Chapter 14

91 3 0
                                        

Utamakan membaca Al-Qur'an...
.
.
.

"Sejauh apapun dua insan dipisahkan, walaupun belum mengenal sekalipun, jikalau berjodoh pasti akan ditemukan, dan sebesar dua insan saling mengenal, berharap dan mencintai jika memang tak berjodoh mereka tak akan pernah bersama...," jeda Ustadz Hasan, ia melihat ke arah seseorang di hadapannya dengan tersenyum. Sedangkan orang itu memperhatikan Ustadz Hasan dengan serius.

"Kamu tau, kan, jika mencintai sesuatu jangan berlebihan?" tanya Ustadz Hasan dan diangguki oleh orang itu.

"Cintai pencipta nya, lalu ciptaan nya! Mau tau ayat yang menyatakan jika kita diciptakan berpasang-pasangan?" tanya Ustadz Hasan lagi, dan orang itu mengangguk.

Sejenak Ustadz Hasan terkekeh melihat orang di hadapannya ini. Orang itu hanya mengangguk jika ditanya. Biasanya orang itu menyahut dengan berbagai ucapan-ucapannya. Berbeda dengan hari ini, yang ia temui di bawah pohon belakang bangunan, seorang diri. Sedang termenung pula!

"Kenapa, Ustadz?" tanya orang itu yang bingung, karna Ustadz Hasan terkekeh.

"Gak papa ... Dengar ya, ayat ini, yang artinya, 'Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.'(Q.S. Yaasiin : 36) ... Jodoh sudah tertulis di lauhul mahfuzh, jadi tak perlu kita risaukan, tak perlu khawatir tulang rusuk kita tertukar. Tak usah sibuk mencari, yang terpenting mari kita memperbaiki diri," ucap Ustadz Hasan tersenyum.

Orang itu termenung, mencerna ucapan Ustadz Hasan. Ia salah! Seharusnya ia tidak begini. Menyendiri, dan menampilkan wajah sedihnya di hadapan orang-orang hanya karna seseorang yang ia cintai sudah ada yang melamar.

Ia tidak tahu, apa yang harus ia perbuat. Apakah melupakan orang yang ia cintai itu? Tapi, ia tak yakin. Yaps! Ia masih berharap lebih pada orang yang ia cintai itu. Astaghfirullah.., batinnya beristighfar selalu.

"Kamu tidak perlu melupakannya! Biarlah waktu yang menentukan. Pasrahkan segalanya pada Allah," ucap Ustadz Hasan yang tepat sekali dengan pemikiran orang di hadapannya.

"Wah? Ustadz? Ustadz, bisa baca pikiran orang yahhhhh?" tanya orang itu bercanda, meski wajah nya masih terlihat sedih di mata Ustadz Hasan.

Ustadz Hasan terkekeh, "Saya gak bisa baca pikiran orang, Akmal! Saya hanya melanjutkan ucapan saya ... Kamu sih dari tadi diem mulu," lanjut Ustadz Hasan pada orang itu, yang ternyata Akmal.

"Ehehe, saya gak tau harus apa Ustadz. Jadi saya diem deh," sahut Akmal nyengir kuda.

"Allah...," ucap Ustadz Hasan sambil terkekeh dan menggelengkan kepala, "Ya sudah, kamu harus inget ya, yang tadi! Ayo, kamu harus masuk kelas! Kebetulan, saya yang ngajar," lanjut Ustadz Hasan ketika berdiri ia sudah berdiri.

"Baik, Ustadz! Saya akan selalu mengingat. Dan Perintah akan dilaksanakan," sahut Akmal sambil hormat kepada Ustadz Hasan.

Ustadz Hasan pamit duluan. Sedangkan Akmal masih ingin di situ. Ia tidak boleh cemen jadi laki-laki. Masa cuma gara-gara cewek harus bersedih. Ini bukan Akmal! Ya, ini seperti bukan dirinya. Ntahlah. Sejak mengenal Aca, Akmal jadi berubah. Tidak tahu, apanya yang berubah. Wkwk. Dasar Akmal!

Memang dua hari yang lalu, ia diberitahu oleh adiknya, Tegar. Jika Aca dilamar oleh laki-laki yang keluarganya baik-baik, dan orang melamarnya pun baik dan menjadi Ustadz muda, di daerah kompleks Aca.

Bagaimana ia tidak uring-uringan? Kemarin-kemarin ia sungguh gelisah. Ia takut jika Aca menerima lamaran pria itu. Tapi sekarang tidak, berkat Allah mengirimkan seseorang untuk menyampaikan motivasi tambahan. Ustadz Hasan.

Jodoh Cerminan DiriTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang