Part - 01

2.2K 190 9
                                    

Sehari setelah kematian Daeho, sahabatnya, Taehyung menerima sebuah surat yang berisikan goresan pena khas milik Daeho. Beberapa titik pada bagian surat itu tampak pudar seperti noda terkena tetesan airーtangan Taehyung gemetar membayangkan ketika Daeho menulis surat untuknya seraya menangis.

Taehyungie, annyeong?

Kalimat pertama Daeho mampu membuat Taehyung menggigit bibir.

Aku menyesal memberitahumu bahwa aku memutuskan untuk mengakhiri hidupku. Kau boleh menyebutku pecundang, oke, ini sudah lama kupikirkan, dan kali ini aku sudah tidak sanggup lagi menemui titik cerah. Aku tahu kau akan terluka dengan keputusan bodohku ini, tapi kumohon, sekali ini saja, semoga kau mau mendukung keinginanku.

Bibir Taehyung seketika melengkung turun.

Mendukung? Sahabat macam apa yang mendukung sahabatnya sendiri untuk mengakhiri hidup?

Terkadang Taehyung tidak habis pikir, kenapa Daeho bisa berpikiran sesempit ini.

Kau tahu seberapa besar aku menyayangimu, kau sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri, Tae. Namun sekali lagi, aku perlu mengakhiri kepedihanku. Ada beberapa hal yang tidak akan kau pahami sekali pun aku menceritakannya. Biarlah aku egois sekali ini saja. Biarlah ini menjadi rahasia untuk seterusnya. Dan perlu kau ingat, ini tidak ada hubungannya denganmu sama sekali. Ini murni salahku.

Jadi kumohon, jangan pernah menyalahkan dirimu, oke?

Aku sungguh menyayangimu.

Taehyung terdiam. Untuk kesekian kalinya ia terbayang saat terakhir Daeho memeluknya di lobby bandara dan berkata bahwa dirinya baik-baik saja.

Baik-baik saja?

Bibir Taehyung melukiskan senyum sendu. Dilipatnya kertas peninggalan Daeho, sepasang matanya memandang lurus pada sepasang pria dan wanita paruh baya yang tengah duduk di barisan paling depan, begitu khusuk berdoa sambil sesekali mengumandangkan madah perkabungan rohani dengan irama sengau.

Kedua orang itu, Ayah dan Ibu Daeho.

Hari ini adalah hari kedua diadakannya kebaktian untuk mendoakan Daeho. Dan tangis bisu masih tidak berhenti mengalir dari mata pria dan wanita paruh baya tersebut.

Daehonie...

Hati Taehyung bak teriris sembilu. Orang tua sahabatnya terlihat hancur sekali, mata mereka amat cekung, Taehyung tidak tahu apakah luka akan kehilangan anak semata wayang itu akan kembali seperti sedia kala.

Dengan tangan yang masih gemetar, jari-jari panjang Taehyung mengerat membentuk sebuah kepalan. Sebisa mungkin mencoba menahan air mata yang meronta-ronta minta untuk diturunkan dari penampungan.

Giginya bergemelutuk kasar.

Apa kau sudah puas sekarang, huh, Kim Daeho?

.
.
.
bersambung


/Fai's note/

Terima kasih sudah membaca!♡

ClairvoyantWhere stories live. Discover now