22 | Twenty-second Dream : Time Travel

436 94 56
                                        

"Baiklah, ayo kita lakukan sekarang!"

"Apakah kau ingat itu tanggal berapa?" tanyaku.

"28 September 1983, itu hari di mana kau menghancurkan tempat tinggalku," jawab Elysian.

Aku mengangguk, "Kalau begitu kita ke 25 September 1983 agar bisa menghentikannya," putusku.

Pangeran Alex dan Elysian mengangguk. Kita bertiga berdiri membentuk lingkaran, saling berpegangan tangan. Aku memejamkan kedua mataku, memfokuskan seluruh pikiranku dan kekuatanku untuk kembali ke tanggal 25 September 1983.

Suhu di dalam penjara perlahan menjadi dingin. Kerlap-kerlip cahaya beterbangan mengelilingi kami membentuk pusaran angin.

"Aarrrghhh ...!" Aku berteriak.

Pikiranku terasa berputar. Rasanya sangat sakit, seperti ada ribuan jarum yang menembus kepalaku.
Kemudian tubuhku ambruk begitu saja. Tak sadarkan diri.

"Farr ...."

"Farr ... rahh ...."

Seseorang terus memanggil namaku. Aku membuka mataku susah payah, melawan rasa pusing yang teramat sangat di kepalaku. Aku terbatuk-batuk dan mencoba untuk duduk dibantu Pangeran Alex.

"Apa yang terjadi? Apakah kita berhasil?" tanyaku sambil setia memegangi kepalaku yang masih pusing.

"Ya sepertinya begitu," sahut Elysian di sampingku.

"Lihat!" tunjuk Elysian ke salah satu bendera yang tergantung di tiang dengan lambang mahkota emas dan dua pedang yang bersilangan. "Itu lambang kerajaan Westerniry saat tahun 1980 - 1990."

Aku dan Pangeran Alex ikut melihat ke tiang tinggi dengan bendera lambang Kerajaan Westerniry yang berkibar di udara.

"Hmm ... kau benar," ujar Pangeran Alex sambil membantuku berdiri.

Aku melihat ke sekitar. Pepohonan menjulang tinggi di atas, dari celah-celah pohon terlihat Kerajaan Westerniry yang berdiri kokoh dengan tiang-tiang yang tergantung bendera lambang kerajaan.

"Sebaiknya kita tanya ke salah satu warga untuk memastikan kita berada di hari apa," usul Elysian.

Aku mengangguk dan mengikuti langkahnya keluar hutan. Dengung keramaian menyapa telingaku. Orang-orang berlalu lalang sesekali menyapa satu-dua orang. Ekor mataku tak sengaja menangkap sebuah toko kecil di pinggiran jalan yang menjual sebuah jubah dengan berbagai macam warna.

"Sebentar ya."

Lalu dalam sekejap aku berteleportasi ke toko itu. Aku mengambil 3 jubah yang terdekat dari tempatku dan berteleportasi kembali, muncul di antara Pangeran Alex dan Elysian tanpa sepengetahuan orang lain.

"Apa yang kau lakukan?" bisik Pangeran Alex.

"Meminjam beberapa jubah," jawabku sambil tersenyum kecil.

Aku menyerahkan dua buah jubah berwarna biru dongker dan tosca, lalu mengambil jubah merah untuk kupakai.

"Aku tosca," Elysian langsung menyambar duluan sebelum Pangeran Alex mengambilnya.

Pangeran Alex menghela napas kesal dan terpaksa memakai jubah berwarna biru dongker. Sementara aku sibuk memperhatikan jubah merah yang telah kupakai. Seperti red riding hood saja, pikirku sambil terkekeh kecil.

"Permisi Bu," sapa Elysian ramah.

Ibu itu menoleh dan tersenyum sambil membawa sekeranjang penuh buah, "Iya, ada apa ya?"

"Maaf, aku hanya ingin bertanya hari ini tanggal berapa ya? Aku lupa melihat kalender tadi," terang Elysian.

Ibu itu tertawa dan berkata, "Hari ini hari Rabu tanggal 28 September 1983."

Alana : That Dream Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang