CHAPTER TWENTY

41.2K 1.8K 209
                                        

Saat mobil yang ku kendarai akhirnya tiba di depan rumahku, waktu menunjukan pukul 3 sore. Aku merasa enggan untuk masuk ke dalam rumah, opsi pertama yang ku pilih adalah pergi ke rumah Mbak Alya dengan dalih membawa pulang Raffa yang ku titipkan padanya.

Namun, begitu aku mengetuk pintu dan sosok Mbak Alya yang membukakan pintu, sebuah kabar yang tak ingin ku dengarlah yang ku dapat. Mbak Alya mengatakan Raefal sudah membawa Raffa pulang. Aku mendesah lelah, rupanya prediksiku benar, pria itu sedang menungguku di rumah kami.

Merasa tak ada kesempatan bagiku untuk menghindar, akhirnya aku memutuskan pulang ke rumah. Lagipula, memang ada banyak hal yang harus kami bicarakan sekarang. Semua masalah dalam rumah tangga kami, aku ingin menyelesaikannya sekarang juga.

Aku masuk ke dalam rumah tanpa repot-repot mengetuk pintu, terlebih saat ku dapati pintu dalam keadaan tidak terkunci.

Begitu masuk ke dalam, pemandangan yang ku lihat pertama kali adalah suasana yang hening. Rumah ini tampak kosong seolah tak berpenghuni. Tapi jika ku lihat dari mobil mewah Raefal yang masih terparkir apik di garasi, aku tahu dia seharusnya berada di rumah.

Khawatir karena suara Raffa juga tak terdengar di dalam rumah, aku bergegas menuju kamarnya. Kondisi putraku yang menjadi prioritasku saat ini. Meski aku tahu semarah apa pun Raefal padaku, tak akan membuatnya menjadi kehilangan akal sehat sampai menyakiti putranya sendiri. Aku harus tetap memastikan keadaan putraku.

Aku membuka daun pintu itu tanpa ragu, dan menghela napas panjang saat menemukan Raffa sedang tertidur nyenyak di ranjangnya. Aku menghampirinya, lantas mendudukan diriku di sisi ranjangnya. Anak itu tertidur begitu pulasnya sampai tanpa sadar senyum tipis terulas di bibirku.

" Daddy, ayo maen game lagi."

Aku tertegun kali ini, mendengar anak ini bergumam dalam tidurnya. Mungkin tengah bermimpi dirinya bermain game bersama ayahnya.

Aku menggelengkan kepalaku dan berniat untuk membenarkan selimut yang membungkus tubuh mungilnya yang turun hingga ke pahanya. Namun, harus kuurungkan niatku saat baru ku sadari, tepat di samping selimut aku menemukan dua buah alat stick untuk bermain game. Aku pun menyadari sisi ranjang Raffa tampak berantakan seolah ada orang lain yang juga tidur bersamanya tadi. Melihat ponsel Raefal juga tergeletak begitu aku melirik ke atas nakas, ku simpulkan mereka menghabiskan waktu bersama di kamar ini saat aku pergi.

Tiba-tiba kedua mataku memanas, mengingat keputusan yang ku ambil saat di perjalanan tadi artinya aku harus siap mendengar tangisan putraku karena kami tak akan lagi tinggal bersama ayahnya. Ya, inilah keputusan yang ku ambil setelah aku berpikir cukup lama di dalam perjalanan tadi, pernikahan kami sudah tak bisa lagi dipertahankan. Karena memaksakan mempertahankan rumah tangga kami hanya akan menyakiti kami berdua, terlebih aku.

Aku menghela napas panjang sebelum akhirnya ku lanjutkan niatku untuk membenarkan posisi selimut yang membungkus tubuh Raffa hingga mencapai dadanya.

Awalnya, aku ingin pergi untuk mencari Raefal. Namun, rasa penasaranku muncul saat melirik ke arah ponsel hitam di atas nakas. Akhirnya aku pun melakukan tindakan nekad dengan mengambilnya. Membukanya karena aku sudah mengetahui password ponsel ini, tidak lain adalah tanggal kelahiranku yang sampai detik ini dia jadikan semua password barang-barang pentingnya. Aku tak heran jika password ATM-nya pun menggunakan tanggal lahirku.

Aku membuka kotak pesan dalam ponsel itu. Mengernyitkan dahi melihat satu jam yang lalu ada pesan WhatsApp dari nomor tak dikenal karena Raefal tak memberi nama pada nomor ini pada kontak ponselnya. Aku membuka pesan itu dan membaca isinya.

Fal, istri kamu datang ke rumah aku barusan. Aku udah cerita semuanya ke dia, sorry. Aku harap semuanya baik2 aja. Ini terakhir kali aku ngirim pesan ke kamu, sesuai kesepakatan kita, mulai sekarang aku gak bkln lg ngehubungin km.

GENIUS LIAR [SUDAH TERBIT] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang