasa dia tidak pernah punya salah kepadanya, tapi kenapa Abell merasa jika hantu itu terus saja mengikutinya? Karena Abell sadar setiap kali dia bergerak dia merasa ada yang memperhatikannya.
Bukan hanya dua mata, tapi lebih!
--
Gimana, udah mulai horor gak? Merinding atau gimana gitu? Dan kurang apa menurut kalian. Beritahu aku ya di kolom komentar.
Vote gapapa gak vote juga gapapa. Penting ikhlas! 👻
KAMU SEDANG MEMBACA
Indigo Twins
HorrorKami berbeda, dan tentu saja karena kami istimewa. ▶◀ Apa kalian percaya jika hantu itu ada dan selalu berada di sekitar kita? Kira-kira apa yang akan kalian lakukan jika kalian bisa melihat mereka'? Ini kisah si kembar dan dua pemuda tampan yang si...
