Part - 18

502 83 16
                                        

Malam sudah semakin beranjak ketika salah satu dari mereka memutuskan untuk mengobrol di restoran cepat saji di tengah kota.

Jeongguk dengan Triple Cheese Burger dan Western Beef Bac Crisscut miliknya yang menggoyang lidah, dan Taehyung lebih memilih Double Cheese Burger dan Spicy Wing sebagai pengisi perut.

Dilihatnya Jeongguk masih menyamankan diri untuk mengunyah. Taehyung sendiri sejujurnya tidak memiliki selera untuk makan. Maka ketika burger milik Jeongguk tinggal separuh, Taehyung memutuskan untuk bertanya,

"Kenapa kau memukulnya?"

Jeongguk tampak masih enggan berbicara.

Taehyung menarik napas panjang dan terlihat gusar, "Tolong jawab Jeon, kenapa kau memukul Jimin?"

"Bisakah kita selesaikan makan dulu baru membahas hal itu?"

Tapi Taehyung malah menaruh kembali makanannya dengan kesal dan berkata, "Kau mengajakku keluar untuk berbicara. Kau bertanya apakah aku yang memberi saran padanya dan itu juga sudah kujawab. Sekarang tolong gantian jawab pertanyaanku apa susahnya, sih? Kenapa kau memukul Jimin sampai separah itu? Kau menendang perutnya juga?"

Kunyahan Jeongguk terhenti. Dia menatap Taehyung dengan ekspresi heran yang begitu kentara. "Darimana kau tahu aku menendang perutnya juga? Kau ini cenayang atau bagaimana?"

Bibir Taehyung mendadak kelu. Sorot curiga Jeongguk sungguh membuat perutnya mulas bukan main.

"Darimana aku tahu, itu bukan urusanmu, Jeon."

Jeongguk mendengus. "Ya, kau benar. Itu bukan urusanku. Dan bukan urusanmu juga untuk mencampuri hubungan kami, Kim."

Dahi Taehyung berkerut. Dia sungguh tidak paham dengan pola pikir pemuda tampan di depannya.

"Jeongguk," jeda tercipta. Taehyung hanya mencoba untuk lebih bersabar. "Jimin datang baik-baik, bukan? Bahkan maksud dan tujuannya baikーingin hubungan kalian kembali seperti dulu. Seperti awal kalian tidak saling membenci. Kenapa kau malah memukulnya?"

"Dia yang memukulku lebih dulu, Tae. Tolong jangan seenaknya menuduh," bola mata Jeongguk berputar malas.

"Tapi dia tidak akan memukul kalau tidak ada alasan, Jeon."

Bibir diusap kasar dengan tisu, Jeongguk kemudian bersandar pada punggung kursi dan menatap Taehyung setengah kesal.

"Kau berbicara seperti kau mengerti sekali tentang Jimin, ya." Tangan Jeongguk bersilang di depan dada. "Bukankah waktu itu di kelab kau mendatanginya seperti ingin mengajak berkelahi?"

"Waktu itu aku belum mengenalnya, Jeongguk-ah," Taehyung beralasan. "Oke, itu buruk, aku tahu, karena aku menge-judge Jimin tanpa tahu bagaimana dia yang sebenarnya."

"Dan sekarang kau sudah tahu dia yang sebenarnya, huh?"

Tangan Taehyung terkepal kuat. Tanpa mempedulikan reaksi yang bersangkutan, Jeongguk melanjutkan lagi.

"Kuberitahu, Taehyung-ah, kau sepertinya sudah termakan cerita dongeng Park Jimin. Jangan terlalu termakan ceritanya. Kau bahkan tidak tahu bagaimana brengseknya dia selama ini."

"Bermain dengan wanita maksudmu? Kalau itu aku juga tahu, Jeon."

Bibir Jeongguk bergemelutuk kasar. "Dan kau masih mau membelanya? Pria yang sudah bermain dengan banyak wanita maupun pria lain seolah mereka hanya barang? Menggelikan."

"Jeongguk...." Hela napas Taehyung semakin terdengar lelah. "Setiap orang punya sisi buruknya sendiri-sendiri. Aku pun punya, dan kauーkau juga pasti punya, Gguk. Masa lalu Jimin jelek, aku tahu, tapi jangan lantas karena sisi buruknya, lalu kau membutakan mata untuk melihat sisi baiknya juga. Bagaimana pun Jimin itu kakakmu. Separuh darah yang mengalir di tubuhmu juga ada dalam dirinya. Kalau memang Jimin berniat untuk memperbaiki sifat dan berubah, kenapa kau tidak memberinya kesempatan?"

ClairvoyantWhere stories live. Discover now