Taehyung baru pulang dari Fremont Sunday Flea Market bersama Jeongguk ketika dia mendapati seseorang duduk di beranda apartemen Daeho, dengan ujung rokok yang terbakar dan asap beraroma mint yang membuat dahi Taehyung otomatis berkerut.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Taehyung judes. Yang ditanya hanya menoleh sekilas, memutar bola mata, lalu mematikan rokoknya dan berdiri menghadap Taehyung.
"Mengambil kaus. Apalagi memang?"
"Siapa yang membukakan pintu untukmu?"
Bibir tebal Jimin tersenyum miring melihat tingkah Taehyung. "Pacarmu lah, siapa lagi memangnya? Kau pikir aku bisa teleportasi?"
Taehyung berdecak kesal. Dalam hati menanyakan ke mana perginya Namjoon, sampai-sampai pria kurang ajar seperti Jimin dibiarkan begitu saja masuk ke dalam apartemen Daeho.
Taehyung meletakkan belanjaannya di pagar beranda, kemudian berbalik dan naik ke atas tanpa berbicara apapun. Jimin datang untuk mengambil t-shirt, maka dia harus mengembalikan barang itu padanya sesegera mungkin. Dengan gerakan santai, Taehyung melangkah kalem menuju kamar Daeho sekalipun hatinya dongkol bukan main.
Ia mendengar suara derap sandal di belakang, sepertinya Jimin tengah mengikuti. Jantung Taehyung mendadak berdebar, ia tidak tahu untuk apa Jimin mengikutinya, tapi jika Taehyung sekarang berbalik dan mengomeli Jimin, bisa-bisa cowok itu malah menertawakannya dan menyematkan kata penakut di tengah namanya.
Taehyung menarik napas panjang sebanyak tiga kali sambil menghilangkan pikiran buruknyaーJimin sering mengunjungi Daeho di apartemen, mungkin saja kan pemuda itu juga merindukan Daeho?
Setibanya di kamar Daeho, Taehyung melihat t-shirt Jimin teronggok begitu saja di sudut meja. Jimin baru sampai di depan pintu ketika Taehyung dengan segera mengambil barang milik Jimin dan melemparkan kaus itu begitu saja padanya.
"Apa-apaan sih?!" Jimin terlihat tersinggung.
"Apa? Kau ingin kausmu, kan? Itu kausmu."
"Kupikir orang Korea terkenal akan kesopan-santunannya? Tapi sejak bertemu, aku tidak melihat sikap itu sedikit pun darimu."
Taehyung langsung bungkam.
Jimin semakin mendekat, membuat Taehyung mundur beberapa langkah ke belakang. "Kau mengirim chat padaku melalui ponsel seseorang yang sudah meninggal. Mengatakan aku mesum, lalu memberiku sambutan 'manis' dengan melempar kaus padaku seakan aku ini tidak punya perasaan. Kau tidak sakit jiwa, kan?"
"Kau yang ingin kaus itu dikembalikan," Taehyung mencoba mengulang dengan sabar, "sudah kuberi, sekarang malah sok menceramahiku. Bukankah kau harusnya berterima kasih? Lagipula masih untung aku tidak melempar kaus mahalmu itu untuk disumbangkan ke Panti Asuhan."
Mata sipit Jimin berkilat marah, "Kau, Kim Taehyung, sahabat Kim Daeho, benar?"
"Darimana kau tahu?"
"Aku mau tahu dari siapa juga bukan urusanmu, Kim," Jimin menyeringai sadis. "Aku tidak tahu kenapa kau selalu memasang wajah seolah mengajakku berkelahi, kita bahkan baru bertemu di Seattle, tapi kau seperti sudah menyimpan dendam puluhan tahun padaku. Ada apa sebenarnya dengan isi kepalamu?"
"Sudah kubilang, aku datang menemuimu untuk menilai bagaimana sahabat Daeho selama dia berada di Seattle. Tapi apa yang kutemukan? Kau justru beranggapan aku adalah salah satu korban one night stand-mu dan mengira bahwa aku datang untuk meminta pertanggungjawabanmu," repetan Taehyung membuat wajah Jimin terperangah, "menjijikkan sekali. Begitu bukan mesum namanya? Kau sadar tidak sudah mengumbar aib kalau kau memang hobi tebar sperma sana-sini?"
