Part 23

27.6K 582 18
                                    

Azka Meraba kantung Jas dan juga kantung celana nya dengan dahi mengerut, Ia terdiam sesaat kemudian menghela nafas nya dengan perlahan saat ia baru teringat bahwa ponselnya ia simpan di dalam laci nakas rumah sakit dikamar velo.

"Raf putar balik, Ponsel saya ketinggalan di rumah sakit. " Kata Azka dengan Nada perintah.

"Baik sir.."

--------------------------

Azka Turun dari mobil saat jeremi membukakan pintu mobil untuknya.  ia terdiam di depan pintu mobil saat melihat sebuah mobil yang cukup ia kenali berada di halaman parkir rumah sakit.  dan tidak salah lagi, mobil itu benar milik sepupu bajingannya devan.

Azka mengepalkan kedua tangannya dan melangkahkan kedua kakinya dengan tergesa setengah berlari masuk kedalam rumah sakit.

Jeremi dan Rafi yang melihat Bos nya berlari dengan tergesa otomatis mereka juga berlari mengejar bosnya. Pasti ada Masalah lagi, sehingga membuat Sir Azka terlihat sangat marah seperti itu.

BRAKKK..........

Azka mendobrak pintu dengan kencang dan Berjalan dengan cepat kearah devan yang sedang berdiri di sisi samping ranjang velo.

Bugh...Bugh...bughh...

"Gue udah pernah bilang, JANGAN TEMUI VELO LAGI BANGSAT..." Bentak Azka penuh amarah.

Ia Menatap devan dengan Sangat tajam, sepertinya jika tatapan manusia dapat digunakan untuk melukai orang. Maka tatapan Azka saat ini akan mampu membunuh Devan hanya dengan sekali tatap. Sungguh mematikan.

Velo Menutup mulut dengan tangan nya melihat Azka yang membabi buta menghajar Devan.

"Azka, Cukup. Devan tidak melakukan apapun padaku." Kata velo Melerai Azka untuk kembali menyakiti devan.

Tangan Azka yang hendak Kembali memukul devan terhenti di udara. Ia memandang Velo dengan Geram.

"Dia sudah Menyakiti kamu sayang. Dan aku membenci dia berada di dekat kamu lagi, apalagi berhadapan dengan kamu begitu dekat seperti sekarang. " Kata Azka Menggeram marah, Ia mencoba menahan amarahnya supaya ia tidak membentak Velo saat ini.

"Aku Tahu, Tapi dia datang kesini untuk Berpamitan, Devan mengatakan dia akan pergi keluar negri.."Velo Memandang Azka lembut. "Aku hanya tidak ingin memiliki dendam pada siapapun Azka, Biarkan Hal buruk itu menjadi kenangan pahit saja. Jangan mengungkitnya lagi."

Azka Mengepalkan tangan nya erat dan membuang nafasnya kasar,  Ia berjalan perlahan ke arah Velo dan memeluk tubuhnya erat.

"Baiklah, Maaf. Aku tidak bermaksud untuk seperti itu. " Velo menganggukan kepala dan merebahkan kepalanya didada Azka.

Azka mengusap lembut rambut velo dan Kembali Menatap tajam pada devan. "Jika lu mau pergi, Pergi yang jauh. Pastikan gue Tidak melihat Muka lu untuk beberapa tahun kedepan, Inget janji lu devan. Jangan pernah lagi lu muncul dihadapan gue maupun Velo lagi." Ucap azka begitu dingin.

Devan Menyeka darah yang keluar dari Hidung dan bibirnya kemudian menganggukan kepalanya. Meskipun tubuhnya kembali remuk oleh pukulan azka, Tapi itu tidak sebanding dengan Kebahagiaan yang ia rasakan saat Velo ternyata memaafkan nya dan tidak membencinya.

"Gue Janji, Tapi gue tidak bisa berjanji untuk tidak bertemu kalian lagi. Bagaimana pun, kita pasti akan bertemu kembali karna lu gak bisa Menghilangkan status kita azka."

"Cihh... Seandainya gue tidak melihat auntie Yosi, Lu udah gue bunuh dari beberapa hari yang lalu. "

Devan Mengangguk. "Gue Memang pantas mendapatkan itu dari lu. "Ia berdiri dan menatap Azka dan velo secara bergantian.

Azka Berdecih Tidak suka saat devan melihat kearahnya dan velo bergantian, ia Semakin memeluk kepala Velo erat di dadanya menyembunyikan nya dari pandangan devan.

"Gue Pamit. Gue janji Tidak akan mengganggu kalian lagi. Selamat tinggal velo." Ucap Devan Memandang Velo Dengan sedih, Tapi ia bahagia setidaknya velo tidak membencinya. Ia memutar tubuhnya dan kembali berjalan untuk membuka pintu kamar dan keluar.

Azka Memejamkan kedua matanya dan Menarik nafas nya dalam-dalam.

Velo Terdiam Dengan kepala yang masih di peluk erat oleh Azka. Ia bingung harus memulainya dari mana. Azka terlihat masih Marah, Terbukti dari tubuhnya yang kaku dan jantungnya pun terdengar berdetak dengan sangat kencang didada kekasihnya.

"Aku Tidak Marah Vel..."Ucap Azka seolah tahu apa yang di pikirkan Kekasihnya.

Azka melepaskan Pelukan nya dan Duduk disamping velo, Ia menggenggam tangan Velo erat dengan ibu jarinya yang mengusap lembut punggung tangan Velo.

"Aku Tidak suka Devan Berada disisimu lagi, Aku Cemburu Meskipun untuk hal yang tidak perlu, Aku Marah pada diriku sendiri karna tidak dapat menjagamu. Poko nya Aku Tidak suka keberadaanya di dekatmu." Jujur Azka dengan Suara lirih.

"Aku Tahu, Maafkan aku azka. "
Seru Velo Memeluk tubuh Azka Erat. "Aku pun tidak tahu apa yang aku lakukan benar atau tidak, Tapi aku tidak ingin menyimpan dendam pada siapapun. Aku ingin melupakan semuanya meskipun itu masih sangat membekas di ingatanku. Tapi aku tahu kamu akan selalu ada disampingku dan selalu ada saat aku jatuh kejurang terdalam sekalipun seperti saat ini. Aku tahu Kamu Tulus mencintaiku. Terimakasih Karna kamu sudah memaafkan dosa aku Azka."Ucap velo Mengeluarkan sedikit beban yang ia takutkan pada azka.

Azka Mengangguk dan Mengelus rambut Velo dengan lembut. "Ya Vel. Aku Mengerti. "

-----------------------------

Nita Menyeringai sinis saat semua Anak buah azka terkelabui oleh siasatnya yang berpura-pura sebagai pelayan di rumah azka setelah Ia membuat pingsan pelayan yang membawakan nya makan siang tadi.

Ia Juga Memukul Kepala dokter frans hingga mengeluarkan banyak darah dan jatuh tak sadarkan diri dilantai dingin tempatnya terkurung selama ini, Nita melakuakan nya karna Dokter frans mencoba berteriak dan mengagalkan rencana nya untuk kabur dari penjara sialan itu.

Nita berjalan Setengah berlari kearah Belakang rumah dan berlari dengan kencang saat ia melihat jalan setapak disana dihadapannya. Ia terus berlari dengan kencang tanpa melihat kebelakang lagi tidak peduli sekalipun ia dikejar anak buah azka. yang penting ia harus terus berlari dan pergi jauh dari tempat terkutuk itu.

Akhirnya Nita bisa menemukan mobil truk yang lewat di jalan besar setelah ia berlari hampir satu jam melewati hutan. nita pun menghentikan mobil itu dan ikut menumpang untuk bisa jauh dari rumah dan kejaran Anak buah azka terlebih dahulu di belakangnya.

"Terimakasih pak sudah mengijinkan saya menumpang." Ucap nita lembut pada supir truk

"Sama-sama nak,"

Nita Menyeringai puas dengan tangan terkepal. Matanya menyorot tajam penuh dendam menatap jalanan.

Lihat pembalasan ku nanti azka.


**********************



enibahri
06-11-19

affairTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang