"Ah, sebelum kalian masuk, silahkan tap kartu pelajar kalian di sini," ujar salah satu pegawai sambil menunjuk layar yang berada di samping pintu masuk perpustakaan.
"Baiklah," ujar Seila sambil menaruh kartu pelajarnya di layar tersebut, kemudian terdengar suara digital disertai dengan informasi singkat Seila di layar.
"Alat ini berfungsi sebagai daftar hadir pengunjung perpustakaan. Ayo kalian berdua juga," ujar Seila. Arief dan Ray pun melakukan hal yang sama, kemudian mengikuti Seila.
Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam perpustakaan. Suasana di dalam perpustakaan cukup ramai. Rak buku yang tingginya sekitar lima meter saling berbaris. Kemudian di bagian yang kosong digunakan sebagai ruang baca, diisi dengan beberapa bangku untuk membaca buku. Tidak jauh dari pintu perpustakaan, terdapat bagian pelayanan tempat siswa meminjam dan mengembalikan buku. Ruangan ini sangat luas, dan ini baru lantai 1. Sedangkan perpustakaannya sendiri terdiri dari 4 tingkat.
"Yang lain sudah ada disini. Sebentar..." ujar Seila terlihat mencari seseorang.
"Ah itu dia. Kak Syifaa," panggil Seila ke salah satu petugas yang sedang melayani pengembalian buku. Seorang perempuan berhijab dengan kacamata. Kalau dilihat lagi, dia mengenakan seragam sekolah sama dengan Arief dan yang lain.
"Oh, Seila. Daniel dan yang lain sudah duluan disini. Aku akan mengantarkanmu ke sana," ujar Syifaa. Sedangkan Arief menaikkan sebelah alisnya. Jadi sepupunya ada disini juga?
"Terima kasih kak."
Setelah berbicara sebentar dengan salah satu petugas, Syifaa kemudian bergegas sambil diikuti oleh mereka bertiga.
"Oh ya, aku belum memperkenalkan diri pada kalian berdua. Namaku Syifaa Mufiidah. Kelas 11 IPA 1. Terkadang aku bertugas di perpustakaan sebagai petugas magang," ujar Syifaa memperkenalkan diri.
"Namaku Arief Virandika."
"Dan aku Ray Fadhayuwana. Kami berdua sekelas kelas 10 MIA 4," ujar Ray.
"MIA? Ah, aku lupa di angkatan kalian istilah IPA dan IPS sudah diganti ya," ujar Syifaa. Mereka berempat menaiki tangga menuju lantai 2.
"Asal kalian tahu, dia juga Kineser lho," ujar Seila. Arief dan Ray terdiam sejenak, kemudian terkejut.
"Heeh!! Beneran?!"
"Hahahaha, gak keliatan ya? Aku Kineser Telekinesis dan Quantakinesis, yah walaupun aku tidak masuk kelas Petarung sih," ujar Syifaa. Mereka menaiki tangga menuju lantai 3.
"Hmm, tapi perpustakaan ini luas juga. Dan di dalam juga sejuk. Berbeda dengan di luar," ujar Arief.
"Aku dengar perpustakaan dan beberapa gedung di kawasan ini menggunakan teknologi yang menerapkan prinsip Thermokinesis. Jadi bila cuaca di luar panas, maka di dalam akan sejuk. Begitu sebaliknya," ujar Syifaa.
"Alat pengatur suhu otomatis?" tanya Ray.
"Bukan. Alat itu terlalu mahal. Sepertinya mereka membuat sendiri," ujar Syifaa.
"Ya, di sini pasti banyak Kineser hebat, jadi tidak heran mendengarnya," ujar Seila. Mereka berempat sampai di lantai 3.
"Oke, sudah sampai! Lantai 3 ini khusus menyimpan buku dan informasi mengenai Kinesis. Teknik mempelajari, sejarah, tokoh-tokoh, bahkan mengenai 7 Bangsa Besar ada disini," ujar Syifaa.
"Kalian bisa cari teman kalian, aku balik dulu ya. Masih banyak buku yang harus kuurus. Dadah!" ujar Syifaa meninggalkan mereka bertiga.
"Baik kak, terima kasih," ujar Seila. Kemudian mereka bertiga mencari Daniel dan yang lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
SMA Kinesis
FantasyKinesis? Jaman sekarang mana ada yang percaya dengan hal hal yang begituan. Bayangkan saja! Mengendalikan sesuatu dengan pikiran, sungguh tak masuk akal. Tapi hal itu beneran ada di dunia ini! Arief Virandika, remaja berusia 15 tahun. Saat kem...
