Di sinilah aku sekarang. Sebuah kampung kecil yang jauh dari hingar bingar kehidupan kota. Berada di kaki gunung dengan barisan bukit yang indah. Sejauh mata memandang, di lereng-lerengnya kabut berarak bagai kapas yang dihamburkan. Di bawahnya, air sungai jernih mengalir sedingin es balok. Udaranya pun segar, sangat bersahabat dengan paru-paruku yang sudah lama menghirup polusi ibu kota.
Aku harus belajar beradaptasi lagi dengan tempat ini. Berpikir apa yang bisa kulakukan sebagai pensiunan artis di kota sekecil ini.
Untungnya, sewaktu masih menghasilkan banyak uang, tak lupa selalu kukirimkan kepada Ibu. Aku memintanya berhenti jualan di pasar. Ibu menggunakan uang yang kuberi dengan membangun toko kelontong mirip minimarket di kota besar. Ibu juga merenovasi rumah. Membuatku sangat nyaman untuk menempatinya.
"Ini semua untukmu, Nak. Ada beberapa yang Ibu simpan dalam bentuk perhiasan dan beberapa lahan tanah."
Aku merasa malu pada Ibu. Ternyata dia sangat memikirkan masa depan anaknya. Dia tahu, tak selamanya aku bisa menjadi artis yang menghasilkan. Aku memeluk Ibu erat. Beruntung sekali aku memilikinya.
"Terima kasih, Bu. Mulai saat ini aku akan jadi Flory anak Ibu. Aku mungkin tidak akan menjadi artis lagi."
Kami bercengkrama di ruang depan sebelum tidur. Ibu menyambut kedatanganku dengan suka cita. Memasakan makanan enak favoritku.
"Berhentilah kalau kau tak mau lagi. Ibu pun lebih senang kamu di sini. Menemani masa tua Ibu."
Untuk kesekian kali, aku memeluknya. Menghirup aroma tubuh perempuan yang telah banyak berkorban untukku.
Ibu menyuruh istirahat. Perjalanan yang melelahkan membuatku nyaman berbaring di ranjang yang sudah lama kutinggalkan. Ibu memperluas kamar, tapi tak membuang barang apa pun yang sebelumnya ada di tempat itu.
Aku duduk menjuntai kaki di tepi ranjang. Merenungi jalan hidup yang harus kulalui. Aku memang pernah mendapat banyak limpahan materi dari dunia hiburan. Selain itu, aku pun mendapatkan nama besar. Mempunyai fans, dipuja, dan dikenal banyak orang.
Namun, bahagiakah aku selama ini?
Yang kurasakan uangku selalu habis entah ke mana. Tuntutan gaya hidup yang besar membuat penghasilan selalu kurang. Aku pun sering merasa khawatir. Dengan saingan baru, berkurangnya tawaran pekerjaan, gosip-gosip, dan hal lain yang kadang membuat pikiran menyempit. Dunia hiburan mempunyai sisi lain yang membuat seorang artis rawan stres dan hidup penuh tekanan.
Rasanya selama ini, jarang sekali hatiku merasa nyaman. Ketenangan jiwa adalah sebuah barang mahal. Itulah kenapa banyak teman artis yang terjerat narkoba.
Aku sempat tersentak ketika Ibu mengetuk pintu kamar dan memanggilku. Membuyarkan lamunan dalam beberapa ketukan pintu.
"Sudah shalat Isya, Flo?" Ibu mengingatkan dari balik pintu.
"Belum, Bu," jawabku singkat.
"Shalat dulu sebelum tidur. Jangan sampai kebablasan," ingat Ibu lagi.
Tak terdengar lagi suara Ibu. Mungkin Ibu sudah kembali ke kamarnya.
Sejenak aku mengingat perintah shalat yang selalu dilakukan Ibu. Dia adalah yang paling cerewet kalau urusan shalat.
Ibu tak tahu kalau selama ini aku hanya shalat seingat dan sesempatku. Kalau sedang nanggung syuting atau ada acara penting pada waktu shalat, aku seringkali melewatinya.
Awalnya aku merasa risih. Tak enak meninggalkan shalat, tapi lama-lama akhirnya terbiasa. Toh banyak rekan pekerja hiburan yang juga tak shalat sepertiku.

KAMU SEDANG MEMBACA
Untuk Sebuah Nama (Lengkap)
RomanceFlo dipertemukan kembali dengan Hamish pada saat karier keartisannya tengah terpuruk. Lelaki yang pernah menjadi teman SMA-nya itu sangat berbeda dengan yanga ia kenal dahulu. Namun, siapa sangka pertemuan itu justru membawanya kepada jalan baru yan...