Rambut hitam itu terhempas-hempas dibahunya, tergerai panjang ... lurus dan mengkilat saat kaki mungilnya itu terus berlari ke arah yang dituju, "Papah ...."
Teriak bocah kecil imut nan cantik itu. Mata bulat dengan ujung yang sedikit kecil menyipit, pipi yang kenyal dan sedikit berisi berwarna merah muda melihatkan senyuman manisnya pada orang yang menjemputnya di depan pagar sekolah PAUD.
Lelaki ini tersenyum lebar menyambutnya tetapi tidak dengan hatinya karena kata PAPAH dari mulut sang bocah sangat mengganggu privasinya, menjatuhkan image-nya berkali-kali.
Tetapi karena tugas yang diperintahkan oleh sang mamah mau tidak mau dijalaninya bukan karena mamahnya sang anak tetapi mamahnya sendiri.
"Kita ke kantor Mamah ya, Pah--"
"Iya, ayo."
Tangannya menggandeng tangan sang bocah dengan sayang dan menggendongnya masuk ke dalam mobil yang cukup tinggi bagi bocah berusia 4 tahun dengan kaki yang pendek.
Sepanjang perjalanan si gadis kecil ini bernyanyi sesuai apa yang diajarkan guru, kata-katanya yang belum lancar benar, menggelitik hati sang pendengar di dalam mobil yang juga ikut bernyanyi bersamanya.
Dia langsung berlari saat satpam membukakan pintu utama kantor. Langkahnya langsung menuju lift utama menuju tempat sang Mamah yang diikuti lelaki itu dengan tergesa-gesa takut si bocah kecil itu terjepit pintu lift yang rapat.
Tring
Pintu lift terbuka, sang anak langsung berlari ketika melihat Ibunya, "Mamah--"
Wanita itu berdiri mengangkat bokongnya yang sudah melekat berjam-jam di kursi panas kebanggaannya, menceklis, mencoret dan menandatangani berkas dokumen yang berada di atas mejanya.
Senyum sumringah hadir diwajahnya, merentangkan tangan dan menyambut tubuh sang anak yang berlari manja lalu melompat ke arahnya.
"Duh, Eka berat ya sekarang ... susah nih mamah gendongnya," ucap wanita cantik ini yang mengangkat sedikit tubuh anaknya lalu meletakkannya ke bawah. Si anak hanya cemberut mendengar ucapan mamahnya.
"Ini siapa yang belikan, kok makan permen lagi?"
"Dari kakek."
"Kakek siapa?"
Mata sang mamah menuju lelaki yang di hadapannya ini dengan kode wajah bertanya-tanya.
"Itu loh ada kakek tua rumahnya di depan PAUD jadi dia suka melihat Eka katanya mirip cucunya."
"Ooohhh, tapi besok bilang ke dia jangan dikasi permen terus nanti giginya rusak."
Si anak tidak mempedulikan kemarahan mamahnya yang sedang menatapnya, dia malahan langsung duduk di atas sofa dan mengambil drawing book-nya dari dalam tas.
"Kapan kamu menikah, cepat dikit ... aku udah kebelet," ucap si lelaki ini duduk di depannya.
"Ckkk, ya nikah sana ... kebelet buang aja di wc, gitu aja repot!" ketus si wanita.
"Otakmu dimana, ya ... Tuhan, bagaimana aku mau menikah jika anakmu memanggilku papah tiap hari. Cewek yang naksir aku mundur, belum lagi kalau aku ajak jalan dia ber-papah-papah ria sama aku, so tanggung jawab!"
Si wanita ini tertawa geli menutup mulutnya dengan rambut panjangnya yang cokelat keemasan. Melihat adik sepupunya sudah diambang batas kesabaran untuk menikah.
Anaknya sudah terlanjur dekat dan sengaja dibahasakan-nya untuk memanggil Om-nya dengan sebutan Papah karena dia tidak punya Papah. Dan kebanyakkan orang percaya karena mata si Om-nya juga sedikit sipit.

KAMU SEDANG MEMBACA
The War Love
Misteri / ThrillerWarning 21++++ Jika Anda mencoba memplagiat cerita ini berarti anda sangat mengagumi saya Jika ada nama dan tokoh yang sama dalam cerita ini.. itu berarti pemikiran kita yang sama tapi kalau alurnya sama persis itu yang tidak mungkin!! 😤😠 Sekuel...