CHAPTER FIVE

23.7K 1.2K 39
                                        

Raefal kembali ke kantornya begitu makan siang kami selesai, sedangkan aku dan Raffa memilih untuk pulang ke rumah. Aku tak tega melihat putraku yang kelelahan. Meski masih ingin menyelidiki sesuatu di kantor Raefal, akhirnya aku memutuskan membawa Raffa pulang.

Setibanya di rumah, ku temani Raffa tidur di kamarnya. Dia memang terbiasa tidur siang. Tak perlu menunggu lama, dia pun tertidur dengan nyenyaknya. Kondisi ini ku manfaatkan untuk mengecek email-ku, berharap pesan dari Susi sudah masuk.

Aku mengurung diri di kamarku ketika ku buka email. Dan saat ku lihat pesan yang ku tunggu dari Susi ternyata sudah masuk, aku tersenyum lebar detik itu juga. Lega karena Susi benar-benar bersedia mengabulkan permintaanku untuk mengirimkan data seluruh karyawan yang bekerja di kantor suamiku.

Ku buka pesan itu dengan jantung berdetak tak karuan. Aku takut sebenarnya, takut kecurigaanku tentang Raefal yang berselingkuh terbukti benar. Meski lebih dari apa pun aku ingin segera mengungkap identitas seseorang berinitial ZK yang beruntung mendapatkan hadiah kalung mahal dari Raefal.

Setelah daftar nama itu terpampang di depan mataku, ku baca seteliti mungkin nama-nama yang tercantum dalam pesan tersebut.

Ku lihat satu demi satu nama seluruh pekerja di kantor Raefal, mengantisipasi agar seseorang berinitial ZK tak terlewat olehku. Namun tidak ... seteliti apa pun aku mencari initial nama itu, tak ku temukan di antara 74 nama karyawan yang terdaftar dalam pesan ini.

Ku baca sekali lagi, takut-takut aku melewatinya tadi. Akan tetapi ... hasilnya tetap nihil, tak ada satu pun yang memiliki initial ZK.

Aku mendesah lelah, menyenderkan punggung di kepala ranjang. Mungkinkah kecurigaanku salah? Sepertinya seseorang yang ku cari-cari itu bukan salah satu karyawan di kantor Raefal. OK, aku memutuskan untuk berhenti memandangi daftar nama itu, memilih mengistirahatkan tubuhku sejenak karena jujur aku begitu kelelahan hari ini.

Meski kali ini gagal, tapi aku tak akan berhenti menyelidiki sampai aku menemukan wanita itu. Wanita yang berhasil mencuri perhatian suamiku.

***

Seperti hari-hari biasa, Raefal sampai di rumah pukul 7 malam. Tak ada yang mencurigakan dari tingkah lakunya. Selama Raffa belum tidur, dia akan menghabiskan waktunya bermain dengan Raffa. Namun aktivitas main mereka tak bertahan lama malam ini, dia beralasan besok harus mengikuti meeting penting karena itu dia pergi ke ruang kerjanya. Menyibukkan dirinya dengan tumpukan dokumen yang sengaja dia bawa dari kantor.

Saat dia mengatakan akan bergadang malam ini untuk memeriksa laporan, aku tak menanggapi apa pun selain hanya mengangguk. Aku selalu memahami kondisinya, bukankah seperti ini tugas seorang istri? Mencoba memahami kesibukan suaminya meski seharusnya saat berada di rumah, seluruh waktunya dicurahkan untuk kami, keluarganya.

Tepat pukul 10 malam, aku membawakan cemilan dan kopi untuk Raefal. Saat aku memasuki ruang kerjanya, benar ... dia tak berbohong. Dia memang sedang sibuk dengan laporan-laporan yang harus diperiksanya. Bahkan ponsel miliknya yang tergeletak di meja, tak dia sentuh sedikit pun.

" Ini kopi sama cemilan buat kamu. Istirahat dulu kalau capek."

Raefal menoleh saat suaraku menggema di telinganya. Dia mengangguk disertai senyuman manisnya padaku.

" Iya sayang, makasih ya. Kamu belum tidur?" tanyanya.

" Ini baru mau tidur. Aku tidur duluan ya. Kamu jangan terlalu malam tidurnya."

" OK, sebentar lagi juga selesai kok."

Aku mengusap punggungnya pelan sebelum aku melangkah meninggalkan ruang kerjanya. Tak ingin terlalu lama berada disana karena keberadaanku hanya akan mengganggunya.

GENIUS LIAR [SUDAH TERBIT] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang