Part - 19

622 77 28
                                    

Jimin terbangun akibat keram di kaki kirinya.

Entah berapa lama dia tertidur, dia juga tidak bisa memastikan. Yang Jimin tahu hanyalah ketika dia terbangun, ada sosok malaikat rupawan tengah tertidur nyenyak di sisi, lengkap dengan tangan yang melingkari pinggang dan kaki yang mengunci kaki Jimin seolah-olah dirinya adalah guling.

Jimin tidak bisa menahan senyum gelinya.

Maka ketika dia menyingkirkan kaki Taehyung dan Taehyung menggeram kecil karenanya, yang pertama-tama Jimin lakukan adalah mencium kening Taehyung, mengecup puncak hidungnya, lalu mengucapkan terima kasih karena sudah bersedia memberinya satu alasan untuk tetap melanjutkan hidup.

.
.
.

Jimin tengah mengoles memar di tubuhnya dengan salep ketika Taehyung membuka mata.

Tidak ada sepatah kata pun yang keluar, namun Jimin paham, dari gerakan tangan Taehyung yang mengambil salep di tangannya tanpa ijin, lelaki itu pasti ingin membantu mengoleskan obat di sisi tubuhnya yang tidak terjangkau.

Dibiarkannya Taehyung menyentuh lukanya. Satu-dua kali dia meringis menahan sakit. Beberapa kali setelahnya Jimin hanya diam sambil menahan napas, dan Taehyung tak urung jadi ikut meringis melihat luka-luka Jimin.

"Aku bertemu Jeon Jeongguk dua hari yang lalu, Tae," buka Jimin. Keningnya diusap-usap, perdebatan dengan Jeongguk sedikit banyak membuatnya pening.

"Oh,"

"Mungkin kau sudah bisa melihat apa yang menjadi perbincangan kami dari luka yang kudapat, tapi maaf Taehyung, Tuhan mungkin membenciku karena aku sudah banyak menyakiti hati banyak orang."

Barulah setelah Jimin berkata demikian, tangan Taehyung berhenti menjelajahi luka-luka Jimin.

"Jim,"

"Rasanya seperti, semua orang menjadi terluka karena kehadiranku. Appa, Eomma, Daeho, Jeonggukie, Yerin...." ada kepahitan yang melintas sebelum Jimin berucap, "....dan kau."

"Jimin," Taehyung cepat-cepat menyela, "Kau tidak pernah menyakitiku. Jadi tolong jangan simpulkan demikian."

"Tapi nyatanya? Aku sudah membuatmu menangis, Tae. Melakukan hal kurang ajar, padahal aku tahu waktu itu kau memiliki empati yang tulus terhadapku."

Taehyung menggeleng kuat. Dia tidak suka ketika Jimin berkata seolah-olah dia adalah pendosa besar.

"Jimin, kondisi kita sama-sama tidak baik waktu itu. Aku kaget, tapi itu bukan sepenuhnya salahmu. Ayolah Jim, melihatmu seperti ini justru membuatku sedih. Seperti bukan Park Jimin saja rasanya."

"Memang seperti apa Park Jimin yang kau tahu?"

Jakun Taehyung bergerak naik dan turun. 

"Akuー" Taehyung meragu.

Ah, benar. Dirinya bahkan belum lama mengenal Jimin.

Melihat sang tamu terdiam, Jimin menarik napas, lalu melanjutkan lagi.

"Aku menderita bipolar. Dan tidak ada yang tahu tentang ini, kecuali Jeongguk.... dan Eomma."

Tiba-tiba saja dada Taehyung seperti terkena hantaman hebat. "Kauーapa?"

"Bipolar," ulang Jimin. "Beberapa kali aku sempat mengalami episode depresi. Dan terakhir Jeongguk yang mendapatiku nyaris menelan sebotol penuh obat anti depresi."

Manik Taehyung mengerjap tidak percaya.

"Bohong...." bibirnya bergetar tipis.

Jimin? Menderita bipolar selama ini?

ClairvoyantWhere stories live. Discover now