"M-mommy... ka-kalian sedang apa?"
.
.
Suara kecil Jinu membuat kedua orang tuanya yang tengah bercumbu itu sadar dimana mereka sekarang. Orang tua Jinu itu hampir lupa kalau mereka sekamar dengan putra tunggalnya.
Mereka cepat-cepat bangun dari tempat tidur. Yujin langsung menuju kamar mandi. Sementara Minju hanya mampu mendengus kesal melihat Yujin pergi begitu saja dan membiarkannya sendirian menjelaskan semuanya pada Jinu.
"J-jinuuuuuu..."
"Mommy, tadi kalian sedang apa?" tanya anak laki-laki itu dengan wajah polosnya.
Semenjak tadi dia main game di sofa dekat pintu masuk kamar. Sehingga dia tidak melihat semua yang kedua orang tuanya lakukan. Namja mungil itu hanya melihatnya sekilas saat dia akan kembali ke ranjang untuk membangunkan mommy-nya.
"Tidak. Err, maksud Mommy, kemarilah. Jinu bangun jam berapa tadi?" tanya Minju untuk mengalihkan pembicaraan.
Dia tidak tahu bagaimana untuk menjelaskannya secara halus dengan bahasa anak-anak mengenai apa yang baru saja dilihat oleh anaknya itu.
"Hum? Aku tidak ingat," jawab Jinu.
"Eh? Bukankah itu... bunyi ponsel Daddy-mu?" Minju bertanya saat tiba-tiba mendengar ponsel milik Yujin terus saja berdering.
"Iya. Dari tadi banyak sekali yang menelpon. Tapi tidak aku angkat. Takut Daddy marah," jelas Jinu.
"Ya sudah, biarkan saja ponselnya," ucap Minju sambil menyiapkan peralatan mandinya.
Wanita itu harus bersiap-siap karena hari ini ada pertemuan rapat yang akan berlangsung sampai sore hari. Dia akan seharian meninggalkan Jinu di kamar hotel. Sejujurnya dia juga tidak begitu tega. Tetapi dia tidak bisa berbuat apapun mengingat jadwal rapat yang tadinya besok dipercepat untuk diselesaikan hari ini.
Sebagai gantinya, karena besok Minju sudah tidak ada pekerjaan, dia berencana pergi jalan-jalan dengan anaknya itu.
Tiba-tiba Wanita itu merasa bahwa sekarang ponselnya berbunyi. Perlahan dia mengambil ponselnya yang semalam dia letakan di meja.
"Yuri? Ada apa dia menelponku pagi-pagi..." gumam Minju saat melihat nama orang yang menelponnya.
"Hallo?" ucap Minju setelah menekan tombol 'answer' untuk menerima telepon dari sahabatnya.
"YAH! MINJUU! APA YANG KAU PIKIRKAN SAMPAI BERBUAT SEPERTI ITU? KAU ITU TIDAK PUNYA OTAK ATAU APA!"
"yuri-aaa? Kenapa kau berteriak padaku? Ada apa?"
"Apa kau tidur dengan mantan suamimu?" tanya Yuri dari seberang telepon.
"Eh? Dari mana kau tahu?"
"Jadi foto itu benar!"
"Maksudku aku tidur bertiga dengan Jinu juga. Jangan salah persepsi ya. Eh? Foto apa?"
"Demi Tuhan, Mingguri. Apa kau tidak tahu kalau mantan suamimu baru saja mengirimiku foto mesra kalian?"
"K-kau jangan bercanda, Yuri-aa! Foto apa? Aku benar-benar tidak mengerti maksudmu,"
"Kau tanyakan saja pada Yujin,"
"Yah! Yuri-aa! Aishh..." Minju mendengus kesal saat Yuri tiba-tiba memutus teleponnya.
.
.
.
.
KAMU SEDANG MEMBACA
CHANCE (END)
RomanceAhn Yujin dan Kim Minju yang telah bercerai harus terlihat baik-baik saja di depan putra mereka...
