Utamakan membaca Al-Qur'an...
.
.
.
Assalamu'alaikum semuanyaaaaaa 😗😚😂 Saya baru sempet nulis cerita ini... Mohon maaf nggeh... Kemaren-kemaren saya gugup bangeeeeetttt mikirin hasil raport saya. Saya juga sempat mengalami kebuntuan menulis, alias "writer block".
Hedeeehhhh ... Asli, susah bet buat mikir kelanjutan cerita ini. *Lebay amat lu, upil kuda.
Janah: "Astaghfirullah ... Orang sabar tambah cantik..."
Maklumin aja nggeh, hehe. Baru pertama nulis cerita :).
Masih awam. Masih perlu banyak saran... Tulis aja nggeh di kolom komentar kalau mau ngasih saran ke saya, hehe.
Kalau mau tanya-tanya saya juga boleh koookkk. Eh? *Dasar modus kamu, kerak nasi. Biar rame ya hp mu. Kan jomblo!
Janah: "Oke, sabar ... Allah bersama orang yang cantik sholihah. Aamiin"
Sekiaaannnn, jangan dibaca deh ya, yang ini. Langsung aja ke ceritanya. Gak papa, Saya ikhlas 😁 Kan biasanya gak mau baca curhatan penulis. Eh? Tapi kan, saya juga bukan penulis yak? Masih awam 😂😅
Oke... Selamat membaca semuaaaaa...
Luv pull 😘😍
💚💚💚
Hari yang menyibukkan. Dari tadi, orang-orang yang ada di sana sibuk dengan tugas masing-masing. Mereka akan sibuk sampai malam tiba. Tak mengapa. Ini demi dua orang insan yang akan bersatu dalam ikatan halal. Mereka ikhlas menjalankannya.
Beda dengan orang-orang yang berada di dapur, satu lelaki ini sibuk mondar-mandir seperti setrikaan. Peluh menetes di dahinya. Berkali-kali ia mengatur napas agar bisa rileks. Tapi tetap saja tidak bisa.
"Cailah, Tot ... Duduk napa?! Gak pusing apa, muter-muter dari tadi?" orang yang lebih tua dari lelaki tadi duduk mengamati sang adik sambil menggelengkan kepala.
"Gak bisa, Bang. Tegang ini," masih dengan aksi mondar-mandir seperti setrikaan. Dan keringat yang keluar semakin banyak dari wajahnya. Sangat terlihat, jika ia memang tegang dengan situasi.
"Tegang kenapa coba? Sini duduk!" menepuk-nepuk sampingnya, perintah agar sang adik duduk di sampingnya.
Sang adik menurut. Ia duduk di samping kakaknya. Tubuhnya serasa panas dingin. Tangan ia eratkan untuk memegang tepian kasur yang didudukinya, berniat menyalurkan rasa ketegangannya.
Sang kakak yang melihat tertawa. Lucu melihat wajah tegang adiknya. Seperti cacing kepanasan.
"Kenapa ketawa, Bang?" tanya sang adik dengan wajah ditekuk. Apanya yang lucu coba?
"Lucu," jawabnya sambil terkekeh, "Kaya orang lagi berak. Hahaha" sambung kakaknya dengan tawa yang membahana di ruangan.
Adiknya hanya berdecak sebal. Masih dengan pertanyaan yang sama. Apanya yang lucu? Dimana letak kelucuan? Apa kakaknya tidak lihat kalau dari tadi ia hanya diam? Tidak melawak! Apa tadi juga, orang berak? Apa sih?
"Bismillah aja, Tot. Berdo'a sama Allah. Semoga dilancarkan nantinya. Jangan mondar-mandir gak jelas kaya tadi," ucap kakaknya menenangkan kegugupan sang adik, "Perasaan Abang gak kaya gitu dulu," tambah sang kakak sambil terkekeh.
"Bismillahirrahmaanirrahiim ... Lancarkanlah lidah hamba saat mengucapkan ijab kabul Yaa Allah ... Aamiin," dengan mengusap tangan ke wajah. Ia berbalik menghadap sang kakak sambil tersenyum.
"Nah gitu ... Yang tenang. Sebentar lagi, seorang Muhammad Rafli Al-Ghiffari akan mengguncangkan sang arsy. Jadi, kamu harus sudah siap bertanggung jawab dan membimbing pendamping mu nanti,"Rafli mengangguk tanda mengerti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jodoh Cerminan Diri
Romance"Udahlah bro. Gue percaya kok kata orang-orang yang gue sebut tadi, 'kalo jodoh gak akan kemana'. Optimis aja! Siapa tau pas lo kelar pesantren dianya udah nikah...," "JANGAN DONG!" potong Akmal berteriak. "Wadduuuhhhh, telinga gue Banggggg ... Sa...
