Hampir empat jam berlalu, Taehyung sudah mencoba satu hingga dua pembahasan lain, namun tetap saja tidak ada tanggapan dari Eternity. Taehyung punya firasat aneh bahwa selama dia berbohong, dia tidak akan mendapat respon apa pun dari yang bersangkutan. Dan itu seperti buah simalakama, karena bagaimana mungkin Taehyung melakukan ini tanpa berbohong?
Keripik pemberian Namjoon telah tandas. Beberapa burung camar terbang rendah dekat jendela, seolah turut menemaninya berpikir akan nama pengguna dan bahasan baru. Sesuatu yang berhubungan dengan Daeho, tapi harus disamarkan agar seolah tidak memiliki keterkaitan dengan pria itu.
Dan alih-alih berusaha meniru Daeho, Taehyung mencoba menjadi dirinya sendiri.
Moon ー Kebenaran
Baru-baru ini aku kehilangan seseorang. Dia sangat dekat denganku, bisa kukatakan, dia adalah poros tempatku berputar. Dan sejak kehilangan dia, sebagian dari diriku seakan lenyap. Aku kini benar-benar kosong, bahkan sedikit gila karena nyatanya, aku tidak mengenalnya seperti apa yang kupikirkan selama ini. Dia bumiku, dan kini bumi itu lenyap. Bayangkan jika bumi lenyap, lalu bulan harus mengitari siapa? Mungkin masih ada planet lain, tapi aku tetap menginginkannya, aku menginginkan bumiku kembali padaku.
Tangan Taehyung bergetar hebat usai menuliskannya. Sunggingan senyumnya tampak begitu menakutkan, kini dia mulai memahami daya tarik forum ini.
Setelah mengirimkannya, Taehyung menjadi lega luar biasa. Semua ini mungkin hanya pancingan bagi Taehyung untuk menarik si ular keluar dari sarang, tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Taehyung telah berucap jujur dan efeknya luar biasa ringan.
.
.
.
Enam jam akhirnya lewat tanpa terasa. Sambil merenggangkan tubuh, Taehyung menilik ke arah jendela di mana birunya langit perlahan memudar, tergantikan oleh semburat senja di luar sana.
Dalam hati dia bertanya-tanyaーdi mana Namjoon?ーkarena sangat aneh jika kau membeli makanan dan buku, namun menghabiskan waktu sampai enam jam lebih lamanya.
Usai membereskan meja dari laptop, remahan keripik, serta menaruh gelas kotor ke dalam sink, Taehyung akhirnya memutuskan untuk berjalan ke ruang tamu sekadar mengecek kepulangan Namjoon.
Baru saja tangannya terulur untuk membuka pintu, seseorang sudah berdiri menjulang di hadapan, lengkap dengan wajah tampannya yang terperangah kaget.
"T-Tae?"
"Hyung!"
Hati Taehyung mendadak hangat melihat Namjoon telah kembali. Bibir pria itu sedikit kering dan terkelupas, Taehyung buru-buru menariknya masuk dan menawarinya segelas teh lemon hangat untuk membasahi kerongkongan.
"Kau membuatku khawatir," sungut Taehyung kemudian. Sambil berjalan ke arah pantri, dirinya melewatkan kesempatan bahwa Namjoon beberapa kali secara sembunyi-sembunyi menengok ke arah pintu utama.
"Maaf, ada beberapa buku yang harus aku cari," jelas Namjoon.
"Terus tidak ada semua?" tanya Taehyung lagi. Karena memang saat kembali, Namjoon tidak membawa barang apa pun bersamanya.
"Tidak, tapi aku bawa sesuatu untukmu, Tae," jawab Namjoon kemudian setelah hening beberapa saat. Dia mengeluarkan ponsel, mengetik sesuatu di layar, kemudian mengisyaratkan pada Taehyung untuk mendekat ketika pemuda itu datang dengan cangkir di atas nampan.
"Kemarilah sebentar," katanya.
"Huh?" Dahi Taehyung berkerut. Walau demikian, cangkir berisi teh lemon tetap diletakkan di atas meja sebelum menghampiri Namjoon.
