Part 25

58.1K 958 203
                                    

Velo membuka kedua matanya dengan perlahan karena merasakan sentuhan lembut di tangannya dan langsung mengerutkan keningnya saat ia melihat seorang wanita dewasa yang begitu cantik sedang duduk di sisinya dan menatapnya dengan pandangan penuh minat.

"Anda siapa?" Tanya velo serak. Ia baru menyadari bahwa dirinya bukan lagi tidur di ranjang rumah sakit saat melihat sekeliling kamar ruangannya yang terlihat sangat Maskulin dan mewah berbeda sekali dengan kamar VIP nya yang berada di rumah sakit.

Rosi tersenyum dengan lembut dan mengusap punggung tangan velo dengan hangat.

"Saya rosi, ibu kandungnya azka. Dan kamu sekarang sedang berada di kamar azka yang berada di dalam mansion keluarga Kami saat ini." Kata rosi seolah menjawab kebingungan yang berada di dalam kepala velo barusan.

Velo tertegun. Ia langsung bangun dari tidurnya dan menatap tercengang ke arah wanita dewasa yang mengaku sebagai ibu kandung dari azka. Velo bahkan mengatupkan bibirnya rapat dan menelan ludahnya dengan gugup hingga ia tidak sanggup mengeluarkan satu patah kata pun dari bibirnya saat ini.

Rosi tersenyum mengerti dengan kegugupan dari kekasih anaknya ini. "Kamu tidak perlu gugup velo, saya sudah lama mengetahui tentang hubungan kalian selama ini. Jadi kamu tidak perlu takut dan sungkan dengan saya. Kamu paham bukan?"

Velo masih terdiam, tapi ia mengangguk kecil dan menatap rosi dengan perasaan lega, tapi jelas saja. kegugupannya lebih kentara di bandingkan rasa leganya.

"Mom, dady memanggilmu di bawah!" Seru azka berjalan dengan santai masuk kedalam kamarnya. Velo melirik azka yang sedang berjalan ke arah ranjang dengan perasaan lega.

"Benarkah!"

Azka tersenyum simpul menatap velo kemudian menatap ibunya dengan menganggukkan kepalanya dua kali.

"Baiklah." Ucap rosi mengangguk menatap putranya sekilas kemudian ia kembali menatap velo dengan lembut. "Velo! Mulai hari ini kamu harus memanggil saya momy sama seperti azka memanggil saya seperti itu. Kamu juga jangan terlalu sungkan dengan saya, anggap saja saya itu ibu kandung kamu mulai saat ini, kamu harus terbiasa dengan pertemuan kita ini supaya kita juga bisa lebih dekat dengan cepat. Kamu mengerti bukan nak..?"

Velo Menatap azka sekilas dan Azka pun tersenyum sembari menganggukkan kepala menatapnya. Kemudian velo kembali menatap rosi dan menganggukkan kepalanya dengan perlahan.

"Baik m.o.m.y." Gumam velo pelan dengan mencicit tapi masih dapat di dengar dengan sangat jelas oleh rosi dan azka.

Rosi tersenyum maklum dan bangkit dari duduknya. "Baguslah. Momy akan turun dulu kebawah dan akan menunggu kalian di meja makan untuk sarapan bersama." Ucap rosi sambil berlalu meninggalkan kamar anaknya setelah mendapatkan anggukan dari azka dan velo.

"Mandi dulu vel. Aku akan menunggu kamu disini." Ucap azka setelah duduk di atas kasur dan merapihkan anak rambut velo setelah ibunya keluar dari dalam kamarnya.

"Sejak kapan kamu membawaku kemari azka? Dan kenapa kamu tidak mengatakan nya padaku jika kita akan keluar dari rumah sakit!" Velo bertanya dengan menatap azka penuh tanda tanya dan raut kebingungan yang begitu kentara di wajahnya.

"Semalam velo. Dan untuk pertanyaan kamu yang terakhir Aku memang sengaja tidak mengatakannya padamu, Karna jika aku mengatakannya, aku sangat yakin kamu tidak akan mau dan akan menolak dengan keras keputusanku untuk membawa kamu kemari."

Velo menatap azka lemah. "Aku belum siap azka. Apa yang akan orang tua kamu pikirkan tentang aku yang merebut kamu dari nita." Ucap velo lirih.

Azka menarik nafas nya kasar dan menggenggam tangan velo dengan remasan yang sedikit kasar di tangannya.

"Apa yang kamu pikirkan! Kamu tidak pernah merebut aku sama sekali velo, Akulah yang dulu memaksa kamu dan nita sendirilah yang menjerumuskan kamu dulu kepadaku. Jadi hentikan dengan perasaan bersalah kamu yang tidak berarti itu sekarang. Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perbuatan nita yang sudah membuat kamu menderita seperti sekarang. Bagaimana dengan kejam nya dia sudah membuat devan menyentuh tubuh kamu dengan paksa dan bagaimana kondisi kamu saat ini jika kemarin aku datang terlambat velo?" Sentak azka tertahan dan menatap dingin pada velo.

Velo Menahan air matanya untuk turun dan mengigit bibirnya dengan kencang. Azka benar. Ia memang begitu bodoh masih saja memikirkan perasaan nita saat ini setelah apa yang dilakukan nita kepadanya. tapi velo juga salah disini dan ia tidak bisa menyalahkan nita sepenuhnya dengan apa yang sudah sahabatnya itu lakukan padanya. Ia tau, nita hanya merasa terhianati oleh dirinya dan membalaskan rasa sakitnya dengan membuatnya seperti ini.

Azka meremas wajahnya dengan perlahan dan membawa tubuh velo kedalam pelukannya dan memeluk tubuhnya dengan erat.

"Maafkan aku vel! Aku tidak bermaksud membuat kamu seperti ini. Aku hanya tidak suka dengan pikiran kamu yang selalu menyalahkan diri kamu sendiri. Aku tahu kamu merasa bersalah, tapi apa yang sudah dia perbuatan padamu juga tidak bisa aku maafkan begitu saja dengan mudah. Dia sudah terlalu jauh menyakiti kamu." Ucap azka penuh tekanan pada dirinya sendiri.

"Maaf."

Azka mengangguk. "Aku maafkan." Ucap azka melepaskan pelukannya. Ia menghapus sisa air mata yang mengalir di pipi velo dan mengecupnya dengan lembut.

"Sekarang kamu mandi, aku tunggu disini untuk kita turun bersama untuk sarapan." Ucap azka lembut.

Velo mengangguk dan membiarkan azka menyingkirkan selimut dari atas tubuhnya dan menggendong tubuhnya untuk masuk kedalam kamar mandi.

"Mandilah. Panggil aku lagi jika kamu sudah selesai." Ucap azka kemudian berlalu keluar dari dalam kamar mandi.

Azka menutup pintu kamar mandi dan mengambil ponselnya yang dari tadi terus bergetar di dalam saku celananya. Ia berjalan ke arah balkon kamarnya dengan menggeser tombol hijau di ponselnya.

"Bagaimana jeremi?" Tanya azka langsung saat ia mengangkat panggilan dari jeremi.

"Benar Sir. Dia kembali ke mansionnya dan sempat mengelabui kami dengan menyamar sebagai seorang pembantu perempuan menggunakan kerudung untuk memasuki mansion keluarganya."

Azka menggertakan giginya mendengar rubah licik itu bisa selalu mudah menggelabui anak buahnya yang memang sedikit bodoh.

"Lalu bagaimana! Apa dia berhasil kembali ke rumah orang tuanya?"Desis azka untuk tidak membentak jeremi.

"Iya Sir. Tapi kami tidak akan membiarkan dia lolos lagi dengan pergi dari mansionnya."

"Baiklah. Kalian tunggu disana dan jangan biarkan dia pergi dari rumahnya sebelum saya datang kesana untuk menemuinya sendiri."

"Baik sir. Kami akan menunggu anda disini dan kami akan memastikan dia tidak akan keluar lagi dari mansionnya."

Azka mengangguk meskipun jeremi tidak bisa melihatnya dan memutuskan sambungnya dengan segera.

Ia menatap ponselnya dengan tajam seolah ia sedang menatap perempuan itu.

"Jangan kamu pikir kamu bisa lolos begitu saja dariku nita. Sebelum kamu membayar lunas apa yang sudah kamu perbuat kepada velo, tidak akan pernah aku biarkan kamu lolos begitu mudah dari tanganku." Desis azka begitu sinis dan meremas ponselnya dengan kuat.

-------------------------------------

Warning...

Banyak typo bertebaran di mana2.

Cerita ini mengandung unsur membosankan dan tidak ada konflik berattttt yang akan membuat kamu deg-degan saat membacanya. Jadi mohon di mengerti dengan kondisi aku si pembuat cerita ini yang terlalu suka dengan kedamaian di bandingkan pertengkaran panjang atau konflik membosankan lainnya.

Cerita ini akan aku revisi total setelah tamat dan akan di hapus sebagian untuk kepentingan tidak penting juga sebenarnya. 🤣

Masih panjang juga sih ceritanya. Gak tau juga kapan tamatnya.😅 Suka2 otak kecilnya aja saat lancar lanjutin ceritanya. 

Selamat siang untuk kalian semua. 😘


enibahri
28-11-19 .

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 28, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

affairTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang