Yatuhan. Sadarkan Irene kalau saat ini dadanya sudah berdebar, Tuan Song Mino yang notabene sudah memiliki kuasa penuh akan dirinya kini berjalan dengan santainya dengan jemari yang erat menggenggam nya. Perlahan Irene menunduk menatap genggaman Mino yang kukuh. Jemarinya yang panjang menutupi seluruh jemari tangannya yang mungil.
Tapi Irene senang. Ia bahkan sudah mengulas senyuman kecil diujung bibirnya. Langkah pelan mereka terhenti saat sebuah mobil hitam berhenti didepan keduanya. Supir asing dengan baret kecokelatan tampak melambaikan tangannya kearah Mino yang langsung menarik Irene menuju kearahnya.
"Good afternoon Sir ... Apa aku terlambat?" Sapa nya dengan aksen inggris yang kaku. Mino menggelengkan kepalanya dan menyeringai.
"No Alfred, kami baru saja sampai"
Pria tua yang dipanggil Alfred itu mengangguk dan buru-buru turun dari mobilnya mengangsurkan tangannya kearah Mino yang langsung disambut.
"Woah, dia rupawan" Lirik Alfred yang membuat Irene mengulas senyum. Mino buru-buru melepas jemarinya dan gantian merangkul bahu kecil Irene.
"Absolutely" Sahut Mino seduktif. Irene mendengus mendengarnya, setelah membantu Mino menaikkan dua koper pria tua itu beringsut naik kembali ke kursi bagian depan membiarkan kedua pasang suami istri itu duduk dibelakangnya.
"Ingin jalan-jalan dulu atau bagaimana?" Tanya nya dibalik kursi, ia mendongak menatap lewat kaca kecil yang tergantung sementara Mino kemudian melirik kearah istrinya.
"Mau jalan-jalan atau?" Tanya Mino menggantung kalimatnya. Alfred dan Mino serempak menoleh kearah Irene yang kemudian mengedikkan bahunya. "Hm.. Bagaimana kalau kita istirahat dulu?"
Jawaban Irene membuat Mino mengulas senyumnya. Pria tampan itu menoleh kearah Alfred memberi tanda kalau mereka hanya ingin langsung pulang.
***
Lucerne, Switzerland
Butuh beberapa jam untuk sampai ke tempat ini, tapi karena Alfred benar-benar menguasai medan perjalanan jalanan yang naik turun mengikuti kontur perbukitan membuat Irene tidak merasakan apapun. Ia hanya duduk dengan tangan Mino yang terus menerus meraih jemarinya, memainkan kelingking dan jari mungilnya. Lucerne sudah memasuki akhir musim panas. Tempat yang indah, dibalut kukuhnya gunung Chalet dan Alpen hijaunya pohon anggur dan oak yang berbaris semakin menambah pesona keindahan tempat ini.
Saat matahari perlahan tenggelam dibalik peraduan mobil itu berbelok masuk kesebuah jalanan dan menanjak memasuki jalanan aspal menuju sebuah mansion.
Mino yang sudah menjadikan kedua pahanya sebagai sandaran kepala istrinya perlahan mengurai senyumnya. Membelai pipi Irene perlahan mencoba membangunkan tanpa membuat perempuan itu terganggu.
"Hmm.."
"Bangun yu"
"Udah sampe?"
"Hmm" Bisik Mino pelan. Irene mengerjapkan kedua matanya dan mengangkat kepalanya dari paha Mino.
"Chalet??"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.