Berdua Lagi?

66 5 0
                                    

Angin malam menerpa wajah cantik gadis yang sedang duduk di bangku depan villa tersebut ditemani oleh secangkir kopi dan musik closer yang mengalun merdu.

Ela gadis pecinta senja, kopi, dan keindahan alam. Dia sangat senang melihat keindahan alam yang tidak bisa di ungkapkan nya dengan kata-kata.

Bintang bertabur dengan indahnya dan cahaya bulan yang menemani malamnya. Ela tersenyum dia bahagia karena masih bisa melihat langit malam. Ela tidak pernah di izinkan keluar oleh Ozi untuk melihat langit malam karena saat Ela meminta izin untuk keluar pasti jawaban Ozi selalu sama, "Angin malam nggak baik sama kesehatan kamu, kakak nggak mau kamu sakit."
Selalu seperti itu, ah mengingat itu membuat Ela rindu kepada Ozi.

"Kak Ozi, Ela kangen kakak," gumamnya pelan. Saat sudah mengingat Ozi air mata Ela akan turun perlahan.

"Ela rindu saat malam seperti ini. Ela pengen kita kumpul lagi bercanda tawa dan berbagi cerita. Tapi semuanya tidak akan seperti dulu lagi, Mama, Papa udah pergi ninggalin Ela sama kak Ozi terlebih dahulu dan sekarang kak Ozi pergi ke negera lain untuk menempuh pendidikan. Ela sendiri lagi," ucapnya pelan dengan air mata yang terus membasahi pipinya.

Jika mengingat semua kenangan itu hati Ela rasanya sangat sakit karena kenangan yang sudah tercipta sulit untuk di lupakan.

Ferdi yang sedari tadi berdiri di belakang Ela pun memutuskan untuk duduk di hadapan Ela. Ela belum sadar bahwa ada orang di hadapan nya.

"Kenangan yang sudah berlalu biarkan saja. Cobalah untuk melupakannya. Ya gue tau pasti sangat sulit untuk melupakan. Tapi gue nggak mau lihat lo sedih terus hanya karena itu," ucap Ferdi memberi saran.

Ela menatap tepat manik mata Ferdi yang berwarna coklat. Ela dapat menangkap bahwa apa yang baru saja diucapkan Ferdi kepadanya tulus.

"Tapi gue bingung, setiap udah malam begini gue selalu ingat semuanya," ucap Ela sendu.

"Gue tau La ini berat buat lo, tapi gue nggak mau lihat lo tiap malam nangis hanya karena itu. Gue tau pagi, siang, dan sore lo selalu tertawa bahagia seolah-olah lo seperti nggak ada masalah. Jikalau malam sudah datang pasti lo menangis selalu, lo selalu terpuruk tiap malam. Pasti lo bingung kan kenapa gue tau? Gue lihat dari mata lo tiap pagi pasti selalu sembab, ya dengan pandainya lo saat mau pergi sekolah menutupi itu agar tidak ada orang yang tau kan? Beda La gue tau kalau lo saat ini sedang di fase keterpurukan hanya karena itu. La gue ada disini bersama lo, gue akan selalu cari cara agar lo bisa tersenyum bahagia tanpa adanya kesedihan. Gue tulus La menguatkan lo, gue tulus akan selalu ada di samping lo maupun lo dalam keadaan sedih bahkan bahagia sekalipun gue janji gue akan selalu ada di samping lo," ucapnya dengan tulus dan tersenyum.

"Janji." Ela mengacungkan jari kelingkingnya di depan wajah Ferdi.

"Janji," ucap Ferdi sambil menautkan kelingkingya. Ferdi melepas jarinya dan langsung memeluk Ela. Ela pun membalas pelukan itu, pelukan itu terasa sangat nyaman dan hangat untuk Ela malam ini.

"Udah dong peluknya," kekeh Ferdi sambil mengacak rambut Ela gemas.

"Nyaman," balas Ela sambil tertunduk malu.

"Haha, udah yuk masuk udah malem," ucap Ferdi sambil menarik tangan Ela pelan.

Ferdi mengantar Ela ke kamar yang di tempatinya.
"Udah sana tidur jangan nangis lagi, gue nggak mau lihat mata indah lo sembab besok pagi," serunya sambil menarik hidung Ela pelan.

"Iya-iya bawel deh."

"Good night baby," ucap Ferdi sambil mencium singkat pucuk kepala Ela.

"Ih udah deh, Ela mau tidur. Sampai ketemu besok pagi," ucap Ela sambil menutup pintu dan menuju tempat tidurnya.

FELA [ON GOING]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang