14 | Fourteenth Dream : Something Strange

548 115 17
                                        

Aku bangun dengan keadaan tubuh yang pegal-pegal. Memang tidur di atas tanah yang tidak rata dengan hanya beralaskan kain tipis tidak senyaman tidur di kasur kesayanganku yang berada di kamarku.

Ya ... aku rindu rumah. Selalu. Dan rumah selalu menjadi tujuanku.

Aku berjalan sembari menenteng kain putih yang sudah dilipat, yang menjadi alas tidurku tadi. Setelah memberikannya kepada salah satu prajurit, aku berjalan untuk mengambil air minum ke prajurit yang sudah ditugaskan menjadi pembawa air minum selama perjalan, karena air persediaanku sudah habis.

Aku duduk di atas salah satu batu sambil meneguk air. Pemandangan air terjun indah menambah kenikmatan air yang sedang kuminum. Tiba-tiba seseorang duduk di batu sampingku. Aku mengelap area bibirku begitu menyelesaikan tegukanku dan menoleh untuk mengecek siapa orang itu.

Pria berkemeja putih polos dengan rambut cokelat hazel berterbangan tertiup angin tengah menatapku lurus dengan matanya yang berwarna biru langit, membuat jantungku tanpa sadar berdetak lebih cepat tanpa alasan yang jelas.

"Kita akan berjalan mengelilingi danau ini, tujuan kita ada di seberang danau," ucap pangeran sambil menunjuk seberang danau dengan sebelah tangannya.

Aku mengalihkan pandanganku begitu sadar aku telah menatap mata birunya begitu lama, dan mengikuti arah yang ditunjuk sang pangeran.

Bukankah danau ini terlalu luas untuk dikelilingi?

Apa tidak ada semacam jembatan atau perahu?

Seperti mengetahui isi pikiranku, pangeran berucap lagi sambil menggeleng "Tidak ada jalan pintas untuk kesana."

Aku mengerutkan alisku. Entah butuh berapa lama lagi untuk sampai ke Kerajaan Westernity. Tiba-tiba aku teringat oleh pertanyaanku dulu yang membuatku penasaran tapi selalu lupa untuk kutanyakan.

"Jarak dari Desa Faraway ke Kerajaan Westernity bukankah sangat jauh. Apa yang mulia pangeran lakukan hingga sampai ke Desa Faraway, bahkan rela melewati hutan terlarang?"

"Ada tugas yang harus kulakukan," ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya dari seberang danau yang menjadi tujuan perjalanan ini. Aku memandangnya penasaran. Seberapa pentingkah tugas itu?

"Kau tidak perlu tahu."

Ah sepertinya aku memang terlalu banyak ikut campur. Bukankah aku hanya harus ke Kerajaan Westernity lalu menyelinap pergi ke ruang penyihir kerajaan diam-diam untuk meminta mantra sihir agar aku bisa kembali ke Bumi?

Aku pun pamit pergi daripada kecanggungan itu menguasai aku dan pangeran begitu lama. Kuputuskan untuk berjalan-jalan di sekitar hutan setelah merapihkan bawaanku. Aku masih berharap aku menemukan jejak serigala atau apapun itu, tapi yang kudapatkan nihil.

Tak lama pasukan pangeran bergerak ke arah Barat dengan terus berjalan di daerah pinggiran danau. Aku menunggangi kuda sambil memakan buah semacam apel di bumi tapi dengan warna merah yang lebih muda dan rasa yang seperti apel tapi jauh lebih enak, aku jamin itu.

Tak terasa matahari sudah berada tepat di atas kepala, tapi kami tetap melanjutkan perjalanan. Aku menatap danau ini yang tidak ada ujungnya. Sepertinya kami benar-benar akan memakan waktu cukup banyak.

"Yang Mulia kira-kira berapa waktu yang akan kita tempuh untuk mengelilingi setengah danau ini?" tanyaku sambil menoleh ke Pangeran yang berada di belakangku.

"Setidaknya 2 hari 1 malam," jawab sang Pangeran. Aku menghela napas untuk kesekian kalinya. Aku harus sabar ....

Akhirnya setelah beberapa jam kemudian, kami pun beristirahat di pinggiran danau. ena tampaknya kuda yang ditunggangiku dan Pangeran sudah lelah.

Alana : That Dream Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang