Mereka lagi mereka lagi

35 2 0
                                    

"Kenapa sih Gilang ngomong nya frontal gitu," ucap Ela kesal sambil meremas botol aqua yang baru saja dibelinya di kantin.

"Udah lo sabar dulu jangan marah-marah terus ah, ntar cepet tua tau rasa lo." Caca sudah lelah mendengar ocehan sahabatnya itu.

"Gue kesal sama Gi–," ucapan Ela terpotong oleh suara seseorang.

"La, gue mau ngomong berdua sama lo," sambung Gilang.

Ela pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan terlebih dahulu dan diikuti Gilang. Ternyata Ela berjalan menuju taman belakang sekolah, memang benar tempat ini jarang sekali dikunjungi oleh murid  Sma Cakrawala.

Ela duduk di salah satu bangku yang lebih tepatnya di bawah pohon mangga. Gilang pun duduk di samping Ela. Selama beberapa menit hanya terjadi keheningan. Gilang yang merasa suasana semakin awkard akhirnya angkat suara.

"La gue minta maaf," ucap nya lesu.

"Buat apa lo minta maaf sama gue?" tanya Ela dengan suara yang sudah mulai bergetar.

"Gue–" Dengan cepat Ela memotong ucapan Gilang barusan dan langsung duduk menyamping menghadap Gilang.

"Lang, lo jangan minta maaf sama gue tapi minta maaf sama Fani. G–gue nggak suka lihat lo kayak gini, sama aja ucapan lo tadi udah mematahkan hati Fani. Dan lihat saja bahkan sekarang Fani dan Anggun tidak saling tegur sapa. Lang, gue merasa sedih waktu lo bilang lo suka sama Anggun, sementara Fani udah lama suka sama lo. Sebenarnya gue nggak ada hak ngelarang lo mau milih siapa. Tapi gue nggak mau lo salah pilih," ucap Ela dengan satu tarikan nafas yang diiringi oleh air mata.

Begitu lah Ela jika sedang emosi maka Ela akan melampiaskannya dengan cara menangis. Dengan cepat Gilang membawa Ela ke dalam pelukannya. Ela pun menangis sepuasnya di pelukan Gilang. Saat dirasa sudah cukup akhirnya Gilang melepas pelukannya.

Gilang memejamkan mata dan menarik nafas nya secara perlahan, "Nanti gue minta maaf sama Fani," putusnya.

Ela tersenyum melihat sepupunya itu dan langsung memeluk Gilang sekilas.

"Ini baru sepupu gue," ucap Ela dengan senyum sumringah.

"Iya iya udah ah yuk ke kelas," ajak Gilang.

Mereka pun meninggalkan taman belakang sekolah dan berjalan menuju kelas mereka.

◼️◼️◼️

Hari ini cukup melelahkan bagi Ela. Banyak aktivitas yang dilakukan nya. Saat Ela sudah sampai rumah Ela akan memutuskan untuk memejamkan matanya sejenak. Tidak berapa lama terdengar suara ketukan pintu.

Tok... Tok... Tok...

"Ish, siapa sih ganggu aja deh," gerutunya kesal.

Ela membuka pintu dan menatap orang itu garang.

"Ganggu tau ngak!" teriak Ela di depan orang tersebut.

"Berisik lo La," balas lelaki tersebut dan langsung masuk kerumah Ela begitu saja.

Ela menggerutu tidak jelas melihat lelaki tersebut masuk begitu saja, Ela menutup pintu dengan kasar.

"Santai dong La, kalau pintunya rusak kasihan tu," ucap lelaki itu.

"Lo ngapain kesini? Gue mau tidur," seru Ela.

"Mau nemani lo La," sahut lelaki itu enteng.

"Ish, Ferdi gue udah gede ya jadi nggak perlu di temani."

"Dimata gue lo itu masih kecil. Lo udah makan belum?" tanyanya.

"Nggak tau!" Ela sungguh kesal melihat nya karena waktu istirahat nya telah di ganggu.

FELA [ON GOING]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang