Part - 08

795 127 37
                                        

Jimin tengah mengutak-atik surel pada laptopnya ketika Taehyung sudah mulai bosan dengan film yang ditonton. Menekuk bibir, ia bergeser mendekati Jimin dan melihat apa yang tengah dikerjakan pria tampan berbibir penuh itu.

Ekspresi aneh terlintas di wajah Taehyung ketika sekilas melihat nama Daeho Kim pada salah satu surel balasan. Ia makin menempel pada Jimin dan bertanya,

"Jim, tidakkah kau penasaran dengan kematian Daehonie? Apa kau tahu sandi surel milik Daehonie?"

Jimin melengos. Tidak menjawab.

"Aku sudah lama ingin menanyakan ini padamu. Mungkin Daeho pernah bercerita padamu tentang masalahnya? Apa yang bisa membuatnya sampai memilih untuk mengakhiri hidup seperti itu? Bukan apa-apa sih, aku cuma ingin tahu saja, soalnya kan kau yang sering jadi tempatnya curhat sebelum dia pergi."

"Sekalipun aku tahu masalah-masalah Daeho, bukankah itu seharusnya jadi rahasia di antara kami? Kenapa aku harus menceritakannya padamu? Pemaksaan itu namanya."

Taehyung melebarkan mata. Tidak menyangka Jimin akan menjawab dengan nada demikian, "Kamu kenapa sih tiba-tiba sinis begini? Masih marah gara-gara aku gampar tadi?"

Memutar bola mata, Jimin menyingkirkan laptop, lalu menatap Taehyung tajam, tepat di manik mata. Ditunjuknya pipi putihnya yang memerah, "Kau lihat hasil perbuatanmu pada wajah tampanku ini? Tidak ada yang pernah menggamparku sebelumnya, Sayang. Dua kali, pula. Bahkan orangtuaku pun tidak. Kau ini ringan tangan sekali ya. Baru juga digodain, belum dipegang-pegang. Apa kau memang berwajah dua kalau di depan Daeho? Dia tidak pernah tuh cerita padaku kalau kesayangannya sebar-bar itu."

Bibir Taehyung membola. Ia tertawa geli sampai sakit perut melihat rengutan di wajah Jimin. "Idih, begitu saja marah. Katanya suka main kasar. Dikasarin beneran malah ngambek. Malu dong sama predikat playernya."

"Ba? Cot. Aku banting di ranjang sekarang nih, mau?"

Lagi-lagi Taehyung tertawa mencemooh. Tidak takut sama sekali dengan ancaman Jimin karena dia tahu, tindakan lelaki itu tidak pernah sekurangajar perkataannya.

Beberapa menit berlalu sampai akhirnya keduanya saling diam, dengan lengan yang menempel satu sama lain.

Jimin menutup peramban web-nya, mendesah panjang kemudian. "Dengar, aku tidak tahu pasti apa password surel Daeho, tapi aku rasa aku bisa menebaknya. Tapi saranku Tae, sebaiknya kita tidak mengorek hal pribadi seperti itu, apalagi Daeho sudah pergi sekarang. Biarkan dia tenang di sana. Kalau kau tidak ikhlas begitu, bisa-bisa malah dia jadi sedih."

Taehyung terlihat tidak nyaman oleh perkataan Jimin. "Aku hanya ingin tahu saja apa yang dia rasakan sebelum ia memutuskan untuk pergi. Rahasia apa yang tidak ingin dia ceritakan padaku, sampai-sampai ia memilih untuk menceritakannya pada orang lain. Aku ini sahabatnya, Jim. Aku sudah lama mengenalnya, tapi dia malah tidak adil begitu padaku."

Jimin menoleh. Dari samping, ia baru sadar bulu mata Taehyung tampak begitu lentik dan indah. Belum lagi bibir yang begitu merekah dan menggoda. Tanpa sadar seulas senyum tipis terpoles di bibirnya. "Dia selalu menganggapmu sahabat, Tae. Selalu. Tolong jangan berpikiran bahwa dia tidak adil dan tidak sayang padamu."

Taehyung menggeleng tidak setuju. "Aku tidak yakin. Kalau dia menganggapku sahabat maka dia akan jujur padaku, Jim. Seperti aku yang selama ini selalu jujur padanya. Bagiku ini terlalu cepat. Rasanya terlalu mencurigakan."

"Mencurigakan bagaimana?" Jimin balik bertanya, "Kau pikir ada seseorang dibalik ini semua, begitu?"

Bahu Taehyung merosot turun. Ia bahkan tidak tahu apa yang ia pikirkan saat ini. Bayangan senyum Daeho yang begitu romantis memberinya kue ulang tahun di tepi sungai Han, tawa kesakitannya kala mereka iseng mendatangi panti pijat, semua berputar dalam ingatan Taehyung. Dan tanpa Taehyung sadari, tangan Jimin menuntun kepalanya untuk bersandar pada bahunya. Taehyung sendiri tidak menolak karena ia memang butuh seseorang untuk bersandar. Paras indahnya tampak begitu letih mengingat semua akan Kim Daeho.

ClairvoyantWhere stories live. Discover now