24 | Twenty-fourth Dream : Magical Forest Tragedy (2)

441 89 39
                                        

Malam ini, suasana haru melingkupi seluruh Hutan Magis. Para penghuni hutan tengah berkabung mengenai keluarga, kerabat, dan saudara seperjuangan mereka yang telah gugur hari ini.

Mereka semua berkumpul di pinggir Hutan Magis, masing-masing memegang lentera kuning berbentuk bunga lalu menerbangkannya ke atas, begitupun denganku. Langit Hutan Magis yang berkabut tampak terang saat perlahan-lahan lentera bunga terbang menembus lapisan kabut satu demi satu.

Setelah para penghuni hutan yang gugur dimakamkan dengan cara dibakar lalu dihanyutkan di laut. Para penghuni hutan yang tersisa bahu-membahu memperbaiki Hutan Magis yang rusak karena kejadian tadi sore. Butuh beberapa jam agar Hutan Magis bisa pulih seperti sedia kala. Kami juga ikut membantu memulihkan kondisi Hutan Magis, tapi ada satu yang tidak bisa diperbaiki.

Rasa trauma yang melekat pada setiap orang, terutama untuk anak kecil yang tidak tau apa-apa. Selain itu kabut di Hutan Magis semakin tebal, kami semua menyadarinya saat berusaha keluar dari Hutan Magis. Butuh beberapa menit lebih lama agar kami bisa menembus lapisan kabut Hutan Magis, mungkin karena itu namanya berganti menjadi Mist Island atau Pulau Kabut.

Aku duduk beristirahat sejenak di salah satu kursi kayu, tenagaku terkuras banyak setelah membantu memperbaiki beberapa rumah peri hutan dan kurcaci yang terdapat di dalam batang pohon-pohon raksasa.
Aku menjentikkan jariku, dan angin sepoi-sepoi langsung meniup lembut permukaan kulitku seperti yang kubayangkan.

Mataku menjelajahi Hutan Magis yang ramai dengan para mahluk penghuni hutan yang terdiri dari para peri hutan, elf, kurcaci, dan mahluk lainnya yang tidak kutahu berlalu lalang. Rumah-rumah mereka tampak lucu, beberapa ada yang membuatnya di dalam batang pohon, beberapa membuatnya di atas dahan pohon.

"Sendiri?" tanya seorang gadis yang baru saja duduk di sampingku. Mataku menangkap sepasang sayap dari punggungnya. Aahh ... ternyata ia peri hutan.

"Aku sudah melihatnya, kau melawan penyihir jahat itu, benar-benar keren," ujar gadis di sampingku.

Aku tersenyum tipis. Tidak tahu harus menjawab apa, pasalnya melawan diriku di masa lalu yang berbuat jahat sama sekali tidak keren.

Gadis itu menggerakkan kepalanya ke samping, agar bisa menatap wajahku lebih jelas, "Kau ... sedih ya?"

"Aku tahu bahwa kejadian tadi itu benar-benar menyedihkan, pasti menyisakan trauma yang dalam untuk kita semua, apalagi banyak sekali para penghuni hutan yang gugur. Apa ada keluargamu yang gugur juga?" tanyanya. Aku menggeleng, bukan itu alasan wajahku murung sedari tadi.

Ia menepuk-nepuk punggungku pelan, "Aku tahu, kau mungkin sedih dan menyalahkan dirimu tidak berguna karena tak berhasil menyelamatkan orang-orang yang kau sayangi, tapi kau bisa mengubahnya dengan mulai melakukan sesuatu yang berguna untuk orang-orang yang kau sayangi sekarang, ya kan?"

Aku tersenyum tulus kepadanya. Ucapannya benar, ia telah berhasil memberikan secercah harapan kepadaku yang tadi sempat padam.

"Terimakasih," ucapku tulus. Gadis berambut cokelat sebahu itu terkekeh pelan mengulurkan tangannya, "Hayla."

Aku balas tersenyum dan menyambut uluran tangannya, "Aa—Farah." Astaga ... aku hampir saja menyebutkan nama asliku. Jika ia tahu bahwa namaku sama dengan penyihir jahat itu bisa gawat.

"Farah? Nama yang unik untuk kaum para peri, kau dari kaum mana?" tanyanya.

Aku terdiam, tak tahu harus menjawab apa. "A-aku ...."

"Faraaahh ...."

Aku langsung menoleh ke arah sumber suara itu. Pangeran Alex sedang berjalan ke arahku sambil melambai-lambaikan tangannya. Pas sekali!

Alana : That Dream Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang