part 9

38K 575 6
                                    

"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih Vel?". Azka memeluk tubuh Velo dari belakang dan mencium pucuk kepalanya berulang kali.

Azka membalikan tubuh Velo sehingga berhadapan langsung dengan nya. Ia menghapus air mata velo dan mencium kedua matanya.

"Di mana dia menyentuhmu !" Tanya azka dengan suara tercekak. tangan nya sudah bekerja membuka kancing kemeja velo satu persatu.

Velo menunjuk bibirnya dan azka pun langsung melumat bibir velo kasar. mencoba menghilangkan jejak laki-laki brengsek yang sudah mencari mati dengan nya.

Ia mencium kening velo dan menatap lembut pada kekasihnya . kemudian mengecup kembali bibir velo sekilas.

Azka Melepaskan kemeja velo saat kancing nya sudah terlepas semua dari tubuhnya. ia juga membuka kaitan Bra velo dan melepasnya tanpa kesusahan.

"Di Mana lagi dia menyentuhmu?"

Velo Meremas tangan azka dan menujuk salah satu dada nya.

Azka Menggeram dan langsung menundukan kepalanya di sana. ia melumat kedua puting Velo dan menghisap nya keras. seolah ia sedang membersihkan kembali hak kepemilikan nya di sana. ia meliukan lidah nya sebentar di kedua puting velo kemudian melepaskan kedua payudara itu.

Ia Merengkuh Wajah velo dan mencium kening nya lembut. Membawa kepala velo ke dada nya yang masih beku oleh amarah pada laki-laki brengsek itu. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh polos Velo.

"Ceritakan Vel..!". Ucap Azka Tenang tapi berbanding terbalik dengan hatinya.

Tanpa ragu, Velo menangis sesenggukan di dada Azka. ia memeluk tubuh azka erat, seolah pelukannya adalah obat untuk azka bisa memaffkan nya.

"Jangan membenciku, aku mohon?" Pinta Velo di antara tangisnya.

Perlahan tapi pasti, azka kembali memeluk tubuhnya erat dan mencium pucuk kepalanya berulang kali.

"Maafkan aku Velo...aku tidak bermaksud seperti itu. aku tidak pernah membencimu!".Suara azka yang tenang membuat hati Velo bisa lebih tenang. ia menganggukan kepala dan Mulai bercerita.

Hampir di setiap cerita yang keluar dari bibir velo azka selalu mengutuk pria brengsek itu.

Azka mengepalkan tangan nya kuat di balik punggung Velo. Wajahnya sudah sangat mengeras oleh amarah yang tidak bisa ia bendung lagi.

"Kamu bilang nama dia Devan! Apa Devan Mclan Edwin?'' Tanya Azka langsung .setelah velo selesai menceritakan semuanya.

Velo mengerutkan keningnya bingung. tapi sesaat kemudian , dia menatap terkejut ke arah azka dan melebarkan kedua matanya. Ia baru menyadari sesuatu .

Yaitu nama azka dan devan memiliki nama yang sama di belakang nama mereka.

"Dia....Bukan adikmu kan Ka?" Tanya Velo dengan suara cekak.

Azka menggeleng dengan tangan terkepal.
"Bukan... Lebih tepat nya dia anak dari adik ibu kandungku!"

"Kalian sepupu!" Sentak Velo tidak sadar. Ia menggelengkan kepala.

"Jadi dia tahu semuanya karena dia sepupu kamu?" Velo menatap azka lirih.

Azka menghembuskna nafas nya berat sebelum kembali berucap.
"Tidak Velo .. aku yakin dia tahu karena mencari informasi sendiri. Orang tuaku tidak akan pernah mengatakan apapun pada orang lain tentang masalah pribadiku. " Ia menggenggam  tangan Velo dan meremas nya lembut.

"Mulai hari ini Kamu harus memikirkan ulang untuk memberitahukan hubungan kita pada Nita. aku tidak mau hal seperti ini sampai terulang lagi . andai jika kamu tidak mengatakan nya padaku dan malah menerima ancaman devan untuk berhubungan dengannya. bukan nya kita menyelesaikan masalah kita. tapi kamu malah akan membuat masalah baru yang lebih rumit?"

"Ya... Azka .. kamu benar...!" Ucap Velo serak dan menunduk.

"Setiap orang pasti pernah gagal dalam suatu hubungan Vel. jika kamu memikirkan perasaan Nita terus. hubungan kita juga akan seperti ini terus. mau bagaimana pun kita menutupinya rapat-rapat . lama kelamaan juga nita akan tahu dengan sendirinya . biarkan dia berpikir buruk tentang kita untuk sementara. karena memang kenyataannya dari awal kita salah. " Ucap azka menatap velo lembut.

"Maafkan aku.... aku akan mencoba memikirkan nya Ka.....".

"Harus. ...Dan untuk Devan, biar aku yang urus masalah dia. kamu juga akan di jaga mulai sekarang oleh jeremi. "Ucap azka serius dan menangkup wajah Velo dengan tangan besar nya. "jangan menolaknya."

Velo mengangguk. "Ya . azka...".

"Tidurlah ...sudah malam.." Ucap azka sembari mengecup kening velo.

Velo menganggukan kepala dan berbaring dengan memeluk tubuh azka erat.





------------------



"Kau awasi mereka jeremi!" Ucap azka pada anak buahnya di seberang ponsel.

Pria itu berdiri di ruang kerjanya dengan mata tajam yang terus menerus mengamati gedung-gedung pencakar langit di hadapannya. sementara pikiran azka hanya berpusat pada Velo kekasihnya.

"....."

"Jangan sampai kejadian kemarin terulang lagi jeremi...." Suara nya tegas tak terbantahkan.

"......"

"Baiklah. jaga dia dengan baik. dan pastikan tidak ada satu orang pun yang berani menyakitinya! kalo ada.... langsung laporkan padaku?"

Azka langsung memutuskan sambungan teleponnya dan menggenggam ponselnya erat. ia menarik nafas nya kasar dan semakin menggenggam erat ponselnya.

Tok..tok...tok..


"Masuk..."

"Ini berkas yang anda minta pak!".

"Taruh saja di meja.."Ucap azka tanpa berbalik . dan masih setia menatap gedung di hadapannya.

"Baik pak.. saya permisi!".

Azka menatap nyalang kembali pada ponsel nya. ia mengetik sesuatu dan mengirimkan pesan pada seseorang yang entah ada di mana.

Temui aku nanti malam di bar O'nine. Jika kamu berani , temui aku langsung.

Send.

TINGG....



Kamu pikir aku takut. jam 10 aku ke sana.


Azka memasukan ponselnya kembali ke saku jasnya dengan dengusan tajam.

Ia berjalan dan memutari meja kemudian duduk di balik kursinya.


------------



Devan memasukan ponselnya ke dalam kantung celana. ia menyeringai sinis.

Aku tidak percaya kamu bahkan mengatakan nya pada azka Velo.

Ia menatap tajam Velo yang selalu di ikuti kemana pun perempuan itu pergi oleh seorang bodyguard. Devan yakin . azka lah yang menyuruh bodyguard itu untuk mengikuti kemanapun velo pergi.

Cihh... sangat kekanakan.

---------------

"Jer...aku ingin makan bubur pak dodo dulu di simpang jalan depan ya...!" Ucap Velo saat ia akan kembali ke apartemen nya.

"Tapi di bungkus Non. dan biar saya yang membelikannya , saya tidak di ijinkan untuk menurunkan anda di jalanan!"

Velo berdecak dan menganggukan kepala. "Baiklah. tapi pesan dua ya." Ucapnya lagi dengan malas.

"Baik."

****************




enibahri
15-10-19

affairTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang