9. Tapi...

524 82 18
                                    



Sebenarnya yang dilakukan oleh Heoseok itu adalah untuk menemukan jawaban apakah Taehyung memiliki ketertarikan terhadap Seulgi. Percakapan mereka sebelumnya sempat terpotong karena ketika Heoseok ingin memancing Taehyung, Seulgi datang. Baik Heoseok maupun Taehyung diam dan tidak melanjutkan percakapan.



Dan mungkin saat ini Heoseok akan menggalih lebih informasi- lebih tepatnya menggalih perasaan sebenarnya yang dimiliki Taehyung terhadap Seulgi. "Bisakah kau bicara formal? Saya ini atasanmu. Dan saya tidak mengenal anda sebelumnya."



"Kau temannya Seulgi. Aku berteman juga dengannya. Itu berarti kita adalah teman." Jawab Heoseok enteng.



"Kita disini terbiasa bicara santai dengan unur sebaya. Karena sering bekerja dibawah tekanan, CEO tidak mengharuskan pekerja seperti kita berbicara formal."



"Jadi disini bicara informal diperbolehkan, asal tahu batasannya." Jelas Heoseok lagi. Aura canggung pun mulai dirasakan Heoseok. Arloji ditangannya menunjukkan tinggal setengah jam waktu istirahat mereka akan berakhir. "Soal Seulgi.."




"Matamu sepertinya tidak bisa berbohong, Kim." Heoseok tersenyum puas. Dilihatnya sekeliling yang sepertinya memiliki kesibukan masing-masing. Tidak ada Seulgi, Wendy ataupun Jongin. "Aku mengetahui hubunganmu dengan Seulgi melalui Wendy." Memang kalimat itu sukses membuat atensi Taehyung langsung mengarah kepada Heoseok.



"Saranku gunakanlah momen ke luar negeri itu untuk memperbaiki hubungan kalian. Kau harus tahu ada pria lain yang menginginkannya"



"Jangan sungkan untuk bertanya padaku soal Seulgi. Aku tahu benar rasa penasaranmu itu, Kim." Lanjut Heoseok.



"Apa kau seperti ini terhadap semua orang? Kau begitu cerewet." Komentar Taehyung lalu menyeruput minumannya. Sebelum Taehyung mengeluarkan ucapannya Heoseok langsung mendahului. "Tenang, mulutku ini bisa menjaga rahasia. Hahahaha" Taehyung tersenyum simpul nan singkat mendengar tawa Heoseok. "Aku hanya ingin memberitahu kalau tadi Wendy mendengarkan kita dari belakang. Tapi dia sudah pergi."



Heoseok menjadi diam. Mungkinkah Wendy mendengar pengakuan Heoseok sebelumnya?





***





Seulgi merasa pening memikirkan keberangkatannya yang tidak lama lagi. Mulai dari apa yang harus dibawa olehnya, apa visanya sudah selesai di urus, dan bagaimana nanti dia ketika disana. Yang selama ini Seulgi tahu hanyalah tiket keberangkatannya yang sudah tertulis tanggal keberangkatan. Tidak ada tanda-tanda dimana hotel yang akan ditinggalinya. Bahkan kantor untuk mengambil data pun tidak tahu. Semuanya hanya diketahui oleh Taehyung seorang.





Seulgi memiliki hak untuk menanyakan hal itu. Tapi kenapa dia tidak berani?






Tok tok.





Dua kali ketukan pintu itu menyadarkannya. "Masuk." Katanya dengan kepala yang disandarkan pada sandaran kursi dan menutup mata. Pintu itu terbuka. Selama kurang lebih dua menit tidak ada sepatah kata yang keluar. Membuat Seulgi penasaran dan akhirnya membuka mata.





"Ini sudah jam keluar kantor, tuan putri. Kenapa masih diam disini?" Seulgi hanya mematung melihat Jongin yang sudah berdiri didepannya. Dia masih teringat dengan kejadian dulu yang membuatnya canggung dengan Jongin. Tak lama kemudian pria itu bergerak memutari meja kerja dan mengambil tangan Seulgi. Tak lupa juga dia mengambil tas Seulgi dan membawanya keluar. Tidak ada penolakan dari Seulgi.






"Kita mau kemana?" Pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut Seulgi. Setelah Jongin menstarter mobil dia menjawab. "Jalan-jalan. Tradisi bulanan yang sempat terlupakan karena rutinitas mu dengan proyek." Setelah itu tidak ada kalimat yang keluar dari mulut Seulgi. Gadis itu bahkan lupa dengan rutinitas bulanan itu. Dan Jongin masih mengingatnya? Seulgi tak habis pikir. Jangan-jangan...







Antropologi Rasa | vseulTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang