" Baru pulang ya? gimana kegiatan kamu hari ini?"
Suaranya mengalun dari balik ponsel yang sedang aku tempelkan di telingaku, suara kekasihku ... Raefal yang sudah 2 minggu lamanya tidak ku temui. Dia pergi ke Tianjin, China untuk mewakili perusahaan tempatnya bekerja menerima penghargaan.
Lagi-lagi membuatku bangga padanya. Bisa dibayangkan dari sekian banyak karyawan yang bekerja di perusahaan itu, Raefal lah yang terpilih untuk terbang ke China menerima penghargaan itu. Padahal jika ku ingat-ingat kembali, baru sekitar satu setengah tahun dia bekerja di perusahaan itu.
Ternyata talenta dan kecerdasan tak akan menipu hasil. Meskipun terhitung sebagai pekerja baru tapi jika kemampuannya bisa diandalkan oleh perusahaan, tentu bukan sesuatu yang mustahil para pekerja senior pun bisa dikalahkan olehnya.
" Indira." Panggilnya, aku tersenyum tipis saat menyadari betapa bodohnya aku, saat sedang bertelepon ria seperti ini pun masih bisa-bisanya aku melamun.
" Maaf, ada yang aku pikirin barusan." Jawabku, mencoba untuk jujur.
" Mikirin apa? Pasti mikirin aku ya? kamu kangen sama aku?" tanyanya bertubi-tubi dan terdengar menyebalkan karena dia terlalu percaya diri. Diam-diam aku terkekeh disini.
" Kapan kamu pulang ke Indonesia?"
Aku mencoba mengalihkan pembicaraan daripada harus meladeni dirinya yang pasti akan semakin besar kepala jika tahu aku memang merindukannya disini.
" Hmmm ... aku udah ada di Indonesia kok."
" Haah? Serius?" aku terpekik kaget. Jika dia benar sudah pulang ke Indonesia, kenapa dia tidak memberitahuku?
" Iya aku udah di Indonesia. Baru nyampe kemarin sore."
" Kenapa gak ngasih tahu?"
" Sengaja, buat kejutan. Kamu udah di rumah kan sekarang?"
Aku mengerucutkan bibirku, kesal karena sikapnya yang sering seperti ini. Diam-diam melakukan sesuatu tanpa memberitahuku terlebih dahulu.
" Kamu kebiasaan kayak gitu. Aku gak suka ya kamu nyembunyiin sesuatu dari aku kayak gini." Ucapku sedikit ketus, sengaja agar dia menyadari perasaanku yang sedang jengkel padanya. Ku dengar dia terkekeh di seberang sana.
" Bukan kejutan namanya kalau ngasih tahu dari awal udah pulang ke Indonesia." Jawabnya.
" Aku gak suka kejutan-kejutan kayak gini. Aku lebih suka kamu ngomong jujur sama aku. Ngasih tahu semua kegiatan kamu sama aku. Aku juga gitu kok, semua kegiatan aku sehari-hari suka aku ceritain sama kamu."
Dan dia kembali terkekeh di seberang sana, sukses menyulut emosiku semakin naik ke permukaan.
" Aku males kalau kamu kayak gini. Kebiasaan gak bilang-bilang kalau ada apa-apa."
Aku hendak memutuskan sambungan telepon, jika saja suara lirihnya tak tertangkap indera pendengaranku.
" Maaf, aku gak akan nyembunyiin apa-apa lagi dari kamu." katanya. Aku memicingkan mataku disini tanpa sepengetahuannya.
" Janji dulu, mulai sekarang kalau ada apa-apa kamu langsung cerita sama aku. Jangan ada yang disembunyiin apalagi dirahasiain. Langsung cerita kalau punya masalah. Kita harus saling berbagi, itu fungsinya menjadi pasangan." Ujarku panjang lebar.
" OK sayang, aku janji."
Aku pun tersenyum puas mendengarnya.
" Sekarang kamu ada dimana?"
KAMU SEDANG MEMBACA
GENIUS LIAR [SUDAH TERBIT]
RomanceHanya kisah seorang istri yang mulai mencurigai kesetiaan suaminya. Dan di saat penyelidikannya mengarah pada kenyataan sang suami terbukti berselingkuh, apakah yang akan dipilihnya? melepaskan atau memaafkan? di saat ada buah hati di tengah-tengah...
![GENIUS LIAR [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/204481063-64-k233237.jpg)