Aku membuka kedua mataku, dengan napas terengah-engah dan keringat yang membanjiri pelipisku. Kusapu pandanganku, langit masih gelap dengan beberapa prajurit yang sedang beristirahat di dekat pohon dan beberapa yang lain sedang berjaga-jaga. Ternyata tadi aku tertidur di samping kudaku setelah memikirkan banyak hal.
Syukurlah tadi itu hanya mimpi buruk.
Aku bangkit dari tempatku dan berjalan-jalan di sekitar tempat peristirahatan, mencari udara segar untuk menenangkan pikiranku yang sempat kacau. Aku teringat oleh mimpi burukku, untuk berjaga-jaga aku mencoba menyapa salah satu prajurit yang sedang berjaga.
"Permisi," sapaku.
"Ah iya ada yang bisa dibantu?" tanyanya. Diam-diam aku bernapas lega bahwa ia bukan mayat yang mungkin bangun kembali dan berubah menjadi zombie.
"Kalo mau ambil air minum dimana ya?" tanyaku.
"Ah di dekat api unggun situ ada botol besar berwarna putih isinya air, itu bisa kamu pakai," ucapnya sambil mengarahkan tangannya.
"Ah iya, terimakasih." Aku langsung bergegas pergi menuju tempat yang tadi diarahkan si prajurit, walaupun aku tidak berniat untuk mengambil minum.
Udara dingin menyeruak membuatku sedikit menggigil. Aku pun berjalan ke api unggun untuk menghangatkan diriku di situ. Sepertinya ada seseorang yang menghangatkan diri juga di sana. Aku menghentikan langkahku saat menyadari siluet orang yang sedang duduk di dekat api unggun itu adalah sang Pangeran. Tak mau mengganggunya aku duduk agak jauh dari tempatnya.
Kudekatan telapak tanganku ke dekat api unggun, rasa hangat menyeruak masuk menyentuh kulitku, membuat pikiranku tenang. Beberapa kali kuusapkan telapak tanganku lalu kutempelkan ke kedua pipiku. Walaupun begitu suasana akward yang menyelimutiku dan pangeran membuatku tidak nyaman, tapi sepertinya pangeran tidak peduli.
Baiklah, aku juga tidak peduli! batinku berseru.
"Alexandre Manuferion, itu namaku." ujar pangeran tiba-tiba.
"Kau bisa memanggilku Alex," sambungnya sambil menoleh ke arahku.
Aku tersenyum kikuk, "Bagaimana bisa aku memanggil yang mulia seperti itu," ucapku.
"Ibuku memberi nama itu dengan harapan bahwa aku bisa menolong dan melindungi kaumku," ujar sang Pangeran, "Tapi bagaimana bisa aku melindungi kaumku setelah melihat ayahku saja hampir mati karena ulah penyihir itu."
Kulihat lekuk wajah sang Pangeran Alex dari samping yang begitu menawan sedang menatap ke depan dengan sorot mata sendu.
"Kau tahu, sudah lama aku ingin bertemu denganmu," ungkap Pangeran Alex.
"Bertemu denganku?" tanyaku sambil menunjuk diriku sendiri. Pangeran Alex menoleh ke arahku sambil tersenyum tipis. Kemudian ia menyampirkan jubahnya di tubuhku.
Hangat. batinku
"Dulu ada ramalan yang menyebutkan bahwa peri hutan akan muncul bersamaan dengan sang penyihir, lalu peri hutan akan membunuh sang penyihir dan melindungi dunia ini," ucap Pangeran Alex.
Hahaha ... aku mendengarnya lagi ....
Tidakkah ia tahu bahwa ramalan itu membebaniku!!
"Saat itu penyihir pernah membantai habis kerajaan ini, bahkan ayahku hampir meninggal di tangannya karena tak ada yang sanggup melawannya. Maka dari itu aku sangat bersyukur bisa bertemu denganmu ...." jelas Pangeran Alex. Perasaan tak enak menghinggapi hatiku.
"Kenapa yang mulia menceritakannya kepadaku?" tanyaku.
Hening. Aku diam-diam merutuki mulutku yang sembarangan bertanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alana : That Dream
Fantasy[ Fantasy-mystery & (Minor) Romance ] [ Chapter Completed ] Alana hanya gadis manis yang tidak bisa mengingat mimpinya, hingga suatu kejadian aneh merubah hidupnya dalam sekali kedipan mata. Alana terperangkap dalam dunia mimpinya yang penuh misteri...
