CHAPTER SEVEN

22K 1.2K 71
                                        

Raefal pulang ke rumah tepat pukul sebelas malam. Entah apa yang sudah dia lakukan, tapi dari penampilannya yang kusut dan tampak kelelahan, berbagai pikiran negatif mulai berkeliaran di kepalaku.

Dia menjelaskan padaku bahwa dia pergi terburu-buru karena mendapat kabar bahwa salah satu rekan bisnis perusahaannya datang berkunjung secara mendadak. Tak ada pemberitahuan sebelumnya, membuatnya kelimpungan karena harus menyambut langsung sang rekan bisnis. Dia bilang jika dia tidak datang dan mengadakan pertemuan dadakan dengannya bisa memungkinkan kerja sama mereka dibatalkan. Sebuah kerja sama yang sangat penting hingga akan menyebabkan kerugian besar untuk perusahaannya jika sampai dibatalkan.

Ketika aku bertanya siapa nama rekan bisnisnya tersebut, dengan lugas dan lantang dia menyebutkannya. Bahkan nama perusahaannya pun ikut dia beritahukan padaku.

Jika aku yang dulu, tanpa berpikir panjang lagi pasti aku akan mempercayai ucapannya. Tapi untuk sekarang ... entahlah ... meski otakku bersi keras mencoba untuk mempercayainya tapi hatiku berteriak untuk menolak percaya pada semua yang dia katakan.

Meski dia sudah menjelaskan kondisi yang dialaminya berulang kali, serta meminta maaf padaku berkali-kali pula, rasa kesal dan marahku masih saja sulit untuk diredakan.

Sulit bagiku melupakan apa yang sudah dia lakukan padaku dan Raffa hari ini. Tega meninggalkan kami di saat kami begitu membutuhkan dirinya, terutama Raffa. Anak itu bahkan sudah tak berselera melanjutkan jalan-jalan kami seperginya Raefal. Hingga akhirnya kami memutuskan pulang dan tangisan tak kunjung reda dari kedua mata mungilnya. Aku sakit hati melihat tangisan itu, tangisan dari putraku yang kecewa dan sedih karena ditinggalkan oleh ayahnya.

Selama tiga hari lamanya aku mengabaikan Raefal. Aku mendiamkan dia dalam artian tidak mengajaknya bicara kecuali jika ada hal penting yang harus dikatakan. Aku tetap melayaninya seperti menyiapkan makanan, pakaian kerjanya dan kebutuhan dia lainnya. Tapi tidak untuk di atas ranjang. Aku selalu menolak dan beralasan setiap kali dia mengajakku bercinta. Rasa marahku yang masih melekat di dalam diriku membuatku malas melakukan itu dengannya.

Dua malam ini aku bahkan memilih tidur bersama Raffa di kamarnya, terasa lebih menenangkan dan aku pun bisa tidur nyenyak dibandingkan harus tidur seranjang dengan seseorang yang membuatku menahan tangis setiap melihat wajahnya.

Dan hari ini merupakan hari keempat aku mendiamkan Raefal. Aku merenung, teringat pada nasehat ibuku dulu yang mengatakan seorang istri haruslah berbakti pada suaminya. Karena bagi seorang istri, surganya adalah suaminya.

Aku cukup menyesali sikapku selama tiga hari ini, meski amarah menguasai diri tak seharusnya aku mengabaikan suamiku sendiri. Dan mungkin saja apa yang dia katakan padaku memang benar. Bagaimana jika dia sama sekali tidak berbohong? Memikirkan kemungkinan itu membuat hatiku dilanda rasa bersalah yang amat besar.

Hari ini aku memutuskan untuk memperbaiki hubungan kami. Aku sengaja meminta Widy, tetangga sekaligus sahabatku untuk menjemput Raffa. Kebetulan putranya pun satu sekolah dengan Raffa, dan mereka berteman dekat. Raffa bahkan sering bermain dengan putranya di rumah mereka.

Di rumah, aku sibuk menyiapkan berbagai makanan kesukaan Raefal, aku berencana akan memberikan kejutan untuknya. Mengunjunginya di jam makan siang dan mengajaknya makan bersama. Memakan makanan yang khusus ku buatkan untuknya ini.

Setelah aku selesai menata masakanku di dalam wadah yang sudah ku siapkan. Aku bergegas bersiap-siap, waktu menunjukan pukul setengah sebelas siang, seharusnya jika aku berangkat sekarang maka aku akan tiba di kantornya tepat waktu.

Hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit bagiku untuk bersiap-siap, kini aku sudah benar-benar siap untuk berangkat menuju kantor Raefal.

Aku memesan taksi. Dan begitu duduk manis di dalam taksi, tak hentinya tatapanku tertuju pada makanan yang ku bawa, berharap dalam hati Raefal akan menyukainya dan hubungan kami pun akan kembali seperti sedia kala.

GENIUS LIAR [SUDAH TERBIT] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang