07 | Seventh Dream : Stuck In The Forest

724 148 65
                                        

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku pelan begitu mendengar ringtone alarm handphoneku. Aku meraba nakas yang berada di sampingku, tak kunjung mendapatkan handphoneku, aku mulai meregangkan otot-ototku dan berusaha untuk duduk di atas kasur.

Ah, aku melupakan satu fakta. Bahwa sekarang aku sedang menginap di rumah nenek, otomatis ini bukan kamarku.

Aku pun berjalan menghampiri handphoneku yang masih setia berbunyi di atas meja rias kamar ini. Setelah mematikan alarmnya, aku putuskan untuk berjalan-jalan di sekitar rumah.

Ruang keluarga rumah nenek terasa begitu mistis, dikarenakan ruangannya yang minim cahaya dan suasananya yang begitu sepi. Kuraba stopkontak di sekitar dinding untuk menyalakan lampu ruang keluarga.

KLIK!

Ruang keluarga kini terasa terang karena lampu dalam ruangan ini sudah dinyalakan. Sayangnya, bukan aku yang menyalakan lampunya.

Aku menoleh ke belakang was-was, dan kudapati Tante Meli yang sedang menyalakan lampu di ujung sana.

"Eh Kak Alana, udah bangun aja pagi-pagi begini".

"Iya tante," ujarku sambil mengulas senyum tipis.

"Tante tinggal dulu ya, mau bantu bibi (pembantu yang kerja di rumah nenek) buat masak sarapan,"

Aku mengangguk, lalu tante pergi menuju dapur. Aku memilih mengitari ruang keluarga yang terdapat banyak sekali foto-foto dan lukisan.

PUK!

Sekali lagi aku dibuat kaget karena tepukan di pundakku dari belakang. Aku menghela napas begitu melihat ternyata bunda yang menepuk pundakku.

"Kamu lagi ngapain? Mau bantu bunda buat sarapan?"

Aku mengangguk, karena aku memang tidak ada kerjaan saat ini. Aku mengikuti langkah bunda menuju dapur untuk membuat sarapan, yaitu nasi goreng. Kuharap rasanya akan enak.

"Nasi gorengnya enak!"

Aku tersenyum bangga saat mendengar pujian itu terlontar dari bibir mungil Shasa.

"Iya dong, kak Alana yang buat," ucapku dengan senyum kebanggaanku.

"Masih dibantu sama Umi (Tante Meli), Tante Diva (bunda Alana) , dan Bibi aja udah sombong," cibir Bang Fakhri.

Aku tersenyum masam. Ingin rasanya kutarik-tarik mulutnya agar ia tidak bisa ngomong lagi.

"Kaka habwis ini mou main ama Meong ga?" (Kakak habis ini mau main sama Meong gak?) tanya Shasa dengan mulutnya yang penuh nasi.

"Jangan sayang, kan kemarin Kak Alana baru kecakar Meong," ujar Tante Meli.

"Yaaahh ...." Bibir Shasa ia majukan ke depan, membuatku gemas sendiri.

"Ga apa-apa tan, waktu itu aku emang lagi jail gara-gara gemes sendiri liat Meong. Nanti aku bakal hati-hati biar gak kecakar lagi kok," ucapku.

Shasa kemudian menatap Tante Meli lalu menatapku, kemudian kembali menatap Tante Meli dengan wajah memelas.

"Yaudah, tapi jangan sampai kecakar Meong lagi ya!" ujar Tante Meli.

Aku mengangguk lalu melempar senyum ke Shasa, yang dibalas dengan senyum lebarnya yang begitu menggemaskan.

Sejak kemarin sore saat aku dicakar, Tente Meli jadi melarangku mendekati Meong. Meski begitu aku tetap berusaha mendekatinya karena rasa penasaranku yang tinggi saat melihat warna matanya yang berubah merah saat itu.

Aku selalu berharap aku bisa melihat warna mata kucing itu yang berubah menjadi merah lagi. Sayangnya dari kemarin hal itu belum terjadi lagi hingga sekarang.

Alana : That Dream Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang