Kaget

64 10 0
                                    

Maafkan saya jika banyak typo:)

"Lo?" kagetnya.

"Iya gue kenapa?" tanya Ferdi.

"Kok lo bisa disini?"

"Ya bisalah, jelas ini rumah gue. Gila kali lo ya," ucapnya. Ela yang tau akan fakta itu langsung menoleh ke arah kakaknya untuk meminta penjelasan.

"Iya, ntar gue jelasin di rumah." Seakan mengerti dengan apa yang ada di pikiran Ela.

"Eh, makan dulu, yuk dari tadi ngobrol mulu," ucap Rina.

Setelah itu mereka pun mengambil makanan yang telah tersedia di meja dan langsung memakan nya. Saat sudah selesai makan, Ela membantu Rina membawa piring makan yang kotor itu ke dapur. Saat ini mereka semua sudah berada di ruang tamu.

Ela yang baru selesai dari dapur langsung di panggil untuk duduk bersama mereka. "Ela, sini sayang," panggil Rina.

"Iya, Tan," jawab nya sambil duduk di samping Ozi.

"Hmm, kamu sekolahnya sama seperti Ferdi, kan?" tanya Rina.

"Iya Tan," balas nya.

"Ferdi kalau di sekolah gimana, sih Ela?" Rina sangat penasaran bagaimana sifat putra nya ini di sekolah.

"Ma." Ferdi terlihat tidak suka jika Mamanya itu sudah di landa dengan kekepoan kuadrat.

"Sst, kamu diam aja. Mama cuman pengen tahu. Gimana La ayo dong kasih tahu tante," ucap Mamanya dengan semangat yang berkobar.

"Emm, gimana ya, Tan. Ferdi itu di sekolah ya gitu...." Ela menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.

"Gimana cepetan dong sayang kasih tahu tante," katanya.

"Ya gitu deh Tan kalau di sekolah Ferdi orang nya dingin banget, terus kalau di ajak ngomong jawabannya singkat padat jelas dan mudah di pahami cuek sama sekitarnya. Nah, yang satu ini pasti tante kaget dengarnya karena Ferdi di sekolah ngak pernah senyum sama sekali." Ela terlihat puas setelah apa yang baru di katakannnya.

Ya gimana kagak puas, Ela udah panjang kali lebar ngomongnya lah di jawab singkat sama Ferdi, Ela kesal dong pemirsa!😁

"Ha? Kamu serius, La Ferdi ngak pernah senyum di sekolah?" Rina terlihat tidak percaya akan apa yang di ucapkan Ela pada kalimat terakhir.

"Iya tante, buat apa sih Ela bohong," balasnya.

"Ma, udah deh jangan banyak tanya." Terlihat sekali bahwa Ferdi ingin mencegah supaya Mama nya itu tidak bertanya hal aneh lagi.

"Kasih Mama alasan mengapa kamu tidak pernah senyum di sekolah," katanya.

"Kepo deh, Ma. Udah gini aja alasan Mama ngundang kak Ozi sama Ela kesini apa?" tanyanya mengahlikan pembicaraan.

"Oh iya, Mama lupa." Sambil menepuk keningnya pelan.

"Buruan Ma kasih tau," lanjut Dava.

"Nah, gini La kamu kan tau kalau kakak kamu itu dapat beasiswa kuliah di Amerika. Jadi, sudah bisa dipastikan kalau kakak kamu tidak akan bisa menghabiskan waktu bersama kamu lagi. Oleh karena itu kakak kamu minta tolong sama tante supaya beberapa hari kedepan kamu tinggal bersama tante dulu," jelasnya dengan raut wajah yang sedih.

Ela yang mendengar itu langsung menoleh kepada kakak nya dengan mata yang sudah berkaca-kaca bisa di pastikan jika dia berkedip air mata itu akan meluncur dengan bebasnya.

"I–itu ngak bener kan kak?"

"Maaf ya, La kakak ngak ada cerita sama kamu kalau kakak dapat beasiswa di Amerika. Sebenarnya kakak sudah memikirikan nya matang-matang karena kakak berpikir kesempatan seperti ini datangnya hanya sekali. Oleh karena itu, kakak juga bingung mau nitipin kamu sama siapa kakak juga ngak tega ninggalin kamu sendirian dikota besar ini, terus kakak teringat sama tante Rina jadi kakak minta tolong sama tante Rina supaya kamu bersama mereka dulu selama kakak kuliah." Saat mengatakan itu suara Ozi terdengar bergetar.

Setelah Ozi menyelesaikan ucapannya Ela langsung berhambur kepelukannya dan menangis pilu di dekapan Ozi.

"Ela, kamu mau kan tinggal sama tante untuk sementara?" tanya Rina memastikan.

Ela melepas pelukannya dan menyeka air matanya, setelah itu dia menatap Rina dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.

"Maaf tante untuk saat ini atau beberapa bulan kedepan Ela mau tinggal sendiri dulu," ucapnya diiringi dengan air matanya yang kembali terjatuh.

"Tap–"

"Pliss kak Ela mohon kali ini aja," ucapnya dengan suara serak.

Ozi menarik nafas nya dalam dan membuangnya secara perlahan, "Oke, tapi kalau kamu butuh sesuatu kamu bilang ke tante Rina, ya?"

"Iya kak," balasnya.

Setelah itu mereka kembali mengobrol dan bercanda tawa seolah-olah tidak ada waktu untuk tertawa lagi. Karena sudah larut malam akhirnya Ela dan Ozi pamit untuk pulang.

"Tan, kita pamit pulang ya soalnya udah malem Ela juga besok sekolah." Ozi meminta izin.

"Ya sudah kalau begitu. Kalian hati-hati ya," serunya.

Sebelum Ela dan Ozi beranjak dari tempat itu tiba-tiba Rina memeluk Ela dengan sayang.

"Ela, nanti kalau kamu butuh sesuatu kamu bisa datang ke rumah tante ya," ucapnya.

Ela hanya mengangguk di dalam pelukan Rina, tidak lama setelah itu Rina melepas pelukannya dan mencium pipi Ela sekilas. Ela yang di perlakukan seperti itu hanya bisa tersenyum bahagia.

"Yaudah pulang gih, ntar makin malem lagi," katanya sambil mendorong Ela dan Ozi pelan menuju mobilnya.

"Iya tan kita pamit ya," seru Ozi setelah masuk kedalam mobilnya.

"Iya hati-hati jangan ngebut." Rina memperingati Ozi dengan mata melotot Ozi yang melihat itu hanya tersenyum dan mengangguk.

"Siap buk bos." Sambil meletakkan tangannya membentuk hormat.

"Iya udah sana pergi," usirnya dengan halus.

"Haha tante ngusir kita secara halus nih ceritanya? Ya udah kalau gitu kita pamit, sampai bertemu besok tan." Ozi membawa mobilnya keluar dari pekarangan rumah Rina.

Ela hanya melambaikan tangganya kepada mereka dan tersenyum manis, Ferdi yang melihat itu hanya membalas dengan senyum tipis.

"Senyum lo mengubah segalanya yang ada didalam diri gue La" batinnya.

Tbc...

FELA [ON GOING]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang